Densus 88, Segera Tangkap Tokoh Publik Terlibat Teroris

Petugas Densus 88 menggiring tersangka kasus terorisme di Bandara Radin Inten II Lampung Selatan, Lampung, beberapa waktu lalu. Di antara puluhan tersangka terorisme itu terdapat seorang tersangka yang diduga menjadi koordinator kasus Bom Bali 1.

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Kepala Bagian Bantuan Operasi Detasemen Khusus 88 Antireror Polisi Republik Indonesia, Komisaris Besar Polisi Aswin Siregar, menegaskan segera meringkus jaringan teroris Jamaah Islamiah (JI) di kalangan tokoh publik.

“Ini masih banyak lagi sebenarnya. Nanti mungkin, kita tidak mau berandai-andai, bahwa kalau ada penangkapan selanjutnya, nanti akan mengejutkan lagi, siapa lagi nih orangnya. bisa menggegerkan publik?” Ingat Aswin Siregar, di Gedung Divisi Hubungan Masyarakat Polisi Republik Indonesia di Jakarta, Selasa, (30/11/ 2021).

Aswin Siregar, menambahkan siapapun yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Polisi Republik Indonesia, publik diharapkan tidak meributkan status atau jabatan yang bersangkutan. Sebab yang menjadi dasar adalah adanya bukti keterlibatan yang cukup terkait perkara terorisme.

“Kita ingin membuat publik mengerti apa yang menjadi dasar bagi Polisi Republik Indonesia dalam bertindak yaitu bukti permulaan yang cukup terkait perkara tersebut. Jadi jika nanti ada penangkapan, agar kita semua tidak lagi meributkan status para tersangka yang ditangkap, khususnya secara sosial, politik dan institutional,” tambah Aswin Siregar.

 

Ada akademisi hingga politisi

Peneliti Ruangobrol, Kharis Hadirin, mengaku tidak heran jika benar ada nama besar dan berpengaruh yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Polisi Republik Indonesia di masa mendatang.

Sebab dari informasi grassroots dalam jaringan Jamaah Islamiah (JI), banyak diketahui bahwa nama-nama besar terlibat sejak lama, mulai dari akademisi hingga politisi.

“Kalau sampai terjadi, ada dua kemungkinan soal siapa yang bakal ditangkap.

Pertama, dari kalangan pengamat atau akademisi.

Kedua, politisi.

Karena ada beberapa nama yang setahu saya dulu pernah ‘diduga’ ikut terlibat dan dipakai oleh jaringan, tapi sampai sekarang masih tetap aman dan bebas.

“Orang-orang ini punya nama besar dan cukup punya pengaruh,” jelas Kharis Haridin, Rabu, (1/12/2021).

Kharis Hadirin, mengatakan, keterlibatan mereka ditengarai sudah lama, bahkan diduga sebelum kasus penistaan agama oleh Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, tahun 2017.

Menurut Kharis Hadirin, nama-nama ini bermain dua kaki, dimana di satu sisi mereka memainkan posisi mereka sebagai pejabat yang memiliki otoritas, namun di sisi lain bermain di grassroots memainkan isu agama di kelompok-kelompok Islam yang semuanya mengarah ke JI.

Berdasarkan informasi yang dihimpunnya, Kharis mengatakan beberapa nama besar ini juga kerap bermunculan di televisi dan menjadi media darling. Selain itu, mereka diketahui berasal dari oposisi dan terlibat aktif dalam demonstrasi Persaudaraan Alumni (PA) 212.

PA 212 lakukan aksi unjukrasa di Jakarta, memprotes Ahok karena dituding melakukan penistaan terhadap Agama Islam, pada tanggal 2 Desember 2016. Ahok diprotes karena pidatonya di Pulau Seribu, 27 September 2021 yang sudah diedit seorang dosen, Buni Yani,

Tekanan publik, Ahok jadi tersangka penistaan agama, Rabu, 16 Nopember 2016 dan divonis 2 tahun penjara, Selasa, 9 Mei 2017.

 

Nama besar Sebagai Simpatisan

Hanya saja, Kharis, menegaskan diangkut tidaknya mereka ke depan bukan dikarenakan menyandang status tertentu seperti oposisi, melainkan karena keterlibatan dalam jaringan terorisme. Meski tidak mengetahui peran mereka secara rinci, Kharis menyebut nama-nama besar ini bisa dianggap sebagai simpatisan.

Jadi ketika beberapa tokoh JI memiliki persoalan, nama-nama ini akan membantu menyelesaikan atau mengcover tokoh tersebut.

LMereka ini kelompok oposisi, dan mereka itu rata-rata dulu mendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Umum Presiden tahun 2019. Sampai sekarang mereka masih tetap oposisi.

Mereka ini statusnya personal, tapi masalahnya sering dimanfaatkan partai politik. Karena mereka itu punya nama besar dan profesi yang mereka geluti memungkinan mereka memegang jabatan itu.

Dari sejumlah nama yang saya tahu gelarnya bagus-bagus dan mereka sering tampil di televisi kok dan termasuk salah satu media darling. Cuma media darlingnya yang versinya oposisi.

Yang pasti terkait kinerja Densus, saya pikir mereka bekerja sudah berbasis data lapangan. Artinya mereka tidak mungkin asal sebut nama, pasti sudah mengantongi data kongkrit sebelum turun lapangan dan sudah punya listnya soal siapa yang bakal diangkut,” kata Kharis Hadirin.

Selasa dinihari, 16 Nopember 2021, Detasemen Khusus Antiteror Polisi Republik Indonesia, menangkap tiga teroris dari JI di Bekasi, Provinsi Jawa Barat: Ahmad Zain An Najah (Komisi Fatwa Mejalis Ulama Indonesia), Ahmad Farid Okbah dan Anung Al Hamat. n jk, 07, er