Habis Rp 2,5 Juta, Dalam 2 Hari, Hasil Rapid Test Bisa Berbeda

Swab test dilakukan oleh petugas medis kepada warga yang dinyatakan reaktif dalam rapid test. SP/Arlana

Undercover Surabaya Pagi Rapid Test di Surabaya

 

 SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kamerad, sebut saja begitu, pria berusia 37 tahun ini terpaksa pergi ke sebuah klinik laboratorium Parahita di Jalan Dharmawangsa, Jumat (19/6/2020). Meski merasa sehat dan baik-baik saja, dirinya datang hanya untuk membuat surat keterangan Covid-19 untuk sebuah perjalanan menggunakan penerbangan, yang akan dilakukannya pada hari Senin tiga hari kemudian.

Menurutnya, untuk mendapatkan surat keterangan Covid-19 itu, juga harus sama-sama melakukan rapid test. Dia pun merogoh kocek tak sedikit demi dua lembar kertas surat keterangan.

Siang itu, ia datang ke Parahita bersama istrinya, yang juga sama-sama sedang rapid test. Untuk harga, yang dipatok sebesar Rp 475 ribu. Namun Kamerad hanya membayar Rp 390 ribu. “Gila yaahh, rapid test saja segitu. Itu katanya ada potongan. Kalau rapid test terus-terusan untuk bepergian, rugi bandare iki!” cetus Kamerad.

 

Lebih Akurat 90 Persen

Harga segitu, menurut petugas Parahita, akurasinya lebih akurat ketimbang rapid test dari test massal yang dilakukan Pemkot Surabaya dan rapid test di tempat lain. “Ini lebih akurat mas. Pengambilan sampel darahnya pun melalui vena. Kita punya alat yang canggih. 90 Persen akurat,” tukas wanita berjilbab yang menjadi petugas informasi di Parahita Jalan Dharmawangsa Surabaya saat itu.

Sejumlah pemeriksaan sebelum pengambilan test pun dilakukan Kamerad. Mulai mengisi data-data histori calon pasien apa pernah bepergian ke luar negeri, atau pernah bepergian di daerah yang masuk dalam zona merah Covid-19.

Setidaknya, ada sekitar 20 pertanyaan dalam lembar kertas pertanyaan yang diharuskan Kamerad isi. Termasuk menanyakan gejala yang mengarah kepada Covid-19 seperti demam, batuk, pusing, tenggorokan gatal, mual-mual.

Tak lama, petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) level 3, yakni baju hazmat, sarung tangan, masker, kacamata serta face shield, dikenakan petugas yang akan mengambil sampel darah. Saat itu petugas kembali menanyakan kepada Kamerad, “Apa sudah pernah rapid test? Jangan takut yah kalau hasilnya gak memuaskan,” tanya petugas itu.

 

Reaktif, Harus Tes Swab

Kamerad pun langsung menanyakan, “Memangnya kenapa kalau hasilnya reaktif?” tanya Kamerad. Petugas berkelamin pria itu menjelaskan, misalkan kalau non reaktif, tandanya negatif. Sedangkan, kalau reaktif, harus melakukan isolasi mandiri dan segera melakukan tes Swab.

“Kalau reaktif nanti, Bapak harus isolasi mandiri pak. Dan harus segera tes Swab,” jawab petugas.

Dalam hati Kamerad saat itu, sudah ketar-ketir saja. Namun, setelah proses pengambilan sampel darah yang diambil dari darah vena selesai. Kurang lebih 3 jam, hasil bisa selesai.

“Saya kaget, hasilnya ternyata reaktif. Saat menerima hasilnya, salah satu petugas lab, hanya bilang, isolasi mandiri pak. Dan kalau bisa tes Swab segera,” kata Kamerad, yang menceritakan.

Dalam hasilnya yang diterima, tertulis “Hasil pemeriksaan Imunologi Anti SARS CoV-2: Reaktif. Hasil Reaktif harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan RTPCR SARS CoV-2. Lakuan karantina mandiri dengan menerapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) dan physical distancing. Hasil reaktif (kualitatif) tidak dapat digunakan untuk penentuan terapi dan monitoring karena dapat bertahan berbulan-bulan. Bila ada keluhan demam, batuk, sesak nafas segera konsultasikan ke dokter,”.

Kamerad sendiri masih tak percaya. Suasana Kamerad, kacau balau, apalagi stigma bahwa kalau hasil rapid test reaktif berarti positif, sudah tertanam di Kamerad.

 

Hasil Rapid Test Berbeda

Tak puas hasil dengan di Parahita, keesokannya, Kamerad nekat melakukan tes Swab dan melakukan rapid test ulang.

Tes Swab dilakukan di salah satu rumah sakit di daerah Ahmad Yani. Untuk tes Swab harus merogoh kocek Rp 1,5 juta. Namun hasilnya harus menunggu kurang lebih 7 hari.

“Ini pengalaman tes Swab. Tapi bagaimana lagi. Ini saya harus lakukan,” kata Kamerad.

Usai tes Swab, Kamerad kembali melakukan rapid test ulang. Ia lakukan karena penasaran untuk mengetahui hasil cepatnya.

Saat ini ia mencoba di salah satu laboratorium terbesar di Sidoarjo. Ia lagi-lagi harus mengeluarkan kocek uang Rp 400.000. Hasil itu mendapat hasil laboratorium dan surat keterangan.

