Divaksin Bukan Otomatis Bunuh Virus

Vaksin Sinovac (Ilustrasi)

Tanggapan Dua Dokter Surabaya atas Policy Pemerintah Korea Selatan yang Bolehkan Lansia Sekali Suntik Tinggalkan Masker

 

Ada Perbedaan Jenis Vaksin yang Disuntikan ke Lansia Indonesia dengan Vaksin untuk Lansia Korea Selatan

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Vaksinasi merupakan salah satu langkah dalam mengatasi virus covid-19. Bahkan dengan vaksinasi masal hingga 70% maka akan menciptakan kekebalan masal atau herd immunity di suatu negara. Namun vaksinasi bukan berarti menjamin seorang tidak akan terpapar virus covid-19. Pengetatan protokol kesehatan (prokes) dengan menjaga jarak, memakai masker dan menjauhi kerumunan juga dinilai sangat penting. Meski sudah dilakukan vaksinasi.

Demikian yang diungkapkan oleh dua dokter dari RSUD dr Soetomo, yakni dr. Dominicus Husada dan dr Joni Wahyuhadi, yang dihubungi Surabaya Pagi, Kamis (27/5/2021) secara terpisah.

Respon dua dokter Surabaya itu setelah melihat Perdana Menteri Korea Selatan Kim Boo-kyum akan membebaskan masker usai menerima suntik vaksin Covid-19. Bahkan, Korea Selatan mengikuti jejak Amerika Serikat, pada April 2021 lalu. Melalui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS), pihas AS mengizinkan masyarakatnya melepaskan masker usai menerima vaksin covid-19.

Staf Departemen Ilmu Kesehatan RSUD dr. Soetomo Surabaya, dr. Dominicus Husada menjelaskan, setiap vaksin memiliki tingkat daya tahan yang berbeda-beda terhadap virus. Tergantung jenis vaksin apa yang disuntikan kepada seseorang.

Di Korsel, kata dr. Dominicus, jenis vaksin yang digunakan adalah Pfizer/BioNTech alias vaksin  mRNA. Vaksin mRNA sendiri didesain untuk 2 kali suntikan. Berbeda dengan jenis vaksin Johnson&Johnson yang hanya sekali suntikan.

"Untuk mRNA yang sekali [suntikan] memang sudah meningkat [daya tahan tubuh] namun vaksin ini didesain dua kali pemberian. Vaksin Astra Zeneca kalau sudah sekali naiknya kekebalan cukup tinggi. Sementara vaksin Johnson&Johnson malah memang sekali saja, bukan dua kali. Jadi ini tergantung jenis vaksinnya," kata dr. Dominicus kepada Surabaya Pagi, Kamis (27/05/2021).

 

Belum Anjurkan Lepas Masker

Terkait apakah boleh melepas masker, ia tegaskan banyak penelitian para ahli yang belum menganjurkan melepas masker pasca divaksin. Hal ini terjadi karena ketika divaksin, benar imunitas akan naik namun bukan berarti membunuh virus. Virus akan selalu berada disekitar masyarakat.

Kasus terkonfirmasi positif dan resiko penularan kata dr. Dominicus memang akan sangat menurun pasca vaksinasi dilakukan secara menyeluruh. Namun tidak mungkin dibuat nol.

"Kalau di depan kita ada 10 orang dan semua tervaksin lengkap, maka kemungkinan kita tertular itu sangat minimal. Kalau vaksin mRNA memang hampir nol. Tapi tidak bisa nol," katanya

 

Imunitas Tubuh

Kondisi dan imunitas tubuh seseorang pun juga perlu diperhatikan. Misalnya, jika kita penderita kanker, tidak mungkin tidak bermasker, sekalipun sudah divaksin. Atau penderita HIV yang sistem imunnya belum bagus.

"Maka orang yang melepas masker itu harus memahami resiko baginya. Tinggal diperhitungkan keuntungan dan risiko tidak bermasker. Karena ingat vaksin itu untuk kekebalan tubuh, bukan membunuh virus," jelasnya.

Terkait apakah setelah divaksin imunitas tubuh seseorang akan meningkat, dr. Dominicus tidak menjamin akan hal tersebut. Menurutnya, sistem tubuh setiap orang berbeda-beda. Ditambahlagi, untuk menganalisa kekebalan tubuh pasca vaksinasi pun sangat kompleks.

"Masalahnya kekebalan setelah divaksinasi itu menganalisisnya rumit. Jadi pengertiannya bukan sekali divaksin naik 50%, kalau dua kali bisa 100%. Itu gak bisa begitu. Yang jelas jika sudah menerima sekali, kekebalan diharapkan sudah mulai terbentuk," jelasnya.

