Epidemolog dan IDI Bingung, Lonjakan Covid Gelombang-3, Bisa Desember, Bisa Maret

Salah satu pasar malam di Surabaya sudah dipadati pengunjung, Sabtu (16/10/2021). Alhasil, kerumunan pun tak bisa dihindari. Padahal PPKM Level 1 masih diberlakukan di Surabaya.

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kasus covid-19 di Indonesia, secara nasional mengalami penurunan yang sangat signifikan. Ini terlihat dari jumlah kasus harian yang turun hingga 98,4 persen.

Dinukil dari halaman covid19.go.id, kasus positif hari ini, Minggu (17/10/2021) hingga pukul 19:04 WIB, terkonfirmasi sebanyak 4.234.758 orang, dengan tambahan kasus sebanyak 747 orang. Tambahan 747 per hari ini, jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan tanggal 15 Juli 2021 lalu yang mencapai 50.000 kasus dalam sehari.

Kendati telah menurun, banyak pakar yang memprediksi adanya gelombang ke-3 covid-19 yang akan menerpa Indonesia. Lucunya, prediksi gugus tugas dan pakar epidemologi berbeda.

Prediksi dari Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, bahwa gelombang ke-3 Covid-19 berpotensi terjadi pada Februari atau Maret 2022.

Sementara di sisi lain banyak ahli epidemiologi menganalisis gelombang ke-3 berpotensi terjadi pada akhir tahun ini yakni bulan Desember 2021.

Bahkan dari Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi menyebut kemungkinan gelombang ke-3 covid-19 sudah dilalui Indonesia.

Menurutnya, gelombang ketiga sudah terjadi pada Juli lalu. Namun, untuk membenarkan prediksi tersebut, ia menunggu jumlah tambahan kasus pada bulan Desember mendatang. Bila ada lonjakan yang signifikan maka, prediksi tersebut salah namun bila tidak ada lonjakan maka benarlah prediksinya.

"Kita tentunya melihat dalam 3 bulan ke depan nanti sampai di Desember semoga tidak ada peningkatan. Kalau sampai bulan Desember tidak ada peningkatan sepertinya kita sudah mengalami gelombang ketiga," kata, Minggu (17/10/2021).

Adanya prediksi covid-19 berbeda ini, tentu membuat publik khususnya pengusaha resah dan bertanya-tanya. Pasalnya, bila prediksi gelombang ke-3 bulan Maret yang benar, maka tentu telah banyak peluang ekonomi yang terbuang sia-sia akibat adanya prediksi bulan Desember.

Mereka yang ingin berinvestasi ataupun membuka usaha di akhir tahun, terpaksa memilih menahan niatan tersebut. Mengingat, pemerintah selalu memiliki kebijakan yang membatasi ruang gerak masyarakat dan arus perekonomian melalui kebijakan yang disebut PPKM berlevel.

Celakanya, bila para pengusaha tetap memaksa untuk berinvestasi ataupun membuka usaha di akhir tahun, dan pada akhirnya prediksi gelombang ke-3 bulan Desember benar adanya, maka tentu saja mereka akan merugi.

Padahal, bila dilihat dari grafiknya, arus lalu lintas perekonomian yang lancar -bila kondisi normal- selalu terjadi pada akhir tahun berikut setiap ada raya.

 

Peringatan Dini

Menanggapi akan hal tersebut, Pakar Manajamen Isu dan Krisis Universitas Brawijaya Malang, Maulina Pia Wulandari menyampaikan, prediksi gelombang ke-3 adalah sebuah peringatan dini dari para ahli epidimilogi, tentu berdasarkan data dan informasi ilmiah yang mereka dapatkan.

Hasil prediksi kata Pia, memang bisa meresahkan bagi beberapa pihak karena cemas kalau akan terjadi pengetatan lagi yang bisa merugikan secara ekonomi.

"Jadi bukan asal prediksi. Prediksi harus tetap disampaikan, bagi yang resah harus dicarikan solusi yang tepat dan pengertian," kata Pia Wulandari saat dihubungi Surabaya Pagi, Minggu (17/10/2021).

Peringatan dini yang disampaikan melalui prediksi kepada masyarakat lanjutnya, agar masyarakat tidak lengah dan tetap patuh melaksanakan dengan protokol kesehatan meskipun level PPKM telah menurun, jumlah yang terkena covid-19 juga telah menurun drastis.

Selain itu pula, prediksi tersebut juga menjadi alarm bagi pemerintah untuk siap sedia dan mempersiapkan sejumlah strategi dalam menghadapi lonjakan kasus covid-19 di masa  mendatang.

Kampanye protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan. Masyarakat wajib diberikan sosialisasi tentang peringatan dini terkait serangan gelombang ke-3, dengan penjelasan  yang sesungguhnya. Atau dengan kata lain, Pemerintah tidak boleh menutup-nutupi kondisi yang sesungguhnya hanya atas nama kestabilan ekonomi.

"Pemerintah tidak boleh 'over confidence' dengan kondisi yang semakin menunjukkan ke arah yg baik. Karena kebiasaan orang Indonesia itu suka meremehkan atau gampangke kalau keadaan terlihat seperti normal lagi," katanya.

 

Sangat Berpotensi

Senada dengan itu, Dokter Penanggungjawab Pasien (DPJP) Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) dr. Christrijogo Soemartono Waloejo dr., Sp.An., KAR, menyampaikan, potensi gelombang ke-3 virus covid-19 di Indonesia tentu sangat besar. Mengingat, Indonesia dalam waktu dekat akan memasuki musim penghujan.

Dan sesuai sifatnya, virus tentu akan lebih cepat bermutasi tatkala berada dalam kondisi basah atau lembab. Faktor inilah yang menjadi salah satu potensi timbulnya gelombang ke-3 covid-19 di Indonesia.

"Potensinya memang ada, karena virus itu seperti makhluk hidup lainnya, dia juga bertahan hidup caranya ya dengan bermutasi. Satu varian delta saja, buat kita sudah kewalahan, apalagi kalau ada mutasi. Dan sedikit lagi kita memasuki musim penghujan, ini harus kita waspadai," kata dr. Christri kepada Surabaya Pagi.

Saat dikonfirmasi kapan tepatnya gelombang ke-3 virus covid-19, dr. Christri enggan memberikan jawaban terkait yang pasti. Menurutnya, segala prediksi yang disampaikan para pakar, dapat dijadikan acuan bagi masyarakat dalam bertindak.

"Mohon saya pribadi tidak berani komentar kapan pastinya gelombang ke-3. Tapi yang jelas, protokol kesehatan 6M wajib dilakukan oleh masyarakat," katanya sembari menambahkan "Mulailah dari diri kita sendiri,"tukasnya.

Perlu diketahui, pada 11 Oktober lalu, Surabaya Pagi sempat merilis pernyataan dari Ketua Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 Rumah Sakit Lapangan Indrapura, Radian Jadid, yang memperkirakan gelombang ke-3 akan terjadi pada akhir bulan Desember tahun ini.

Setidaknya ada 7 penyebab utama yang menjadi katalisator gelombang ke-3. Beberapa diantaranya adalah dimulainya pembelajaran tatap muka, masyarakat yang mulai abai akan prokes, kedatangan pekerja migran Indonesia dari luar negeri yang diperkirakan pada November tahun ini, serta keengganan masyarakat dalam melaporkan diri atau menjalani perawatan di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat tatkala terkonfirmasi covid-19. sem/rl