Harga Mie Instan Naik, Perut Anak Kos Surabaya Tercekik

6 Bulan Terakhir, Harga Mie Instan di Surabaya Sudah Naik

 

SURABAYA PAGI, Surabaya - Harga mie instan diperkirakan akan mengalami lonjakan imbas rantai pasok pangan bermasalah selama masa perang antara Rusia - Ukraina. Lonjakan harga terjadi karena Indonesia bergantung pada impor komoditas dari dua negara tersebut. Apalagi baru-baru ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan karena kesulitan impor gandum dari Ukraina. Dampaknya, harga mie instan akan mengalami kenaikan hingga 3 kali lipat. Padahal, mie instan identik dengan makanan siap saji ala anak kos dan pekerja yang ingin mencari jalan pintas bila lapar. Lantas bagaimana situasi di lapangan khususnya di Surabaya? Tim Surabaya Pagi menurunkan tim wartawan yakni Ikhlas Amin, Restuti Cahya, serta Ariel Dahrullah yang dikoordinir Raditya Mohammer Khadaffi.

 

Kenaikan mie instan ini sendiri bila terjadi yang paling terasa yakni mahasiswa, pekerja yang sedang indekost atau merantau. Seperti jeritan yang dikeluh-kesahkan oleh Noviyta, 25, wanita yang bekerja di salah satu bank Swasta dan masih indekos di Gubeng Airlangga.

Kepada Surabaya Pagi, Rabu (10/8/2022), Noviyta mengaku mengkonsumsi mie instan dalam sebulan bisa lebih dari 10 hari. Hal ini ia lakukan untuk menghemat dan mengobati rasa lapar waktu tengah malam. "Gila apa kalau naik tiga kali lipat. Mending nyetok aja dari sekarang untuk 3-6 bulan kedepan. Abisnya Indomie ini buat kalau lapar malam-malam, pas ada kerjaan di kosan," katanya.

Ia pun memberikan saran kepada pemerintah, karena mie instan merupakan makanan sejuta rakyat, untuk itu, pemerintah juga ikut mensubsidi harga mie instan. Bahkan ia pun menyindir, Menteri Perdagangan yang baru, Zulkifli Hasan, bila diperlukan untuk dibuat mie instan lokal yang lebih murah. "Kalo perlu pak Mendag itu buat mie instan baru kayak minyak goreng Rp 14.000an itu," kelakarnya.

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Wibisono, salah satu anak kos di kawasan Sukolilo, mengaku sebagai penyuka mie instan. Selain karena penyajiannya praktis juga, menjadi makanan kesukaannya.

Tetapi dengan kemungkinan harga mie instan naik, sehingga harus berfikir ulang untuk membelinya.”Namanya juga anak kos, meski disesuaikan dengan jatah bulanan,” tegasnya. Untuk itu, ia pun berharap ada respon dari pemerintah untuk bisa mengatasi masalah kenaikan harga ini. Karena tentu akan berdampak dengan kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.”Kita tunggu solusi pemerintah,” imbuhnya.

Jeritan yang sama juga diutarakan Sujiati, 30, ibu rumah tangga yang tinggal di daerah Darmo Surabaya. Mie instan sudah menjadi bahan pokok kedua setelah beras alias nasi. "Jika mie instan naik 3 lipat, bisa-bisa lapar tengah malam tidak bisa tidur nyenyak," ujarnya.

 

Alami Kenaikan

Sedangkan, terkait rencana kenaikan harga mie instan, ternyata dari pantauan tim wartawan Surabaya Pagi, harga mie instan, pada Rabu (10/8/2022) di sejumlah pasar modern dan pasar tradisional hingga toko kelontong di Surabaya berbeda-beda. Bahkan dalam enam bulan terakhir sudah mengalami kenaikan hingga 20-30 persen.

Untuk harga eceran, mie instan goreng merek Indomie keluaran PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, dijual seharga Rp 3.100 per bungkus. Sama juga untuk mie instan Ayam Bawang milik Indomie, dijual seharga Rp 3.000. Dua varian ini terbilang paling favorit diantara anak kos dan warga kota Surabaya.

Sedangkan untuk harga per satu karton dus, Indomie goreng dijual berkisar Rp 104.000 - Rp 120.000. Sedangkan untuk varian Indomie Ayam Bawang dijual seharga berkisar Rp 105.000 - Rp 125.000 per satu karton dus. Untuk satu karton dus sendiri berisi 40 bungkus mie instan.

Berbeda bila membeli mie instan melalui online, yakni melalui layanan e-commerce. Dari pantauan Surabaya Pagi, harga mie instan dengan penjualan melalui online wilayah Surabaya, untuk Indomie goreng dijual seharga Rp 2.980 per bungkus, sementara Indomie Ayam Bawang dijual seharga Rp 2.780 per bungkus.

