Intuisi Saya Bilang, Bu Risma Suka Praktikan Playing Victim

Catatan Jurnalis Muda, Raditya M. Khadaffi

 Fenomena Baliho Bu Risma, yang Minta Dibela

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Baliho bergambar Bu Risma, menangis mengurai air mata seperti saya lihat di jalan-jalan, setelah saya analisis, ini cara Bu Risma, mengiklankan diri seolah dirinya didholimin. Ada hal yang sadis yaitu pembuat baliho, menulis “Bela Bu Risma. Selamatkan Surabaya.”

Narasi itu saya nilai sadis, karena dibuat dengan tidak menggunakan fakta. Narasi dalam baliho itu persepsi orang marketing untuk menjual sosok barang dagangan. Ironisnya, Bu Risma nyaman-nyaman saja dieksploitasi oleh pemesan atau pembuat baliho.

Bagi saya jurnalis muda (tak suka basa-basi) pembuatan baliho sekaligus pemasangannya hampir di sudut jalan di kota Surabaya, sebuah kejadian irrasional.

Saat saya kuliah hukum di Unair, gambar baliho bersosok bu Risma, menangis, tak ubahnya seorang korban yang menjelma menjadi pelaku.

Kisah ini menurut dosen Ilmu Kriminologi, telah lama dikenal dalam ilmu victimologi, kriminologi, maupun ilmu psikologi.

Saya amati kisah ini sekarang menjadi objek telaah yang kontroversial, namun real dan kerap kali ditemukan tinggi prevalensinya. Sama seperti kasus Ratna Sarumpet, yang mengaku korban penganiayaan, ternyata dia adalah “pelakunya “.

Kisah Bu Risma, korban tapi berindikasi pelaku, saya teringat dangan novel “Angel and Demons” karya Dan Brown.

Dalam novel ini diceritakan ada permainan menggunakan taktik politik melalui “Playing Victim”.

Taktik politik itu juga ditunjukkan oleh salah satu tokoh antagonis didalam novel tersebut.

Dalam salah satu bagian, novel bercerita bahwa menjelang pemilihan Paus yang baru, salah satu Pastor Muda yang memiliki ambisi politik untuk merebut kursi kekuasaan

Paus, diceritakan tengah melukai dirinya sendiri dengan besi panas bersimbol illuminati. Ini diketahui saat ia tertangkap basah oleh salah satu polisi Vatican yang lebih dahulu mengetahui niat jahatnya. Namun, saat polisi lainnya datang, sang pastor langsung memfitnah polisi tersebut dengan menuduhnya sebagai antek – antek Illuminati (pengkhianat gereja) . Polisi ini dituding telah melukainya dengan besi panas. Peristiwa ini akhirnya berujung pada penembakan polisi tersebut oleh beberapa polisi yang belakangan datang. Lalu diakhir cerita, niat jahat pastor muda yang ambisius itu akhirnya terkuak melalui rekaman CCTV yang ditemukan oleh sang tokoh utama di novel tersebut.

Intuisi kejurnalistikan saya, mencium pembuat “lakon” Bu Risma, dalam dua periode sering memunculkan playing vektim, tak bisa ditutupi oleh anak muda yang belajar kriminologi sekaligus strategi marketing dari China kuno, Sun Tzu.

***

Sebagai jurnalis muda yang membaca situasi politik pilkada serantak saat ini, saya mencatat strategi playing victim sebenarnya kerap dilakukan.

Maklum dari literatur yang saya baca, ada sejarah politik dunia, yang melakukan beberapa konspirasi politik melalui peristiwa – peristiwa yang sebenarnya sudah dirancang dan di propagandakan secara masif. Dan dibuat untuk mencapai tujuan politik tertentu.

Misalkan seperti kejadian Pearl Harbour yang diduga sengaja dilakukan oleh USA. Ini dibuat sebagai dalih untuk melakukan pelemparan Bom Nuklir di Kota Nagasaki dan Hiroshima.

Ada juga teknik Playing Victim yang dilakukan oleh bangsa Yahudi yang dulu memposisikan diri sebagai bangsa terjajah, bangsa terlantar dan tak memiliki Negara. Taktik orang Yahudi memancing simpatik Negara – Negara lain untuk mendukung langkah Yahudi dalam menduduki wilayah Palestina. Dan akhirnya berujung pada didirikannya Negara Israel di wilayah tersebut di tahun 1947.

Menggunakan intuisi jurnalis muda, saya mengamati bu Risma, sangat kentara ikut ber-playing victim dalam berpolitik lokal.

Mungki bu Risma dan konsultan politiknya masih menganggap taktik playing victim masih cukup ampuh untuk dilakukan.

Saya mencatat dari beberapa peristiwa, isu serta wacana – wacana yang beredar di masyarakat, dan bagaimana framing wacana itu dilakukan guna mengemas opini masyarakat menuju sebuah pemahaman tertentu.

Misal, saat penanganan corona Covid-19, bu Risma yang sedang audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya dan IDI Jawa Timur, lagi-lagi menangis menyembah seorang dokter.

Juga saat menemukan tanaman di Jalan Raya Darmo depan Taman Bungkul, diinjak-injak dan dirusak oleh masyarakat Surabaya saat salah satu perusahaan besar sedang membagi-bagikan es krim gratis di car free day, Bu Risma, marah-marah sambil berurai air mata. Bahkan, bu Risma sampai bilang kata-kata kasar kepada panitia es krim itu.

