Ironis! Diluar PHK, Karyawan Dikelola On Call

Kondisi Hotel Golden Tulip Legacy Surabaya pada Kamis (20/5/2021) yang sudah tak berfungsi. Berbeda pada tahun 2019 lalu, papan nama Golden Tulip masih terpampang di gedung 27 lantai ini. SP/Semmy/Rmc

 

Nasib Pengelolaan Hotel di Surabaya Selama Pandemi. Imbasnya, Omzet Terjun Bebas Dibawah 10 Persen, Kepemilikan Beralih hingga ada Hotel Bintang Lima yang Ditutup Permanen

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Selama pandemi Covid-19, nasib Hotel bintang tiga hingga lima di Surabaya, tak ubahnya hotel yang sama di Jakarta, Bandung, Jogja dan Bali. Mengenaskan!. Selain tingkat okupansi sangat rendah antara 10-40% dan merumahkan karyawan (banyak yang di PHK), kini muncul modus baru pengelolaan. Pihak manajemen hotel berbintang ada yang setelah merumahkan besar-besaran, hidup dengan cara on call karyawan yang di rumahkan. Praktik menyedihkan ini tidak ditolak karyawan. Ini karena simbiosis mutualis saat pandemi. Antara manajemen hotel dan karyawan sudah saling bersepakat, sama-sama hidup, meski dengan income terbatas. Tim undercover wartawan Surabaya Pagi Semmy Mantolas yang dikoordinir Raditya Mohammer Khadaffi, melaporkan dari lapangan sore Kamis (20/5/2021) kemarin dengan perasaan terharu.

Pandemi Covid-19 nyatanya berdampak besar bagi dunia perhotelan di Indonesia khususnya Surabaya. Dari data yang diberikan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, per April 2021 lalu kurang lebih sebanyak 170 hotel dari 600-an hotel di Jawa Timur (Jatim) yang memilih tutup. Sebagian ada yang memilih tutup sementara dan sebagiannya lagi memilih tutup permanen.

Salah satu hotel yang tutup permanen adalah hotel berlabel bintang 5 (five star) di kawasan Surabaya Barat. Adalah Golden Tulip Legacy Surabaya yang berlokasi di Jalan HR. Muhammad 269, Dukuh Pakis, Surabaya.

Dari pantauan Surabaya Pagi di lapangan, tidak ada aktivitas sama sekali di Golden Tulip. Berbeda pada tahun 2019 akhir lalu, saat Surabaya Pagi menghadiri sebuah acara di hotel yang memiliki 27 lantai lebih itu.

Bila pada tahun 2019 lalu, hotel yang berada dibawah manajemen Golden Tulip Indonesia dan kerjasama Louvre Hotels Group asal Amerika Serikat ini, sangat diminati. Bahkan, sering dipakai pesta perkawinan menengah atas di kawasan Surabaya Barat.

Padahal, di Surabaya, Golden Tulip Legacy Surabaya, hadir dengan konsep suasana mediteranian selayaknya hunian mewah kelas atas. Sebelum diambil alih oleh manajemen Golden Tulip Indonesia, bangunan 27 lantai itu bernama Rich Palace Condotel. Rich Palace Condotel ini dikelola oleh perusahaan mendiang Henry Jocosity Gunawan alias Cen Liang, yang satu manajemen dari Rich Prada Bali.

Dari informasi yang dihimpun Surabaya Pagi, sejak mendiang Cen Liang yang mengurusi manajemen Rich Palace dan Rich Prada kolaps, dibeli oleh Golden Tulip Indonesia dan Louvre Hotels Group pada akhir tahun 2018.

 

Sudah Tak Berfungsi

Saat Kamis (20/5/2021) kemarin, kondisi sudah jauh berbeda. Tampak luar, tulisan Golden Tulip yang terbentang di gedung sudah dicopot. Pintu masuk pun sudah ditutup rapat. Hanya ada beberapa petugas keamanan hotel yang berjaga di depan. Sementara di sisi samping hotel, ada beberapa petugas kebun yang membersihkan halaman hotel.

"Iya benar di tutup. Sudah sejak 20 Desember 2020. Kita pun di sini hanya menjaga dan ada tukang kebun yang bersih-bersih, agar tidak kotor tempat ini," kata petugas keamanan yang berpangkat pratama, Adrian kepada Surabaya Pagi, Kamis (20/05/2021).

Dari penelusuran Surabaya Pagi di situs tiket.com, terdapat pemberitahuan bahwa Golden Tulip Legacy Surabaya ditutup permanen. Beberapa komentar dari pengguna jasa hotel pun, sedikit bernada miring.

"Saya sudah check in dua hari tapi disuruh mengeluarkan barang saya di hari ke dua. Resepsionisnya kurang koordinasi dan tidak memahami aturan free breafast menginap dua hari," tulis Pegy Hariawan di kolom komentar pada 19 Maret 2020 lalu.