Bila dibandingkan pada bulan Januari 2022 sebelum perang Ukraina-Rusia, harga per bungkus Indomie goreng hanya Rp 2.700 sedangkan Indomie Ayam Bawang hanya seharga Rp 2.600 per bungkus. Sedangkan para bulan April 2022, harga mie instan ada peningkatan masing-masing sebesar Rp 200 per varian.

 

Tetap Dicari

Penjualan mie instan untuk merek Indomie sendiri antar toko modern, swalayan, toko kelontong hingga pasar tradisional, perbedaannya nyaris sama.

Seperti dialami Buani, 55, pedagang mie instan di Pasar Wonokromo DTC. membenarkan jika harga mie instan memang naik. "Iya memang benar harga mie instan naik, sekitar sebulan lebih naiknya," kata Buani kepada Surabaya Pagi.

Menurutnya, kenaikan harga mie instan ini dipicu dari naiknya harga tepung yang juga tengah meroket. Yang lebih mencengangkan, semua jenis mie dan bukan hanya mie instan saja yang mengalami lonjakan harga.

"Pokoknya segala macam mie naik semuanya, tidak hanya mie instan tapi segala jenis mie dari tepung terigu semuanya naik. Semenjak harga terigu naik, itu (mie) naik semua. Harga tepung sekarang juga masih mahal," ia menerangkan.

Kepada kami, pria yang sudah berjualan sembako lebih dari 15 tahun ini mengaku dalam kurun waktu lebih dari satu bulan, kenaikan harga mie instan sudah terjadi hingga lima kali. "Jadi dulu ecer dari harga 2500 per bungkus, naik 2600, kemudian 2700, begitu seterusnya kelipatan seribu rupiah, sampai sekarang di harga 3000 untuk mie instan kecil (85 g). Kalau jumbo 4000, dulunya 3000," ia memaparkan.

Pun demikian dengan harga mie instan kemasan per dus. Dulunya mie instan per dus dibanderol dengan harga Rp 92 ribu. Kemudian naik menjadi Rp 94 ribu, Rp 95 ribu, Rp 108 ribu, Rp 109 ribu, dan sekarang Rp 110 ribu per dus. "Sama-sama naiknya barengan antara tepung dan mie instan. Tapi sekarang sudah mandeg notok (berhenti) ndak naik lagi harga tepung sama mie itu. Sudah 10 harian ini posisinya aman, stabil," ia menandaskan.

Kendati demikian, Buani memastikan jika tingkat penjualan mie instan dan mie lainnya di tokonya tidak turun.

 

20-30 Persen

Hal senada juga dialami Bambang, 40, pemilik toko kelontong di daerah Pacuan Kuda Surabaya. Menurutnya mie instan naik sekitar 20-30 persen. "Enam bulan terakhir ini, harga Indomie memang naik. Kalau ditotal dari Januari sampai sekarang, kurang lebih naiknya bisa 20-30 persen," kata Bambang, pemilik toko kelontong di daerah Pacuan Kuda Surabaya, Rabu (10/8/2022).

Bambang juga menjelaskan, tak hanya Indomie, merek lain seperti Mie Sedap, Supermie, juga mengalami kenaikan kurang lebih 20-30 persen. Hanya saja, kalau mie instan mengalami kenaikan sampai 3 kali lipat, tambah Bambang, bagi pedagang sangat susah untuk menstok barang dan menjual ke pasar.

"Wah bisa-bisa gak laku jualannya. Bagaimana bisa kulakan lagi. Paling yah ngandalkan stok lama. Tapi kalau sampai beneran (naik), mau gak mau harus stok banyak dari sekarang. Tapi yang kasihan pembeli. Sekarang aja sudah Rp 3.000, kalau tiga kali lipat naiknya, bisa Rp 9.000," beber Bambang.

Hal yang sama juga diutarakan salah satu Sales Promotion Girl (SPG) yang menjaga di Swalayan Bilka, di Ngagel Surabaya. Dalam enam  bulan terakhir, ia juga melihat ada kenaikan harga mie instan. Namun, kenaikan masih dalam taraf wajar. Hanya saja, kenaikan itu sempat mendapat komentar dari beberapa pembeli. 

"Memang naik dibanding bulan lalu. Tapi ada kastemer disini yang jeli, setiap beli selalu ada kenaikan. Apalagi nanti kalau naik tiga kali, bisa-bisa panic buying kayak minyak goreng dulu itu," kata salah satu SPG yang meminta namanya tidak dipublikasikan. tim