Kemudian, yang terbaru, saat aksi demo buruh dan tolak Omnibus Law, yang berakhir ricuh. Bu Risma juga ngamuk-ngamuk sambil nangis ke para pendemo yang bikin rusuh.

***

Dalam buku-buku ilmu politik yang saya baca, setiap wacana dan peristiwa dibaratkan sebuah potongan puzzle yang bisa memiliki keterkaitan dengan beberapa potongan puzzle lainnya. Artinya jika potongan – potongan puzzle itu disatukan maka akan terbentuk sebuah gambar yang utuh.

Terkait taktik playing victim, saya teringat ajaran Sun Tzu melalui buku 36 Strategi Perangnya. Jadi apa yang saya soroti dengan istilah Playing Victim, juga ditulis.

Sun Tzu, dalam playing viktim memposisikan diri sebagai korban atau orang yang terluka demi mengelabui musuh dan lingkungan.

Taktik ini ditulis tepatnya pada strategi nomor 34, yang berbunyi:

“Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. Masuk pada jebakan dan jadilah umpan. Berpura-pura terluka akan mengakibatkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, musuh akan bersantai sejenak oleh karena dia tidak melihat anda sebagai sebuah ancaman serius. Yang kedua adalah jalan untuk menjilat musuh anda dengan berpura-pura luka oleh sebab musuh merasa aman”.

Ahli strategi perang kuno ini berteori dengan membuat musuh terkelabui, otomatis seseorang bisa lebih leluasa untuk menyerang musuh disaat kondisi mereka sedang lalai. Maklum dalam peperangan, menyerang musuh dalam keadaan santai akan terasa jauh lebih mudah, karena musuh berada dalam posisi belum mempersiapkan strategi apapun untuk melawan. Ini yang dipandang musuh sedang dalam kondisi lemah oleh lawan.

Pertanyaannya, “Mengapa korban dapat menjelma menjadi pelaku?

Jawaban atas pertanyaan klasik itu mungkin dapat mengacu pada pertanyaan “Apakah masih dapat disebut hukum bila hukum tidak dapat mengajarkan rasa sakit pada pelanggarnya?”

***

Saat saya masih kuliah dulu, saya diajarkan bahwa dalam skala tertentu, hukum bisa menjadi standar moral. Ini bila alam sadar maupun alam bawah sadar serta nalar tidak mampu menjangkau kejadian yang menimpanya. Sekaligus tidak mampu ditafsirkan secara memadai oleh si penderita. Dengan kata yang lebih sederhana, si korban tidak dapat menerjemahkan derita yang diterimanya, tidak mampu menjangkaunya secara akal sehat, dan memilih untuk menerima perbuatan tersebut agar tidak timbul luka batin yang lebih jauh.

Teori ini memang dibangun atas dasar asumsi. Dan asumsi ini dapat dirasakan sendiri ke-relevan-nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sebuah psikologi dikabarkan pernah menerbitkan sebuah hasil riset, yaitu anak-anak sekolah dasar yang lebih pandai memahami serta mengidentifikasi perasaan mereka sendiri yaitu cenderung mempunyai karakter yang lebih solid.

Pertanyaannya, apakah mungkin korban kemudian menjadi pelaku dilakukan atas latar belakang kemarahan sehingga hendak membuat orang lain juga mengalami derita yang sama dengan dirinya seperti yang dilakukan para pelaku bully-ing? Bu Risma, bisa menjawab dengan benar. Ini bila Bu Risma, mau jujur.

Pertanyaan ke Bu Risma, relevan dengan pengertian bahasa Inggris tentang victim. Istilah victim dimaknai sebagai seseorang atau sesuatu yang telah terluka, hancur, atau terbunuh atau telah menderita, baik karena tindakan seseorang atau sesuatu yang lain. Istilah victim bisa berbeda dengan istilah korban tersebut terlihat dalam sebuah studi yang disebut viktimologi yang berasal dari kata bahasa latin “victima” dan “logos” atau ilmu pengetahuan.

Viktimologi adalah ilmu yang mempelajari tentang korban sebagai victim, termasuk hubungan antara korban dan pelaku, serta interaksi antara korban dan sistem peradilan  yaitu, polisi, pengadilan, dan hubungan antara pihak-pihak yang terkait - serta didalamnya juga menyangkut hubungan korban dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dan institusi lain.

Dalam pesan iklan Bu Risma, berdoa sambil menangis sendirian, intuisi saya mengatakan ada yang tersirat dan tersurat.

Kata korban sebagai victim dalam Pesan di baliho ini bisa menyeruak Hak Asasi Manusia.

Saya salut pada kecerdasan si pembuat narasi di baliho bergambar Bu Risma. Sementara Bu Risma, yang sudah jadi wali kota Surabaya dua periode (selama 10 tahun) menjadi obyeknya.

Dalam perspektif hukum, Bu Risma yang dilukiskan sebagai korban dimaknai dengan “victim”. Gambarannya Bu Risma, dilukiskan orang-orang baik, tapi digambarkan seolah orang yang telah menderita kerugian termasuk kerugian fisik atau mental, emosional, ekonomi atau gangguan subtansial terhadap hak-haknya politiknya dalam pilkada serentak. Pertanyaan saya, Bu Risma kok mau dijadikan obyek sekaligus subyek playing victim? J ([email protected])