Di Surabaya, LGBT Berani Terang-terangan

Ilustrasi karikatur

Sudah 3.760 Pengikut GAYa Nusantara

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya  - Salah satu platform analisis media sosial, Drone Emprit beberapa waktu lalu mengeluarkan laporan terbaru terkait naiknya konten negatif LGBT khususnya gay di media sosial twitter.

Dari pantauan yang dilakukan selama 1 bulan terakhir atau sejak 10 September hingga 9 Oktober 2021 kemarin, setidaknya ada sekitar 7.751 percakapan di twitter tentang gay. Jumlah ini tidak termasuk konten percakapan lesbian, biseksual dan transgender.

Percakapan konten negatif yang dimaksudkan adalah penjajakan prostitusi gay. Bahkan selain perbincangan, ada pula yang membagi konten-konten Gay dalam bemtuk gambar maupun video. Menariknya, percakapan yang paling tinggi berasal dari pengguna medsos yang berada di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Adapun kata kunci yang sering digunakan dalam percakapan tersebut adalah #gayindonesia #gayschool #gaysma #gaysekolah #gaypku #gaykids #gaylokal #gaybrondong.

Terkait temuan Drone Emprit pakar Komunikasi Universitas Brawijaya Malang Maulina Pia Wulandari menyampaikan, ada 3 kemungkinan yang berkaitan dengan konten negatif dari gay. Pertama, dalam dunia maya atau media sosial, banyak sekali bermunculan akun-akun yang menawarkan prostitusi online. Hal ini tidak hanya terjadi khusus LGBT semata, namun berlaku pula bagi heteroseksual atau masyarakat pada umumnya.

"Banyak sekarang beredar di media sosial modus penipuan yang menggunakan konten pornografi. Jadi saya tidak kaget dengan temuan Drone emprit. Bahkan prostitusi online pun dilakukan lewat medsos juga kan," kata Maulina Pia Wulandari kepada Surabaya Pagi, Minggu (10/10/2021).

Celakanya penawaran prostitusi online di medsos, tidak semuanya benar. Bahkan mayoritas bermotifkan penipuan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang dari para korban yang terbuai dengan penawaran yang ditawarkan melalui medos.

Berikutnya adalah berkaitan dengan aktivitas buzzer. Sesuai dengan namanya, buzzer tentu membawa isu-isu tertentu, baik politik, sosial budaya, agama hingga LGBT. Tujuannya adalah untuk mengarahkan masyarakat sehingga terpengaruh dengan isu yang dibawa oleh mereka.

"Atau yang kedua ini bisa saja sengaja diarahkan, Karena kita tahu ada namanya buzzer yang bergerak di medsos. Apalagi tanggal 8 Oktober kemarin itu adalah hari Lesbian internasional," kata wanita yang akrap disapa Pia.

Terakhir kata Pia, bila temuan tersebut adalah tindakan dari kaum LGBT maka menurutnya hal tersebut akan merugikan LGBT itu sendiri. Karena selama ini stigma tentang LGBT di masyarakat telah sangat mendiskriminasikan mereka.

"Akhirnya jadi preseden buruk. Citra mereka semakin jelek. Dikaitkan sini, dikaitkan sana, akhirnya orang menganggap LGBT selalu melakukan tindakan asusila. Tapi apakah memang begitu, kan kita tidak bisa menyamaratakan semuanya," katanya.

Sementara khusus di Surabaya sendiri, jumlah LGBT tidak begitu pasti. Namun aktivitas LGBT khususnya gay di Surabaya sangat dengan mudah ditemukan. Karena Surabaya memiliki Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada perjuangan para gay.

Nama LSM tersebut adalah GAYa Nusantara yang berlokasi di wilayah Ketabang Surabaya. Hingga berita ini ditulis, reporter Surabaya Pagi belum berhasil menghubungi koordinator LSM GAYa Nusantara.

Namun bila melihat aktivitasnya di media sosial, LSM ini cukup aktif dalam mengedukasi terkait LGBT dan program kesetaraan gender. Bahkan pengikut ataupun follower di medsos LSM ini terbilang cukup banyak.

Di facebook setidaknya ada sekitar 2.520 orang yang menyukai fanspage GAYa Nusantara. Sementara di instagram, kurang lebih sekitar 3.760 orang yang menjadi pengikut LSM ini.

Bahkan pada situs resminya, LSM ini menjelaskan GAYa NUSANTARA adalah pelopor organisasi gay di Indonesia yang terbuka dan bangga akan jati dirinya serta tidak mempermasalahkan keragaman seks, genderdan seksualitas serta latar belakang lainnya.

Balik pada survey drone emprit, sebetulnya telah dijelaskan oleh aktivis HAM yang juga adalah waria (wanita pria), Merlyn Sopjan. Merlyn sempat menjadi Ketua Waria Malang tahun 2006-2011.

Menurut Merlyn, prostitusi gay ataupun LGBT yang acapkali ditemukan di medsos, itu bukan berarti merepresentasikan perilaku keseluruhan para LGBT. LGBT kata Merlyn, juga memahami norma dan nilai sosial yang ada di masyarakat.

"Jadi jangan karena ada gay yang menawarkan diri di medsos kemudian digeneralisir bahwa semua gay seperti itu. Atau tindakan prostitusi itu ciri khasnya LGBT. Jangan digeneralisir," kata Merlyn Sopjan.

Ia pun menyebutkan generalisasi tersebut, sangat diskriminatif dan hanya disematkan pada LGBT. Ia pun mencontohkan, ketika seorang perempuan menawarkan dirinya di medsos, masyarakat tidak mengeneralisir bahwa semua perempuan berperilaku seperti itu.

"Atau ada seorang pria yang katakanlah penjahat kelamin, tidak ada yang generalisir bahwa semua pria penjahat kelamin. Tapi bila gay atau LGBT lakukan seperti itu maka diskriminasi itu muncul," katanya.

Sementara itu, pakar sosiologi Universitas Brawijaya Malang Nyimas Nadya Izana menyampaikan, media sosial seharusnya dipakai oleh para LGBT untuk mengcounter stigma yang selama ini melekat pada mereka.

LSM-LSM yang berfokus pada perjuangan LGBT, seharunya mulai bergerak mensosialisasikan sekaligus menghapus pandangan negatif masyrakat terhadap LGBT.

"Lewat media sosial mereka harus bisa memberikan literasi baru tentang apa sebetulnya gay itu, atau LGBT itu. Sehingga ada narasi baru yang muncul, nah kemudian pasti akan muncul diskusi. Diskusi ini awal yang baik dalam membangun keakraban" kata Nyimas.

Selama ini kata Nyimas, masyarakat Indonesia selalu melihat bahwa LGBT atau homoseksual merupakan penyakit atau kelainan mental. Namun secara ilmiah, American Psychiatric Association (APA) di Amerika Serikat (AS) sebetulnya telah menghapus homoseksualitas dari daftar kelainan mental, yang kemudian dimuat dalam laporan “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder” pada 1973.

Sebagai informasi, dari data Kementrian Kesehatan pada tahun 2015, kurang lebih sekitar 1.950.970 gay di Indonesia. Angka ini belum termasuk lesbian, transgender dan biseksual.

Tak hanya itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1992 juga mengikuti langkah Amerika dengan menghapus homoseksual dari daftar kelainan mental.

"Jadi secara psikologi, itu hanya orientasi seksual. Problemnya, di Indonesia diperhadapkan dengan nilai agama jadi itu susah memang. Nah ini jadi tantang bagi para LGBT untuk menjelaskan itu. Lewat medos misalnya," ucap Nyimas.sem/rl