Hentikan Vaksinasi! Incar Dana Impor Vaksin Rp 60 T atau...

Dr. H. Tatang Istiawan

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Minggu (9/5/2021) kemarin, saya membaca analisis dari Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Prof Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom. Guru besar Unair ini mengatakan, mutasi virus covid-19 ditemukan berkembang berdasarkan faktor kebiasaan masyarakat dan lingkungan.

Prof Nidom, memberitahu mutasi virus bisa berkembang berbeda antara satu wilayah atau negara.

"Kalau dilakukan di Indonesia saya yakin bahwa Indonesia akan lebih banyak mutasi," ujarnya saat dihubungi sebuah media sosial, pada hari Jumat (7/5/2021).

Menurutnya, tidak bisa dipungkiri mutasi virus sangat berpengaruh pada antibodi yang dihasilkan dari vaksinasi.

Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada vaksin-vaksin yang ada saat ini.

"Beberapa waktu yang lalu masih menganggap bahwa populasi virus Wuhan mendominasi. Ternyata hasilnya kurang memuaskan. Kemudian sekarang bergeser sudah berkurang variannya," terang Nidom.

Meski sulit diterapkan, ia pun menyarankan agar pelaksanaan vaksinasi di Indonesia saat ini dihentikan sementara, sambil melakukan evaluasi terhadap antibodi yang dihasilkan vaksin.

"Oleh karena itu lebih baik saya sarankan lebih baik dimoratorium saja vaksin. Artinya bahwa kita mengevaluasi pelaksanaan vaksinasi ini bukan mengejar hipotesis herd immunty, karena ternyata di India tidak terjadi," jelas Prof Nidom.

Membaca penjelasan dari Prof Nidom, seperti ini, saya merenung dalam-dalam sudah seberapa jauh vaksin Sinovac meresap dalam tubuh saya. Maklum, saya sudah dua kali mengikuti program vaksinasi dari pemerintah di Puskesmas tempat tinggal saya, kawasan Kupang Baru Surabaya.

Sebagai orang awam, saya  jujur saat polemik vaksin berbahan mRNA sintetis Sinovac dan vaksin personal berbasis sel dendritik (dendritic cell) nusantara, saya memutuskan menunggu vaksin ciptaan Dr. dr. Terawan.

Tetapi karena "desakan" RT di rumah saya yang dikirim berulang-kali melalui WA, saya akhirnya mengikut vaksinasi. Vaksin ini prioritas bagi lansia. Padahal saya tak diberitahu pengaruh lansia yang tak mau menjalani vaksinasi saat pandemi corona. Beberapa teman saya yang juga seorang dokter seusia saya, juga menyarankan saya ikut vaksin mumpung ada program vaksin gratis dari pemerintah.

Saat antri vaksin di Puskesmas, bayangan saya teringat cucu saya yang disuruh vaksin oleh dokternya. Seorang bayi meski di vaksin agar tidak mudah terserang berbagai penyakit.

Dokter cucu saya bilang, manfaat vaksin bagi bayi untuk memproduksi antibodi sendiri. Ini untuk mencegah kemungkinan cucu saya yang masih balita terserang berbagai penyakit.

Anak saya sebagai orang tuanya diberi jadwal oleh dokter program imunisasi. Program imunisasi bagi bayi disebut merupakan langkah untuk mencegah penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada balita sehingga tubuhnya resisten terhadap penyakit tertentu.

Kata dokternya, manfaat imunisasi bagi balita bagus untuk menghindari penyakit infeksi berbahaya sehingga si bayi bisa tumbuh sehat.

 Selain itu manfaat imunisasi bisa menurunkan angka kejadian penyakit, kecacatan, hilangnya nyawa seseorang yang disebabkan oleh penyakit infeksi, dan mencegah penyakit epidemi pada generasi mendatang.

Lha saya lansia. Pasti pertumbuhannya berbeda dengan balita.