Ternyata setelah menunggu 3 jam, hasil yang dikeluarkan salah satu laboratorium di Sidoarjo itu non reaktif. Menunjukkan IgG dan IgM, pada hasil, menunjukkan Non Reaktif.

“Lha iyoo, iki sing aneh. Mosok dalam rentang satu hari, hasil rapid test bisa berbeda. Padahal, ditulisannya harus melakukan tes ulang dalam waktu 7 hari lagi. Saya ini penasaran karena ingin tau yang sebenarnya,” katanya.

 

Bikin Masyarakat Gerah

Alhasil, dalam dua hari ini, ia sudah mengeluarkan untuk rapid test hampir Rp 800 ribu dan untuk tes Swab PCR sebesar Rp 1,5 juta. “Total dua hari ini hampir Rp 2,5 juta. Padahal, sebetulnya saya hanya butuh surat keterangan untuk terbang. Makanya saya belan-belani. Padahal tiket pesawat cuma Rp 450 ribu. Opo maneh Cuma berlaku tiga hari. Iki bisnis gedee yo dadhakno,” kata Kamerad.

Hal yang masih menjadi pertanyaan Kamerad, dan mungkin pertanyaan beberapa masyarakat lain, hasil rapid test massal yang dilakukan Pemkot Surabaya dan BIN, apakah bisa menjadi jaminan. “Sekarang kalo saya begini aja, beda satu hari. Lha bagaimana yang lain? Ini khan kasihan masyarakat, kalau yang tes mandiri. Jangan-jangan, hasil di tiap lab atau RS, bisa dimanipulasi,” kata Kamerad, menduga-menduga.

 

Harga Tes Swab Jutaan

Apa yang dikatakan Kamerad, dari penelusuran Surabaya Pagi juga terkuak di beberapa RS dan laboratorium lainnya (Baca berita Headline di Halaman 1 hari ini). Dari undercover Surabaya Pagi, selain Parahita, laboratorium Pramita memasang tarif Rp 350 ribu. Sementara di RS Siloam, tarif mulai dari Rp 350 ribu. Sama halnya juga dengan RS Husada Utama, tarif sebesar Rp 350 ribu. Berbeda dengan National Hospital, rapid test dikenakan harga Rp 400 ribu.

Sementara, untuk tes Swab sendiri, justru berbeda-beda dan harga yang fantastis. Tes Swab di National Hospital, RS yang berada di kawasan elit Surabaya Barat itu memasang tarif Rp 2,7 juta dan bisa selesai dalam dua hari. Bahkan, saat Surabaya Pagi mencoba menelepon melalui pusat informasi National Hospital, harga bisa lebih dari Rp 2,7 juta bila hasil tes Swab selesai lebih cepat. “Kalau hasil bisa selesai lebih cepat, harga berbeda bisa Rp 6 juta pak,” jawab petugas informasi saat ditelpon Surabaya Pagi, Sabtu (27/6/2020).

Sementara RS Siloam Surabaya, harga tes Swab juga dipatok Rp 2,5 juta. Bahkan untuk hasil lebih cepat, bisa lebih dari Rp 2,5 juta.

 

Produk Rapid Test Berbeda

Sementara, salah satu dokter di Surabaya, mengakui kalau hasil rapid test dalam rentang satu hari bisa berbeda hasilnya. Bahkan, dokter itu berani menantang, untuk membuka masig-masing laboratorium dan RS menggunakan rapid test jenis apa. “Sekarang gini, itu berani gak buka pakai rapid test dari mana? Jadi itu hasil rapid test berbeda-beda, bahkan dalam rentang satu hari, dipengaruhi reagennya. Sama produknya dari mana,” kata salah satu dokter yang juga bertugas di RSAL dr Ramelan dan RSUD dr Soetomo, kepada Surabaya Pagi, Jumat (26/6/2020).

Jadi, tambah dokter tersebut, setiap RS terkesan masih sembunyikan produk dan perusahaan pembuatnya. “Jadi gak salah lah mas. Produknya masing-masing RS juga berbeda-beda. Hasilnya aja sudah beda. Ada harga, ada hasil. Apalagi test massal yang ada itu, juga belum tentu,” kritik dokter lulusan Fakultas Kedokteran Unair ini.

Hal senada juga diungkapkan, salah satu dokter asal Jakarta, sebut saja dokter Eren. Dia menyebutkan perbedaan rapid test karena tipe virus yang ada di Indonesia itu ada tiga tipe. “Beberapa waktu lalu disebutin kalo saat ini ada 3 tipe virus, China, Eropa dan Amerika. Dan di Indonesia semuanya ada. Lha apakah satu rapid test bisa mendeteksi ketiga jenis itu?” jawab dokter Eren, kepada Surabaya Pagi, Kamis (25/6/2020).

Ia pun menjelaskan, atas dasar itu, ada banyak pasien yang hasil rapid test dan PCR Swab berbeda-beda. “Itulah, bahkan rapid tes juga bisa beda. Bahkan dengan PCR juga beda. Nah, berarti rapid yang dijual di Indonesia ini supporting yang mana? Masalahnya, pabrikan gak pernah buka rahasia antigen yang dilekatkan bagian yang mana,” jelas dokter Eren. rmc