Konflik Investor dan Pedagang Pasar Turi Baru (1)

Investor-Pedagang, Rekonsiliasi, Pasar Turi Baru, 23 Maret Dioperasionalkan

Dr. H Tatang Istiawan

Akhirnya, kepastian pembukaan Pasar Turi Baru (PTB) diumumkan Pemkot Surabaya dan Investor PT Gala Bumi Perkasa. Rencananya, Gedung PTB akan operasi mulai tanggal 22 Maret 2022, setelah ada sosialisasi adendum perjanjian yang disampaikan Ketua Peradi Surabaya, Hariyanto SH., MH. Saya sebagai wartawan senior Surabaya yang mengikuti konflik ini sejak tahun 2012, ingin menampilkan potret perjalanan sengketa bisnis di PTB yang alot dan melelahkan. Maksud tampilan potret ini bisnis curang gunakan aset negara andalkan ego tak terulang lagi. Berikut potret sengketa yang saya tulis dalam tiga seri. Ini potret catatan saya yang pertama.

 

 

 

Pertengahan tahun 2020, Harjono Winata alias Ming Ming, pengusaha nasional dari Surabaya, mengundang saya di hotel Wyndham. Ia yang memiliki sejumlah stan di Pasar Turi Baru (PTB) bertanya pada saya nasib PTB pasca bos PT Gala Bumi Perkasa, Henry J Gunawan alias Cenliang meninggal dunia. Ia mengundang saya, karena ia tahu saya menulis sengketa di PTB secara berkesinambungan secara seimbang (cover both side).

Saya bilang kepada Ming Ming, saya bisa menulis secara mendalam sengketa pasar turi dibanding wartawan lain, karena saya melakukan undercover. Selain mendapat suport data, informasi dan dokumen dari Santoso Tedjo, salah satu direktur PT Gala Bumi Perkasa, kepercayaan Cen Liang.

Ming Ming, berpikir sayang gedung PTB yang ada uang pemikij stan dibiarkan mangkrak. Saya diminta menjajaki dan survei lapangan ke semua stakeholder PTB. Pesannya satu, bila mereka mau berbisnis dengan cingli, Ming Ming mau membantu. Cingli, adalah salah satu falsafah hidup masyarakat China secara turun temurun. Pemahaman harfiahnya orang bermasyarakat, apalagi bisnis harus adil. Maklum, dalam berbisnis, prinsip cingli diutamakan karena mencerminkan integritas seseorang. Disana ada sikap jujur. Tidak diajarkan berbisnis curang.

Penjajakan saya saya mulai dengan menghubungi kelompok pedagang Tionghoa. Maklum, pedagang etnis Tionghoa adalah mayoritas pemilik stan di PGS. Saya menemui pedagang bernama Koping dan Koming. Keduanya tokoh pedagang yang dekat dengan Cen Liang. Kemudian saya menghubungi pengurus Pedagang PTB yang masih membuka stan di TPS ( Tempat Penampungan Sementara). Ada 15 pengurus inti seperti Habib Taufik, H Soehemi, Arwi, H. Rosyid, H. Syukur dan kawan-kawannya. Saya tawarkan konsep bagaimana masuk gedung PTB dengan prinsip bisnis bukan terus menerus bermusuhan. Karena musuh pedagang sudah tiada.

Tawaran saya ini daripada mereka berlama-lama jualan di TPS yang sudah semakin reyot. Setelah ada respon positif, saya menghubungi Totok Lusida, salah satu JO ( Join Operastion) PT Gala Bumi Perkasa. Tokoh REI ini dikenal seorang organisatoris keturunan tionghoa. Totok, setuju PTB dihidupkan tapi dia akan berunding dengan partnernya, H. Turino Junaedy. Selain itu saya juga hubungi advokat Haryanto SH,MH., yang sering dimintai pertimbangan hukum oleh Cen Liang. Kebetulan ia mengenal beberapa kurator yang sedang menangani PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) kasus PT Gala Bumi Perkasa.

Terakhir saya ngobrol dengan beberapa anggota DPRD Surabaya. Selain beberapa pejabat Pemkot.