Tak hanya itu, kepada Surabaya Pagi Adrian mengaku, seluruh pekerja hotel terpaksa di rumahkan dan digantikan dengan pekerja yang baru. "Sekuritinya juga diganti per 20 Desember lalu. Makanya saya sekarang di sini," aku Adrian.

 

Nasib Karyawan

Kendati begitu, Adrian tidak mengetahui secara pasti apakah hak dan kewajiban dari para pekerja hotel dibayarkan oleh pihak managemen hotel atau sebaliknya. "Kurang tau detail, tapi sekarang kembali ke Rich Palace," ucapnya.

Sementara itu, salah satu penjual makanan yang berada persis di depan hotel, Pak To mengaku, mendapatkan keluhan dari seluruh pekerja bahwa ada beberapa karyawan yang kewajibannya belum dibayarkan. "Masih ada beberapa karyawannya yang masih cerita ke saya, kalau masih belum ada yang dibayar. Tapi sebagian yang sudah," cerita Pak To, saat ditemui Surabaya Pagi.

Pak To sendiri telah berjualan di wilayah tersebut selama 17 tahun atau sejak 2004. "Sudah lama, para karyawannya sering makan di sini," akunya.

Saat Surabaya Pagi mencoba menggali lebih jauh terkait hak dan kewajiban para pekerja, Pak To justru enggan berbicara banyak. Namun, dari sepengetahuannya, banyak pekerja yang telah pulang kampung akibat di rumahkan pada 20 Desember 2020 lalu.

"Sempat ada yang pamitan ke saya. Banyak yang pulang kampung semua. Di sini mau kerja apa mereka," tegas Pak To.

 

Sistem On Call

Ucapan Pak To bukanlah isapan jempol belaka. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim, Dwi Cahyono menjelaskan, beberapa hotel di Jatim menerapkan sistem on call. Sistem on call yang dimaksud adalah ketika akan ada acara atau tamu datang, maka karyawan baru akan dihubungi untuk datang. Bahkan karyawan pun hanya bertugas sebagai ‘penjaga pintu’ saja.

"Di seluruh Jatim ada 100-an (yang mengajukan tutup). Yang lainnya bukan berarti sehat, tapi menggilir untuk jadwal karyawannya. Ada yang 30 persen, ada yang 50 persen. Jadi dalam satu bulan masuk 10-15 hari, dicari bagaimana caranya agar karyawan tidak jadi korban yang dirumahkan," kata Dwi Cahyono.

Hal tersebut terjadi akibat menurunnya omzet pemilik hotel hingga di bawah 10 persen. Dengan omzet yang semakin menurun,  mereka harus tetap menghidupi karyawan agar mereka tidak dirumahkan.

 

Beban Listrik dan Pajak

Sejumlah upaya terus dilakukan oleh PHRI Jatim agar usaha hotel dan restoran mendapat bantuan. Salah satunya adalah dengan memberikan keringanan listik dan pajak.

"Karena harus diakui, saat aktivitas masyarakat dibatasi sehingga usaha hotel dan restoran kehilangan tamu/pelanggan, namun beban operasional seperti pajak, listrik hingga air masih dibayarkan seperti biasa," ucapnya.

Melihat turunnya omzet, banyak pemilik hotel yang akhirnya memutuskan mengobral hotelnya secara gencar di situs penjualan hotel. Salah satu situs yang menangani penjualan hotel adalah situs milik perusahaan Filipina, Lamudi.

Hasil riset Surabya Pagi, menunjukan banyak hotel maupun guest house di Surabaya yang dijual dengan kisaran harga Rp12 miliar hingga 190 miliar.

Hotel pertama yang ditemukan adalah homestay Gayung Kebonsari Surabaya dengan luas lahan 600 m2 yang dijual dengan harga Rp12 Miliar. Selanjutnya ada Hotel Zest Jemursari yang diobral dengan harga Rp90 miliar dan fasilitas yang memadai.

Tak hanya itu, hotel berlabel bintang 3 seperti LA LISA Raya Nginden juga diobral di situs Lamudi. Harga yang ditawarkan adalah sebesar Rp135 miliar. Terakhir ada hotel bintang 3 di wilayah Genteng Surabaya yang dijual dengan harga Rp190 miliar.

Bahkan hotel papan atas seperti JW Marriot di Surabaya dilaporkan berstatus dijual. Sejak tahun lalu, hotel ini sudah dijajakan kepada investor anyar, harganya fantastis yakni Rp 2,7 triliun. Hotel ini masuk kategori bintang 5 dengan fasilitas 407 kamar serta 4 restoran, bangunan terdiri dari 25 lantai. sem/er/cr2/rmc