Debat Perdana, MA Bagai Penyerang, Eri Defensif

Sorotan Wartawan Muda, Raditya Mohammar Khadaffi

 

Sorotan “Kebaikan” Risma yang Diusung Paslon Eri-Armuji (6)

 

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Debat publik pilkada Surabaya pertama minggu lalu, meninggalkan kesan bagi warga kota Surabaya. Terutama yang menjadi pemirsa TV lokal, termasuk saya.

Kesan bagi masing-masing pendukung paslon, bisa berbeda. Tim sukses tiap-tiap paslon wajar menilai calonnya adalah yang terbaik tampil berdebat di depan kamera TV.

Saya yang jurnalis muda warga Surabaya, punya catatan sendiri. Meski bisa dianggap subyektif oleh kedua paslon dan tim sukses serta pendukungnya.

Bagi seorang jurnalis debat publik pilkada adalah debat pasangan calon kepala daerah untuk menyebarluaskan profil, visi dan misi serta program kerjanya yang akan datang kepada masyarakat. Bukan cerita masa lalu mantan pimpinannya.

Maklum, terselenggaranya debat yang disiarkan melalui stasiun TV, diharapkan posisi kebijakan pasangan calon akan dapat dielaborasi lebih dalam dan luas atas setiap tema yang didiskusikan.

Bagi jurnalis, debat memiliki beberapa manfaat bagi publik antara lain menguji kemampuan dan kualitas diri. Terutama sejauh mana paslon menguasai persoalan daerah yang akan dipimpinnya. Sekaligus menawarkan solusi atas persoalan yang ada. Debat  menjadi semisal ujian akademik bagi calon pemimpin daerah.

Dalam pandangan saya, debat juga untuk menujukkan integritas dan komitman atau tekad membangun daerah. integritas, komitmen dan tekadnya dapat ditunjukkan oleh yang bersangkutan kepada publik.

Juga acapkali dalam debat, publik, terutama kelas menengah bisa menilai kemampuan berkomunikasi masing-masing paslon. Mana paslon yang terbiasa dengan kritik. Pendeknya, debat menjadi tempat menunjukkan kemampuan komunikasi paslon. Debat publik kemarin publik bisa menyerap siapa diantara MA – Mujiaman dan Eri – Armuji, calon kepala daerah yang cerdas dalam berkomunikasi dengan rakyatnya. Cerdas menyampaikan gagasan-gagasan yang dimiliki. Tentu  dengan kemasan logika yang sehat, runtut serta sistematis sehingga mudah diterima oleh publik. Sayang paslon Eri-Armuji, lebih banyak pamer program yang telah dirintis Risma, bukan gagasannya sendiri.

Pendeknya, sebagai jurnalis muda yang termasuk kelas menengah, mencatat paslon  yang memiliki visi dan program unggulan beserta solusinya. Jujur, ini hanya dimiliki oleh paslon MA-Mujiaman. Saya mencatat program – program unggulan MA beserta solusi yang rasional dan dibutuhkan warga kota. Ini karena MA, meski berlatarbelakang Polri, tetapi ia arek Suroboyo yang mau blusukan mengenal kota yang bakal dipimpinnya.

***

Hal yang menarik dalam debat itu, MA telah memiliki catatan bahwa kota Surabaya memiliki potensi yang sangat besar. Ada akses pelabuhan dan bandara internasional. Selain memiliki kemampuan fiskal lebih dari Rp 10 triliun,

Dengan potensi semacam itu, MA ingin Surabaya naik kelas menjadi kota mendunia dari sekarang. MA dalam menyampaikan visi misi di Hotel JW Marriott Surabaya, Rabu (4/11/2020), menyebut masih ada sejumlah ketimpangan yang dirasakan masyarakat. Mulai dari pelayanan kesehatan hingga pendidikan yang kurang merata.

Padahal di jantung kota Surabaya, secara fisikal ada keindahan tamannya, tetapi warga Surabaya masih belum mendapatkan pelayanan dasar yang lebih baik terutama pada saat pandemi COVID-19. MA menyoroti  masih ada disparitas, diskriminasi pelayanan pendidikan dan kesehatan. Ia menilai penanganan COVID-19 selama era Risma, belum terintegrasi, angka kematian Surabaya lebih dari 1.160 jiwa.

Bahkan masih banyak rumah di kampung-kampung balik taman-taman yang indah rumah tidak layak huni. Malahan MA memiliki data ada lebih 10.000 KK tidak memiliki jamban. Termasuk ia menemukan masih banyak pasar tradisional yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Mantan Kapolda Jatim ini malah menyoroti kondisi Pasar Turi lebih dalam 10 tahun terakhir ini tak ubahnya  pasar turu. Tak lupa MA menyoroti penataan tata ruang yang masih tumpang tindih termasuk surat ijo.

Untuk itu, MA menawarkan sejumlah solusi mengatasi permasalahan Kota Surabaya. MA-Mujiaman memiliki sembilan program unggulan yang telah disiapkannya saat terpilih nanti.