Informasi dan bahan dari safari penjajakan itu, saya analisis. Ternyata ujung utama konflik adalah kepentingan investor yang cenderung serakah. Sementara pedagang yang masih di TPS, tak mau diakali investor yang ia lukiskan sering berbuat curang ketimbang bersikap cingli. Para pedagang menuntut keadilan distributif. Maklum, para pedagang ini tahu karakter investor. Mereka mendengar, saat menang lelang pembangunan, investor tak punya uang, kecuali utang modal ke Aswi, pengusaha rotal Siantar. Tahun 2010, investor berutang Rp 69 miliar.

Sebagai wartawan yang warga asli Surabaya, saya mau melakukan tugas survei dari Ming Ming, dengan tiga pertimbangan. Pertama, Pasar Turi merupakan sebuah pusat perbelanjaan dan grosir legendaris di Surabaya. Menurut data yang saya peroleh, omset dari Pasar Turi sebelum kebakaran tahun 2007, bisa mencapai 15 miliar setiap harinya. Itulah mengapa Pasar Turi kerap disebut-sebut sebagai pasar grosir terbesar di Indonesia. Kedua, berharap perekonomian di pusat grosir PTB bisa hidup lagi. Ketiga, saya ingin konflik investor-pedagang, dapat diakhir dengan damai, karena orang yang suka andalkan ego sudah tiada.

Kisah awalnya, Investor PT.Gala Bumi Perkasa, kelola PTB bertindak selaku Lead Firm. Cen Liang melalui Raja Sirait, Dirutnya mengajak kongsi PT.Lucida Megah Sejahtera, dan PT.Central Asia Investment. Kongsi ini diikat dalam sebuah payung Joint Operation (JO) bernama Gala Megah Investment.

Konsorsium ini membuat MOU dengan Pemkot Surabaya no.180/ 1096/436.1.2/2010 . MOU yang dibuat pada 9 Maret 2010, pemkot diwakili oleh Bambang DH dan Lead Firm perusahaan JO diwakili oleh Raja Sirait (direktur utama PT.Gala Bumi Perkasa).

Perjanjian dengan walikota Bambang DH dikuatkan lagi dengan berita acara rapat kesepakatan pembangunan pasar turi oleh walikota Tri Rismaharini, pada tanggal 24 November 2010. Praktis kerjasama ini menggunakan konsep Bangun Guna Serah (BGS) dengan jangka waktu 25 tahun. Dalam konsep ini pedagang lama diproritaskan untuk menempati 3800 stand bangunan 6 lantai pasar turi yang baru. Mereka diberikan Hak Pakai Stand oleh Pemkot Surabaya. Baru pada tanggal 10 Oktober 2011 dilakukan serah terima objek bangun oleh Walikota Tri Rismaharini kepada JO diwakili Raja Sirait. Dengan batas penyelesaian pembangunan 14 Februari 2014. Selanjutnya Pasar Turi mulai dibangun pada 1 February 2012.

 

 

 

*

 

 

 

Saya wartawan yang asli arek Surabaya. Kebetulan sejak konflik Pasar Turi baru, saya meliput secara intens. Maklum dengan Cenliang saya kenal sejak tahun 1977. Dengan pedagang saya simpati, karena mereka korban kebakaran yang butuh hidup.

Saat konflik, saya ikuti hasilnya selalu alot, sebab semua yang terkait pembangunan PTB lebih andalkan egonya masing-masing.

Mengetahui sumber sengketa di PTB seperti itu, saya hubungi dua sosok yang berpengaruh di Surabaya. Dua sosok ini kenal dengan keluarga Cen Liang. Selain punya relasi di kalangan orang madura, pejabat pemkot, kepolisian dan TNI.

Pertama ada tokoh pemuda yang kini sudah menjadi aset nasional. Kedua, tokoh tionghoa yang berpengaruh sampai Jakarta yaitu PW Afandi.

Luar biasa!. Laota, nama panggilan akrab PW Afandi, diterima semua stakeholder PTB. Termasuk ahli waris Cenliang beserta kakaknya, Candra Gozali.