 

***

 

Menurut Veronica Adesla, psikolog klinis dari Personal Growth Jakarta, perubahan yang terjadi saat seseorang memasuki usia tua yakni perubahan fisik, kognitif dan psikososial. Tiap-tiap aspek yang berubah pada seorang lansia memiliki pengaruh yang berbeda kepada dirinya.

Lansia, katanya harus beradaptasi terhadap ketiga perubahan fisik, kognitif, dan psikososial yang dialaminya. Artinya, ketidaksiapan lansia menghadapi dan menerima perubahan yang terjadi dapat memicu munculnya emosi marah, mudah tersinggung, kesal, sedih, dan frustasi,

Pertanyaan saya saat itu, itu kan pengaruh psikologis. Terkait virus corona, apakah orang lansia juga perlu ikut vaksinasi seperti balita?

Saya berusaha mencari informasi ke beberapa rumah sakit swasta di Surabaya. Ada dokter yang mengirim informasi melalui WA dari Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Sri Rezeki S Hadinegoro.

Ketua ITAGI ini menekankan kepada masyarakat, termasuk lansia agar tidak perlu khawatir bahkan ketakutan terhadap program vaksin. Karena sejauh pelaksanaan vaksinasi COVID-19, kelompok lansia justru memiliki KIPI atau efek samping yang sangat rendah.

Pesannya, gejala yang dialami pasca penyuntikan sifatnya ringan dan mudah diatasi, sehingga lansia diimbau untuk tidak perlu khawatir, manfaat vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan risikonya.

 

***

 

Saat itu saya masih ingat, Vaksin disuntikkan ke lengan saya. Dokter bilang agar tubuh saya saat pandemi tidak terinfeksi atau terjangkit penyakit yang ditimbulkan oleh suatu virus .

Penyuntikan dengan vaksin itu ibaratnya seperti terinfeksi oleh virus, yang mengakibatkan terbentuknya respon kekebalan namun tidak menyebabkan sakit.

Kini saya setelah menjalani vaksin kedua, membaca warning dari Prof Nidom, mulai cemas lagi.

Meski kini satu bulan setelah vaksin kedua, saya tidak mengalami demam, nyeri, atau bengkak  di area suntik, saya menjadi cemas lagi dengan lalu lalangnya informasi penyebaran covid-19 varian baru, seperti yang terjadi di India. Apalagi informasi munculnya varian baru covid-19 dari seorang ilmuwan kedokteran seperti Prof. Nidom.

Kini saya makin  galau setelah membaca laporan Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) . Badan kesehatan dunia ini telah mengklasifikasi jenis mutasi virus berdasarkan karakteristik yang ditimbulkan akibat mutasi.

Yaitu varian of concern ialah varian yang sudah ditetapkan sebagai varian yang mengalami perubahan karakteristik dari karakteristik semula yang berupa angka dan huruf seperti B117, B1357 B11281 atau P1.

WHO juga menyebut ada varian of interest , yaitu virus yang mengalami perubahan genetik namun karakteristiknya masih belum bisa dipastikan yaitu varian yang belum disebutkan sebelumnya.

Sebagai lansia yang masih aktif menulis, saran saya Kementerian kesehatan perlu membuat jurnal penyakit covid-19 untuk lansia.

Mengingat jumlah lansia di Indonesia sekarang ini tercatat 21,6 juta lansia dan per tanggal 30 Maret 2021, menurut Kementerian Kesehatan jumlah lansia yang telah disuntik vaksin baru sekitar 1,5 juta orang.

Dengan bersliwerannya informasi tentang perubahan varian covid-19 saat ini, teka-teki bahwa  Covid-19 adalah produk evolusi alami atau hasil rekayasa genetik untuk senjata biologi. masih akan memun ulkan emosi  dan kekesalan dari warga dunia yang tidak mengerti rekaya genitika dan senjata biologi.

Pemerintah terutama Kementerian kesehatan mesti rutin memberi edukasi ke rakyat Indonesia terutama lansia tentang mutasi virus. Mengingat, lalu-lalangnya tentang variau covid-19 dan mutasinya, yang konon antar daerah dan Negara berpotensi  buruk dalam upaya pengendalian COVID-19 terkait prokes.

