Home / Ekonomi dan Bisnis : Masuk Peringkat Terbesar Kedua di Dunia

Indonesia Belum Jadi Negara Eksportir Produsen Rumput Laut

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 03 Des 2023 10:32 WIB

Indonesia Belum Jadi Negara Eksportir Produsen Rumput Laut

i

Para petani rumput laut sedang panen. SP/ SLW

SURABAYAPAGI.com, Sulawesi - Wilayah Indonesia yang dikenal dengan negara seribu pulau, kian menguntungkan para petani yang melakukan budidaya rumput laut, namun sayangnya komoditas tersebut belum termanfaatkan secara maksimal, sehingga belum sebagai negara eksportir produk hilir rumput laut dunia.

Padahal, Merujuk data FAO 2022 jika Indonesia menjadi negara produsen rumput laut terbesar kedua di dunia dengan volume produksi 9,6 juta ton sedangkan yang produsen rumput laut terbesar pertama adalah Cina.

Baca Juga: Produksi PIT Berbasis Kuota di Zona II Biak-Surabaya Optimal dan Meningkat

Melihat fenomena tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan meresmikan modeling budidaya rumput laut seluas 51,25 hektar di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. 

Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari strategi membangun industri hilir rumput laut nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

"Sesuai petunjuk bapak presiden, kita ingin melakukan hilirisasi karena rumput laut kita produksinya nomor dua di dunia, tetapi kita belum bisa mendapat manfaat yang besar dari sini," ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, Minggu (03/12/2023).

Untuk itu, kata Menteri Trenggono, Wakatobi menjadi salah satu modeling budidaya rumput laut dari empat daerah lainnya yaitu, Maluku Tenggara, Rote Ndao, Buleleng dan Lombok Timur.

“Program modeling budidaya rumput laut menerapkan pengelolaan berbasis kawasan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Lewat strategi ini produksi di hulu dapat meningkat dan berjalan berkesinambungan dengan hasil panen berkualitas,” jelasnya.

Baca Juga: Ekspor Perikanan di 2023 Tak Capai Target, MenKP: Kendalanya Banyak

Fasilitas yang disiapkan KKP mendorong produktivitas di hulu mulai dari unit produksi bibit rumput laut (UPBRL) kultur jaringan. Ada juga fasilitas kebun starter rumput laut, hingga menyiapkan perahu ketinting sebagai sarana transportasi pembudidaya saat beraktivitas. Sedangkan di sisi hilir, KKP tengah menyiapkan fasilitas untuk kegiatan usaha pengolahan.

Menteri Trenggono menambahkan, pelaksanaan program modeling rumput laut melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama produksi. Dengan demikian, program ini sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

Tebe optimis pembangunan modeling budidaya rumput laut dapat menumbuhkan multiplier effect bagi ekonomi daerah dan juga nasional. Dengan adanya kenaikan produksi yang mencapai 186 persen tersebut, Tebe memprediksi akan ada perputaran ekonomi sekitar Rp252 milyar per tahun. 

Baca Juga: PIT Berbasis Kuota Ditunda, KKP: Infrastrukturnya Harus Disiapkan

"Kenaikan produksi ditargetkan bisa mencapai 100.835 ton per tahun atau naik 186 persen. Selain itu kenaikan produktivitas rumput laut basah juga diharapkan naik sekitar 1.567 persen yakni menjadi 150 ton hektar per tahun," kata Tebe.

Hal itu tentunya dapat memicu geliat budidaya rumput laut, sehingga jumlah pembudidaya juga diharapkan meningkat menjadi 772 orang atau naik 10 persen.

“Modeling budidaya rumput laut ini akan memberdayakan sumber daya manusia (SDM) masyarakat lokal dan juga melibatkan tenaga teknis lokal untuk pengelolaan modeling budidaya rumput laut,” kata Tebe. slw-01/dsy

Editor : Desy Ayu

BERITA TERBARU