Itu terangkum dalam visi mewujudkan Surabaya yang lebih maju, nyaman dan berkeadilan. Visinya ini sebuah tekad mengubah kemiskinan menjadi kesejahteraan, ketimpangan menjadi keadilan, kesenjangan menjadi pemerataan. Dan untuk  meningkatkan kesejahteraan warga kota, ia memilik program pemerataan pembangunan 150 juta dalam satu tahun untuk setiap RT.

Maklum, di kota Surabaya , masih ia amati banyak kawasan kumuh. Misalnya di Asem Rowo dan Krembangan, kali-kalinya penuh sampah.

Ia kelak akan merealisasikan kawasan layak huni yaitu ketersediaan perumahan, air bersih, ruang publik dan sanitasi. Hal yang menyedihkan Surabaya yang digambarkan punya sejumlah penghargaan masih ada kawasan kumuh yang menjadi langganan banjir.

Ironisnya, kampung-kampung baru punya saluran tapi tidak terhubung dengan saluran besar. Makanya, MA-Mujiaman memplot anggaran Rp150 juta per RT agar RT bisa membangun saluran air.

Visi dan program MA-Mujiaman, dalam debat publik minggu lalu tak diimbangi dengan visi misi unggulan Eri-Armuji. Dari pembukaan debat sampai akhir, Eri – Armuji, malah pamer program Risma dengan arti ingin meneruskan yang sudah dilakukan Tri Rismaharini. Masya Allah.

Visi dan program Eri-Armuji, membikin saya dan teman-teman jurnalis muda merasa gusar, bila Eri-Armuji terpilih. Dua paslon ini sepertinya miskin ide pembangunan.

Tak salah bila dalam debat publik pertama itu Machfud menilai pasangan Eri-Armuji masih mengagung-agungkan program yang sudah dikerjakan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Publik yang menyaksikan debat dari layar TV, mendengar sendiri Eri-Armuji memang terlihat berulang kali menyebut nama dan keberhasilan program yang dijalankan Risma. Kelucuan yang muncul. Eri-Armuji yang buka paslon petahana malah secara khusus menyampaikan rasa terima kasihnya pada Risma. Keduanya bahkan tidak sungkan  memastikan pelbagai program Risma akan dilanjutkan jika terpilih menjadi Wali Kota Surabaya. Ia juga mengatakan bakal membuat Kota Surabaya lebih baik lagi ke depan. Baik yang bagaimana, Eri tak menjelaskan. Maklum, kata baik adalah kata abstrak.

Saya dan teman-teman jurnalis muda geleng-geleng kepala menyaksikan debat publik pertama di Surabaya. Terkesan, dari pernyataan-pernyataan Eri-Armuji, seperti ia mewakili petahana dan MA, nonpetahana. Padahal, secara administrasi di KPU, kedua paslon ini sama-sama pendatang baru.

Saya mencermati, perdebatan malam itu, sepertinya MA menjadi ‘’penyerang policy Risma”. Sebaliknya, Eri, mempertontonkan pembela kepentingan Risma. Kesan yang menonjol, Eri berposisi defensive memproteksi Risma.

Sebagai orangf manajemen media, saya tahu bahwa strategi defensive itu ada kelemahannya yaitu menekankan taktik penghematan. Ini bisa efektif dilakukan untuk sebuah korporasi besar. Padahal, kota Surabaya adalah sebuah kota terbuka terhadap apa saja. Termasuk masuknya investor asing dan dalam. Saya khawatir, bila kota terbuka seperti Surabaya dikelola ala kepemimpinan Eri-Armuji, yang jadi korban adalah rakyat.

Apakah cara pengelolaan defensive ini sudah diterapkan oleh Risma? Ini adalah persoalan warga kota. Banyak studi menemukan pengelolaan kota yang defensive hanya akan menguntungkan segelintir investor, terutama pengembang perumahan. Pengelolaan defensive sebuah kota semacam memproteksi investor masuk, karena konon sudah ada deal-deal dengan investor lama yang sudah establish di Surabaya..

Saya yang ikut dari awal sampai akhir tayangan debat publik, menyaksikan bagaimana Eri, mengkolaborasi program yang disampaikan dengan data.

Jurnalis Surabaya tahu bahwa program-program yang diucapkan Eri adalah yang telah dikerjakan oleh bosnya, Risma, wali kota Surabaya.

Dan sampai debat publik diakhiri, Eri nyaris tak pernah menyampaikan program unggulan membangun Surabaya, lima tahun ke depan. Sedang sajian data yang dipaparkan, saya tak kaget, karena Eri mantan Kepala Bappeko Surabaya.

Justru bila Eri dalam debat publik pertama itu, ia tak bicara dangan data, akan memlorotkan brandnya sebagai “calon incumbent’’ yang diusung Risma.

Beda dengan Armuji, cawawali Eri, yang selama debat seperti “popok bawang”, penggembira. Maklum Armuji dibesarkan bukan sebagai birokrat. Armuji, kader PDIP yang empat kali jadi wakil rakyat. Kemampuan dalam debat publik bisa saya tebak, persis politisi yang resisten terhadap program pembangunan. Ini apakah Armuji tidak memiliki basic manajemen pembangunan. Makanya selama debat, Armuji tidak tampak gesit menelorkan seorang penggagas pembangunan kota sebesar Surabaya. ([email protected])