Hari Pertama Kerja, Bupati Sumenep Tingkatkan Marwah Keraton Sumenep

Bupati sumenep, Achmad Fauzi saat menunjukkan pintu Labeng Mesem sebagai akses pintu utama menuju Rumah Dinas Bupati Kab. Sumenep. SP/ Ainur Rahman

SURABAYAPAGI, Sumenep -  Hari pertama kerja, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi ingin mengembalikan Kab. Sumenep kepada asalnya, yakni berbudaya, jadi langkah dan upaya untuk mengembalikan budaya Keraton di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur langsung dilakukan.

Dalam mengenalkan budaya dan kearifan lokal, dirinya bermaksud memberikan teladan dan percontohan bagi siapapun yang ingin berkunjung ke rumah dinas atau ke kawasan Keraton harus masuk lewat pintu utama tersebut, 

“Bahkan Sebelum saya dilantik, saya sudah wanti-wanti menyampaikan agar budaya dan tata cara masuk keraton diubah, dalam artian dikembalikan ke nuansa masa lalu, selain itu saya juga mendapat beberapa masukan dari berbagai elemen yang memang menginginkan agar keberadaan keraton ini benar-benar dijaga kelestariannya,” ucapnya, Senin (1/3).

Selain itu sambungnya, dari berbagai masukan dan pertimbangan dari banyak kalangan “ Saya juga memutuskan agar seluruh tamu yang ingin masuk ke rumah dinas Bupati harus melalui pintu depan, Labeng Mesem. Bahkan termasuk Bupati,” tegasnya

Selain itu, Bupati Sumenep juga menginginkan semua penjaga, pramusaji, dan beberapa petugas lain di area keraton juga harus berpakaian adat Istiadat seperti yang dilakukan oleh para kerajaan dulu, dalam hal ini mengembalikan marwah keraton kab. Sumenep, terutama menjaga kebersihan lingkungan di areal keraton, makanya dilarang merokok sembarangan.

“Kebersihan harus benar-benar dijaga. Area merokok hanya diperbolehkan pada smoking area yang telah ditetapkan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Bupati Sumenep menegaskan, bahwa di area Keraton tidak boleh menghidupkan Musik Modern, makanya di area Andhap Asor itu harus disesuaikan dengan nama yang telah diberikan oleh para raja sebelumnya. “Makanya ditempat keraton itu tidak diperbolehkan memainkan atau memperdengarkan musik modern jadi yang diperbolehkan hanya musik tradisional atau klenengan,” jelasnya.

Dan untuk langkah awal mungkin masih terlihat kaku, namun selanjutnya akan terbiasa ketika akan memasuki keraton melalui pintu utama atau Mandiyoso maka semua tamu wajib melepaskan sandal atau sepatu, dan baru bisa dipakai lagi ketika sudah melewati ruangan atau ketika sudah di pintu utara.

“Di situ nanti juga akan ada petugas yang akan senantiasa mengingatkan,” pungkasnya. ar