Jika membaca kembali tujuan dari pemerintah Korsel, ia menilai himbauan tidak memakai masker pasca divaksin merupakan strategi Korsel agar masyarakatnya mau untuk divaksin. Karena dari data yang ada, saat ini tingkat vaksinasi lansia di Korsel adalah sebanyak 7,7 persen. Sementara untuk mencapai herd imunity maka minimal 80 persen yang harus divaksin.

"Jadi tujuan pemerintah Korsel adalah agar lansia mau divaksin. Karena saat ini angkanya rendah sekali," jelasnya.

 

Tetap Prokes

Terkait apakah Indonesia akan dapat mengikuti jejak negara-negara lain seperti Korsel dan AS untuk melepas masker, ia tegakan bahwa belum ada penelitian yang pasti soal hubungan vaksinasi dengan melepas masker atau pun melonggarkan prokes 3M.

"Ahli kebanyakan bilang belum boleh. Saat ini kebijakan itu dikeluarkan oleh CDC USA, untuk yang sudah lengkap imunisasinya. Kalau mRNA disebut lengkap bila sudah 2 kali. Kebijakan CDC itu tentu tidak dengan mulus disetujui semua ahli. Cukup banyak juga yang kuatir," tegasnya.

Selain itu jenis vaksin yang digunakan oleh Indonesia pun berbeda dengan negara-negara yang memperbolehkan warganya melepas masker. Vaksin yang digunakan oleh Indonesia adalah vaksin Sinovac dan Astra Zeneka. Sementara di negara seperti Korsel menggunakan jenis Pfizer/BioNTech alias vaksin mRNA.

"Kebanyakan negara maju yang menerapkan kelonggaran masker menggunakan vaksin mRNA. Untuk pengguna vaksin inaktif seperti kita dan banyak negara lain, belum cukup data untuk hal ini," pungkasnya.

Ditambah lagi, pedoman dari CDC AS memperbolehkan melepas masker apabila tingkat imunisasinya telah lengkap (herd immunity). Masalahnya, di Indonesia saat ini harapan mencapai herd imunity atau 70% vaksinasi masih jauh dari harapan.

Bahkan target pemerintah yang akan melakukan 1 juta vaksinasi Covid-19 per harinya masih belum tercapai hingga saat ini. Rata-rata per hari hanya mencapai 200 hingga 300 ribu vaksinasi. Meski begitu, Kementerian Kesehatan tengah berusaha meningkatkan cakupan vaksinasi per hari dari 200-300 ribu, ke 500 ribu per hari.

"Masih lama. Karena kecepatan (vaksinasi) kita masih lambat. Nampaknya cukup banyak juga yang belum mau divaksinasi," katanya.

 

Jangan Main-main

Terpisah, Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur (Jatim) Joni Wahyudi menyebutkan, protokol kesehatan wajib diperhatikan oleh masyarakat khususnya di Jawa Timur baik yang sudah divaksin maupun belum divaksin.

Karena secara epidemiologi, rate of transmission (tingkat penularan) di Jatim terkhususnya Surabaya masih di angka 1,6. Artinya, kalau ada 10 orang terinfeksi Covid-19, dalam satu pekan bisa menjadi 16 orang.

Bahkan ia menyebutkan, jika tingkat penularan tersebut tidak ditangani secara holistik maka Surabaya bisa menjadi seperti Wuhan. Ini terlihat dari data grafik penyebaran, kurang lebih 65 persen masalah Covid-19 di Jawa Timur ada di Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik).

"Jadi gak main-main kalau kita tidak hati-hati maka Surabaya bisa jadi Wuhan. Jadi ingat, jangan lalai dengan protokol kesehatan," kata Joni.

Soal apakah Indonesia akan mengikuti jejak Korea selatan atau AS yang memperbolehkan masyarakatnya pasca divaksin, ia tegaskan bahwa pemerintah Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menangani covid-19.

"Kita harus 2 kali vaksin dan wajib prokes. Belum bisa melepas masker," tulisnya melalui pesan singkat.

Soal pedoman melepas masker pasca divaksin, sebetulnya telah ditanggapi oleh Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito melalui pernyataannya yang diunggah di Youtube Sekretariat Presiden.

Menurut Wiku, kondisi di Amerika Serikat berbeda dengan Indonesia. Walau begitu, Pemerintah menghormati panduan yang dikeluarkan CDC AS. Bagi masyarakat yang telah divaksin kata dia, wajib melakukan protokol kesehatan karena pemerintah belum memastikan apakah tang tekah divaksin secara paralel kebal akan virus atau sebaliknya.

"Perlu diingat kondisi di Amerika Serikat berbeda dengan kondisi di Indonesia. Walaupun sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19, Pemerintah tetap mewajibkan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan, termasuk memakai masker," kata Wiku. sem/ana/cr2/rmc