 

***

Kemenkes sebaiknya secara rutin mengeluarkan warning ke publik dengan data-data terbaru, bukan sibuk mengurus impor vaksin semata.

Warning ini dari pendekatan ilmu komunikasi, untuk tidak dituding ikut melakukan pembiaran terhadap mutasi virus yang disebabkan meningkatnya laju penularan. Maklum, diantara lansia yang karena ‘’saking khawatirnya’’ ada yang mendalami ilmu kesehatan dan mencium bau amis bisnis vaksin. Antara lain tahu bahwa vaksin di Indonesia itu bisnis bukan sosial.

 Makanya saat ada isu pengembangan jenis-jenis virus yang spesifik ini ujung ujungnya dana impor vaksin. isu ini terkait penurunan akurasi testing di lokasi-lokasi mutasi atau hotspot yang berbeda-beda pada setiap varian,  

Apalagi disertai rencana membuat kualitas PCR yang memiliki target mutasi virus yang spesifik juga, Masya Allah.

Mari menghemat dana Negara dari incaran importir vaksin?. Mari berpikir positif menstimulir dokter dan peneliti vaksin nasional seperti Dr. Terawan dan Prof Nidom, untuk menggiatkan kembali penelitian vaksin dalam negeri dengan nama apa pun termasuk vaksin merah putih dan vaksin terawan (pengganti vaksin nusantara) seperti

temuannya tahun 2017 lalu yaitu Cell Cure Centre di RSPAD.

Saat itu, Cell Cure di RSPAD, hingga pertengahan September 2017, sudah  memeriksa 25-30 pasien yang  menjalani terapi Cell Cure. Diluar itu masih ada sekitar 60-70 orang yang mendaftar untuk mendapatkan treatment dari terapi sel ini. Sampai awal Tahun 2021 sudah ribuan pasien cuci otak yang berhasil diselamatkan Dr. Terawan, dengan Cell Cure.

Sejarah kedokteran di Indonesia, pada tahun 2017 mencatatkan terapi Cell Cure sebagai sebuah metode pengobatan baru di dunia. Terobosan  kedokteran  ini juga tak lepas dari kontroversi, seperti vaksin nusantara berbahan sel dendritik. Sejumlah dokter menilai terapi sel ciptaan Dr. Terawan ini, juga masih dalam tahap penelitian atau uji klinis mendapat penilaian pro-kontra.

Saya bukan peneliti vaksin, tetapi saya warga Negara Indonesia berakal sehat. Pesan moral saya, saat pandemic, apalagi kini ditemukan varian baru mari berhemat gunakan dana vaksin impor.

Pesan moral saya ini untuk semuanya. Mengingat vaksin impor telah mengambil dana APBN. Saat ini untuk urusan vaksin sinovac saja  Kemenkeu telah mencairkan dana Rp 3,67 triliun. Jumlah ini dari anggaran impor vasin sinovav yang diajukan Menkes Budi Sadikin sebesar Rp 20,9 triliun. Jumlah yang tidak kecil.

Jumlah itu dari perkiraan anggaran program vaksinasi corona yakni sebesar Rp 66 triliun hingga Rp 75 triliun. Konon anggaran program vaksinasi corona ini bisa naik atau turun, tergantung pada jatah vaksin corona gratis dari Global Alliance for Vaccine and Immunization (Gavi) COVAX Facility untuk Indonesia.

Harapan Menkes Budi Gunadi, Indonesia bisa mendapatkan jatah vaksin corona 19 gratis secara maksimal dari GAVI. Sementara prediksi  jatah Indonesia dari Gavi sekitar 54 juta. luar biasa besarannya.

Pesan moral saya mbok jangan keterlaluan ya bos-bos. Baik importir maupun pejabat yang ada di Kemenkes dan BUMN. Ingat kasus bansos di kemensos.

 Mensosnya saat masih menjabat berpenampilan sok suci. Ternyata alap-alap juga memotong jatah bantuan sosial untuk orang kecil saat pandemi corona. ([email protected]).