Hasil “hearing” dengan semua stakeholder PTB, mereka optimistis dangan turun tangannya PW Afandi, kejayaan Pasar Turi dari masa ke masa dulu, bisa diwujudkan lagi terutama mengatasi konflik antara pedagang dengan investor.

Maklum, konflik ini sampai berlarut-larut, karena para pedagang mencurigai ada permainan kotor yang dilakukan pihak investor atau pengembang.

Hasilnya, proyek yang mestinya selesai tahun 2014 sampai tahun 2019 tak kunjung tuntas. Para pedagang, meminta walikota Risma segera mengambil alih pengelolaan pasar legendaris itu dari tangan PT Gala Bumi Perkasa.

Saat itu, Ketua Kelompok Pedagang (Kompag), Syukur mengungkap, konflik ini dimulai ketika para pedagang yang telah membayar lunas harga stan sesuai ukuran, namun tetap dibebani biaya pemasangan plafon Rp 7 juta per stan dan Rp 10 juta per stan. Biaya erakhir ini untuk biaya pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB), serta beban biaya yang lain.

Padahal, para pedagang ada yang sudah melunasi biaya stan Rp 25 juta, dan ada pula yang masih membayar Rp 17 juta. Tak hanya itu saja, saat undian stan, pedagang yang mendapat lokasi strategis, ditukar dengan tempat yang tidak strategis.

Para pedagang menduga ada pemerasan. Para pedagang ingin Pemkot memutus kontrak dengan investor.

Saat itu, para pedagang, baik di Pasar Turi Lama maupun Pasar Turi Baru, terus berharap Risma segera bisa menyelesaikan konflik di Pasar Turi. Untuk upaya penyelesaian, Risma sempat menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk meminta bantuan pada April 2015 lalu.Tapi tetap menemui jalan buntu. Sebab, antara pedagang dan pihak PT Gala Bumi Perkasa, sudah sulit dipertemukan. Beda dengan cara PW Afandi, memediasi konflik di PTB.

 

 

 

*

 

 

 

Saya menilai perdamaian pemilik kepentingan di pusat grosir terbesar di Surabaya ini karena ada rekonsilisasi antara investor dan pengurus pedagang Pasar Turi korban kebakaran yang menempati TPS ( Tempat Penampungan Sementara).

Sejak almarhum Henry J Gunawan meninggal dunia, tampak ada perbuatan memulihkan hubungan persahabatan antara kubu investor dan kubu pedagang Pasar Turi Baru. Terutama yang masih berjualan di TPS.

Rekonsiliasi ini, jujur karena peran tokoh Tionghoa Surabaya, PW Afandi. Ia bisa mengakomodir kebutuhan ribuan pedagang. PW Afandi juga bisa berkolaborasi dengan advokat Hariyanto dan walikota Eri Cahyadi. Ia juga bisa menampung aspirasi dari tokoh madura yang ada di Surabaya.

Pria yang memiliki relasi berbagai etnis ini dikenal sosok yang mampu memulihkan keadaan ke konsep business secara cingli dengan tenang. Laota, nama panggilannya kini bisa menyelesaikan perbedaan antara investor dan pedagang sampai melibatkan pemerintah kota Surabaya. Termasuk perbedaan kepemilikan saham antar JO di PT Gala Bumi Perkasa. Perbedaan ini dilandasi moratorium. Prinsipnya semua bekerja mengelola stan PTB yang lebih 10 tahun tak terurus.

Menurut saya, rekonsiliasi kali ini adalah produk penutupan dan penyembuhan dari luka lama yang ditimbulkan investor. Rekonsiliasi win win solution.

Dan kini tampaknya kedua “kubu” mau menutup konflik panjang dalam arti tidak membuka permusuhan lagi. Semoga! Kesan kuat yang saya tangkap dari para pedagang TPS dan JO, ada penyembuhan dalam arti direhabilitasi. Subhanallah. Semoga kini Pasar Turi Baru bisa kembali menjadi ikon pusat grosir terbesar di Surabaya, meski saat ini sudah ada PGS, JMP , DTC Wonokromo dan ITC depan Pasar Atom.( [email protected])