Giliran Ulama, Lansia dan Pelayan Publik Divaksin

Ekspresi KH Agoes Ali Masyhuri saat disuntik vaksin Covid-19 Sinovac di kantor PWNU Jatim, Selasa (23/2/2021). SP/Arlana

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai menggelar vaksinasi Covid-19 tahap dua yang dikhususkan bagi pelayanan publik, sejumlah kyai dan ulama hingga lansia, Selasa (23/2/2021).

Pelaksanaan vaksinasi digelar serentak mulai di Balai Kota Surabaya dikhususkan bagi Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), di Mapolrestabes Surabaya khusus bagi personel Polrestabes dan jajarannya, serta di seluruh puskesmas se-Surabaya khusus bagi warga yang lanjut usia (lansia). Selain juga di kantor PWNU Jatim bagi 98 ulama dan kyai yang rata-rata berusia lanjut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita meminpin vaksinasi di Balai Kota Surabaya. Bahkan, ia juga sempat mengunjungi Mapolrestabes Surabaya untuk memantau vaksinasi itu, karena yang bertugas memvaksin jajaran kepolisian itu berasal dari Dinas Kesehatan Surabaya.

Di sela-sela melakukan vaksinasi di Balai Kota Surabaya, ia menjelaskan bahwa untuk tahap dua dosis satu ini, Pemkot Surabaya mendapatkan 12.840 vial vaksin Covid-19. Dosisnya bisa digunakan untuk 10 orang, sehingga 12.840 vial itu bisa digunakan untuk 124.800 sasaran.

“Jadi, ukuran vialnya berbeda dengan yang kemarinnya, yang sekarang lebih besar. Vaksin yang gelombang satu kemarinnya, 1 vial dosisnya untuk 1 orang saja, tapi yang ini 1 vial dosisnya bisa digunakan untuk 10 orang. Insyallah aman dan steril karena nanti jarum suntiknya ganti yang baru setiap orang,” tegas Feny sapaan Febria Rachmanita.

 

Vaksin Lansia Bertahap

Menurut Feny, karena kiriman vaksin yang diterima pemkot sebanyak 12.840 vial untuk 124.800 sasaran, maka tidak semua lansia dan pelayanan publik akan langsung mendapatkan vaksinasi ini, sehingga dia memastikan akan bertahap.

Apalagi berdasarkan data yang dimilikinya, di Surabaya itu ada sebanyak 253.751 lansia, sehingga tidak bisa langsung semua mendapatkannya. “Warga lansia bertahap, begitu juga yang pelayan publik. Yang penting masyarakat harus tenang dan yakinlah bahwa semuanya akan mendapatkan vaksin,” kata dia.

Ia juga menjelaskan, pihaknya akan sesegera mungkin untuk menghabiskan 12.840 vial vaksin yang sudah ada ini. Dengan cara itu, maka pemkot bisa mengajukan kembali untuk mendapatkan vaksin tambahan. “Apalagi kan ini untuk penyuntikan kedua atau dosis dua, akan dilakukan 2 minggu lagi khusus pelayan publik yang bukan lansia, sedangkan pelayan publik yang lansia dan warga yang lansia akan dilakukan penyuntikan kedua setelah 28 hari,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Surabaya Hendro Gunawan yang juga mendapatkan vaksin di Balai Kota Surabaya, mengaku tidak merasakan apa-apa setelah divaksin. Bahkan, ia juga memastikan aman karena sebelum divaksin sudah dilakukan screening kesehatan.

“Aman Insyallah. Tadi kan sudah dilakukan screening kesehatan dulu dan tidak ada apa-apa, sehingga Insyallah semuanya lancar, sampai sekarang saya juga tidak merasakan apa-apa, mudah-mudahan tidak ada apa-apalah,” kata Hendro.

Ia memastikan Pemkot Surabaya terus berusaha mempercepat vaksinasi tahap dua ini. Sebab, semakin cepat menyelesaikan dan menghabiskan vaksin yang dikirimkan, maka semakin cepat pula mendapatkan droping vaksin selanjutnya. “Makanya ini di Polres dan puskesmas juga menggelar vaksinasi, kita percepat,” pungkasnya.

 

98 Ulama Divaksin

Terpisah, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar penyuntikan vaksin Covid-19 kepada 98 ulama, kiai sepuh, dan tokoh Nahdlatul Ulama di Kantor PWNU Jatim. KH Anwar Manshur Rais Syuriah PWNU Jatim menjadi kiai pertama yang menjalani vaksinasi. Diikuti KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur, dilanjutkan kiai dan tokoh lainnya.

Kiai Haji Anwar Iskandar Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim yang juga mengikuti vaksinasi itu bersyukur, semua kiai menyatakan, tidak ada rasa sakit setelah divaksin. Selain itu, tidak ada yang merasa terjadi perubahan kondisi atau penurunan kesehatan. Apalagi hari ini ada sejumlah Kiai Sepuh yang memang sudah berusia lanjut mengikuti vaksinasi.

Kiai Anwar Manshur Rais Syuriah PWNU Jatim sekaligus Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri yang usianya sudah 80 tahun. Kemudian ada Kiai Haji Agoes Ali Masyhuri Wakil Rais Syuriah PWNU Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo, yang sudah berusia 71 tahun.

“Harapan kami masyarakat jawa timur tidak usah merasa takut dengan vaksinasi, karena ini merupakan upaya kita semua dalam rangka memutus mata rantai Covid-19,” ujar KH Agus Ali Masyhuri.

Sedangkan, Kiai Marzuqi Mustamar Ketua PWNU Jatim menyebutkan, pelaksanaan vaksinasi ini upaya wajib untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia. Menurutnya ini ikhtiar zahir yang wajib meskipun yang menetapkan takdir Allah SWT. “Yang jelas vaksin ini halal dan maslahah untuk kita semua. Harapan kami setelah dua kali vaksin para kiai dan ulama bisa melayani tamu, mengimami shalat, mengajar santri dan peran-peran keumatan lain tanpa was-was,” ujarnya.

 

Tuntas Mei 2021

Ferliana Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menyatakan, vaksinasi untuk petugas pelayanan publik di Jawa Timur ditargetkan tuntas pada Mei. Total ada 4,5 juta orang petugas pelayanan publik sasaran vaksinasi Covid-19 tahap kedua di Jawa Timur. Pada termin pertama ini yang dapat vaksin baru 460 ribu orang.

“Baru 10 persen. Nanti akan datang lagi vaksin, lalu datang lagi, kami harapkan Februari, Maret, April, Mei sudah tuntas vaksinasi untuk 4,5 juta sasaran,” ujarnya di Kantor PWNU Jatim, Selasa (23/2/2021).

Dia mengakui, vaksin yang datang dan sudah didistribusikan ke berbagai daerah di Jatim, kemarin, Senin (22/2/2021), memang sebanyak 914.200 dosis. Tapi itu untuk jatah dua kali vaksin.

“Kenapa kok hanya 450 ribu orang? Karena setiap petugas pelayanan publik akan mendapatkan dua kali suntikan vaksin. Jadi dosis kedua untuk mereka sudah disiapkan sekarang,” ujarnya.

Penyiapan dosis kedua sejak sekarang itu salah satunya untuk menghindari pemberian vaksin dengan merek berbeda untuk dua termin vaksinasi. Menurut Herlin, hal itu akan membuat vaksinasi kurang efektif. alq/pat/cr2/ana/rmc