Diunggulkan Polling, Biden Belum Tentu Menang

Beberapa warga AS sedang antri melakukan voting secara electoral college, Selasa (3/11/2020) WIB untuk menetukan siapa Presiden AS mendatang.

 

Bisa Bernasib Sama dengan Hillary Clinton di Tahun 2016

 

SURABAYAPAGI.COM, Washington- Pemilu Amerika Serikat akan berakhir pada hari Selasa (3/11/2020) waktu setempat atau Rabu  (4/11/2020) WIB.  Sejauh ini, Joe Biden lebih diunggulkan. Banyak polling yang menyebutkan, Biden bakan menggulingkan calon petahana Donald Trump. Tapi berdasarkan pengalaman di tahun 2016, Biden bisa saja bernasib sama dengan Hillary Clinton.

Hingga Selasa (3/11/2020) malam WIB, Joe Biden meraih kemenangan kecil pertamanya, dengan memenangkan semua 5 suara di kota kecil New Hampshire yang memegang tradisi menghitung suara mereka pada tengah malam.

Penghitungan suara terakhir di Dixville Notch, New Hampshire - yang merupakan salah satu dari tiga kota yang menghitung hasil pemilihan mereka setelah tengah malam - diambil di papan poster beberapa saat setelah jam menunjukkan pukul 12 malam (waktu setempat).

Dalam pemilihan presiden 2016, Hillary Clinton memenangkan suara Dixville Notch. Kemudian, kota yang dekat dengan perbatasan Kanada ini memiliki total 8 pemilih.

Dua wilayah lain di negara bagian, Lokasi Hart dan Millsfield, juga secara historis menawarkan pemungutan suara tengah malam. Di Millsfield, yang berjarak 12 mil selatan Dixville Notch, Trump menang Selasa pagi, dengan 16 suara dibandingkan lima dari Biden.

Sementara itu, di Hart’s Location, pemungutan suara tengah malam terhenti karena pandemi. Sebagai gantinya, pemilih di sana dapat memberikan suara mereka dari jam 11 pagi hingga 7 malam.

 

Polling Palsu

Dari hasil polling sementara, Joe Biden mengungguli Trump dengan selisih yang cukup signifikan. Dari survey, Biden Unggul 51.5 persen meninggalkan Trump yang mendapatkan 44.4 persen saja. Sejauh ini, Biden hampir unggul di banyak negara bagian. Trump hanya unggul di beberapa negara bagian saja seperti Iowa dan Kentucky.

Terkait hal ini, Donald Trump menolak hasil sejumlah polling yang menunjukkan dirinya kalah. Trump menyebut polling yang memprediksi kemenangan Biden dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun ini, sebagai 'polling palsu'.

Dalam pilpres 2016 lalu, Trump menang di Pennsylania. Namun menurut polling terbaru, Biden berhasil meraup keunggulan tipis atas Trump di negara bagian tersebut. Trump berkampanye ke North Carolina dan Delaware, negara bagian asal Biden pada Senin (2/10) waktu setempat.

Dalam kampanyenya ini, Trump mengomentari sejumlah polling yang menunjukkan dirinya kalah unggul dari Biden. Diketahui bahwa laporan CNN sebelumnya menyebut Biden unggul dari Trump, dengan rata-rata meraih 50 persen suara lebih, dalam enam polling atau jajak pendapat terbaru.

"Saya mengamati polling-polling palsu ini," sebut Trump di hadapan pendukungnya.

"Lagipula kita akan menang," ucap Trump meyakinkan para pendukungnya.

Di hadapan pendukungnya, Trump berupaya membangkitkan semangat kemenangan mengejutkan yang didapatkannya saat berhadapan dengan capres Partai Demokrat, Hillary Clinton, dalam pilpres 2016. Saat itu, kebanyakan polling mengunggulkan Hillary namun ternyata Trump yang memenangkan pilpres.

"Anda memilih orang luar sebagai Presiden yang akhirnya menempatkan Amerika sebagai yang terutama," cetusnya. "Keluar dan memilihlah, itu saja yang saya minta," ucap Trump mengimbau para pendukungnya untuk memberikan suara.

Pemungutan suara secara serentak akan digelar pada Selasa (3/11) waktu AS. CNN sebelumnya melaporkan lebih dari 90 juta orang di AS telah memberikan suaranya lebih awal lewat early voting atau pemungutan suara awal. Perkiraan dari US Elections Project, seperti dilansir CNN, menyebutkan setidaknya 150 juta orang di AS akan memberikan suaranya dalam pilpres 2020. Angka ini melampaui data pilpres 2016 di mana lebih dari 133 juta orang memberikan suaranya dalam pilpres.

 

Electoral College

Jika pada hari ini, Biden dinyatakan tetap memperoleh suara yang lebih besar dari Trump, ia belum tentu akan melenggang ke Gedung Putih karena sistem pemilu di AS menggunakan electoral college.

Maka daripada itu, kandidat yang memenangkan suara terbanyak belum tentu akan keluar sebagai pemenang. Sistem pemilu ini memang berbeda dengan di Indonesia. Berdasarkan pemilu 2016 lalu misalnya, capres Hillary Clinton juga unggul dalam pemungutan suara dan memenangkan hampir tiga juta suara dari Donald Trump. Tetapi, dia tidak keluar sebagai pemenang karena sistem electoral college.

Dalam sistem electoral college yang digunakan Amerika Serikat untuk pemilihan presiden, setiap negara bagian diberikan sejumlah suara, satu untuk setiap senator dan perwakilan AS serta tiga pemilih tambahan yang mewakili District of Columbia.

Untuk itu, total ada 538 suara pemilihan yang akan diperebutkan oleh para kandidat. Dan seorang kandidat presiden harus mencapai 270 suara agar bisa menang dalam pemilihan. Electoral college adalah badan formal yang memilih presiden dan wakil presiden Amerika Serikat.

 Jumlah pemilih dari setiap negara bagian harus sesuai dengan jumlah penduduknya. Selain itu, setiap negara bagian mendapatkan pemilih dengan persentase yang sama dengan anggota parlemen di Kongres AS (perwakilan di DPR dan senator).

 

Lantas kapan waktu krusial berakhirnya Pemilu Presiden AS 2020 ini? Dikutip dari Express.co.uk, berikut ini  poin penting yang perlu diperhatikan dalam fase akhir pemilu AS (Semua dirangkai dalam waktu indonesia barat, Rabu 4 November 2020 pagi, hari ini):

07.30 Pemungutan Suara di Ohio ditutup

08.00 Pemungutan Suara di Missouri Ditutup

09.00 Pemungutan Suara di New Mexico ditutup

10.00 Pemungutan Suara di Nevada ditutup

11.00 Pemungutan Suara di seluruh Negara Bagian Pantai Barat seperti California, Washington, dan Oregon ditutup.

Ini menandai Akhir dari Penghitungan Suara dan biasanya sudah terlihat sang pemenang Pilpres AS. Pada pukul 12.00 WIB biasanya akan diadakan pidato kemenangan oleh calon yang memenangi kontestasi. bb/cn/ws/rt/ril