Surat Terbuka untuk Menkes Budi Gunadi Sadikin

Jago Impor Alkes, Ingin Jadi Presiden, Bisa Kuras Devisa

Dr. H. Tatang Istiawan

Yth Menkes Budi Gunadi Sadikin,

Minggu lalu, saya baca Anda ingin maju sebagai presiden 2024 menggantikan Jokowi.

Dari situs seword.com, ada penulis yang “mempromosikan” Anda setinggi langit telah sukses kelola kementerian Kesehatan. Artikel itu diberi judul “Presiden Selanjutnya, Budi Gunadi…” Wow!

Ada rasa baru, haru dan aneh membaca artikel tersebut. Anda seperti malu-malu mencalonkan diri sebagai presiden tahun 2024, seperti menteri menteri Arlangga Hartarto, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno. Arek Suroboyo bilang, cara Anda berpromosi seperti menggunakan

combe (tukang memancing emosi orang ). Relasi kata combe adalah gocik. Kata ini oleh orang Suroboyo diistilahkan orang yang penakut atau pengecut.

Hebatnya, penulis artikel ini (tak jelas backgroundnya) menyebut Anda Menteri Kesehatan yang sangat baik dalam manajemen. Termasuk sistem dan aturan soal penanganan pandemi di Indonesia. Anda dianggap lebih baik dibanding menkes sebelumnya.

Juga Anda dianggap pejabat yang “bocorkan” daftar perusahaan yang berbisnis PCR yang ‘bocor’ ke publik . Anda juga dianggap tidak lebay menangani covid-19.

Bahkan meski di beberapa media, banyak pernyataan yang cukup menakut-nakuti, tapi sebenarnya di lapangan justru aman terkendali. Anda juga ditulis sebagai orang yang mampu melihat semua kelompok masyarakat saat Pandemi ini. Sehingga Anda bisa membuat aturan se fleksibel dan serelevan mungkin untuk semua pihak. Dan itulah yang terjadi sekarang di Indonesia.

Pendeknya apa yang direncanakan Menkes selalu lebih cepat terealisasi. Sehingga Presiden sering memuji Anda dalam beberapa pertemuan tertutup.

 

*

Yth Menkes Budi Gunadi Sadikin,

Publik tidak pernah lupa satu bulan setelah dilantik menjadi

Menteri Kesehatan  (Menkes) Anda telah mengajukan anggaran impor vaksin corona Sinovac China.

Kepada Kementerian Keuangan Anda minta dana sebesar Rp 20,9 triliun.

Kemenkeu memperkirakan anggaran program vaksinasi corona impor telah mencapai Rp 66 triliun hingga Rp 75 triliun. Ini untuk impor vaksin saja, belum alkes lain.

Atas keputusan Anda impor dengan anggaran sebesar itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi atau Menko Marves, Luhut B. Pandjaitan menyoroti. Luhut mengingatkan akibat ketergantungan impor atas alat kesehatan atau alkes (alat kesehatan), telah membuat defisit perdagangan terus naik.

Luhut mencatat defisit perdagangan alat kesehatan Indonesia meningkat 4 (empat) kali lipat dari USD161 juta pada tahun 2013 menjadi USD 531 juta pada tahun 2020.

Padahal, soal produksi alkes, Indonesia sebenarnya punya segalanya. Termasuk vaksin. Bahkan tenaga medis Indonesia bisa buat vaksin merah putih dan nusantara.

Anda sampai kini dengan memiliki otoritas di bidang kesehatan sepertinya tidak memikirkan dampak negatif produk alkes impor yang membanjiri pasar Indonesia.

Sebagai banker, Anda mestinya tahu impor alkes selain menguras devisa negara, juga bisa  berdampak pada minimnya penyerapan lapangan pekerjaan bagi para tenaga kerja di Indonesia.

Anda juga sepertinya abai dengan peringatan Presiden Jokowi, bahwa besaran impor obat dan alat kesehatan telah memboroskan devisa negara. Sekaligus dapat meningkatkan defisit transaksi berjalan. Selain menghambat pertumbuhan industri farmasi dalam negeri.

Terkait dampak impor alkes, bulan Agustus 2020 lalu presiden Joko Widodo malah sudah mengajak seluruh pihak untuk mereformasi sistem kesehatan nasional. Ajakan Jokowi ini untuk menciptakan industri obat dan industri alat kesehatan yang mandiri dan tidak mengandalkan impor.

Apalagi pandemi COVID-19, presiden terus membangkitkan rasa krisis dalam dunia farmasi untuk meningkatkan kegiatan riset, mengembangkan inovasi-inovasi, merevitalisasi industri bahan baku obat di dalam negeri, hingga memperkuat struktur manufaktur industri farmasi nasional. Tapi Anda sampai kini masih semangat datangkan vaksin dan swab dari luar negeri.

Akal sehat saya bertanya bermotif apa Anda terus mengimpor hampir seluruh alat kesehatan Indonesia? Anda apa mau dianggap jago impor vaksin saat menduduki jabatan Menkes? Apakah Anda sedang mencari cuan terkait ambisi Anda ingin melanjutkan Jokowi sebagai presiden? Apakah Anda masih terpesona dengan kabar dari majalah Fober pada tahun 2013. Fober menyebut untuk jadi presiden di Indonesia tahun 2014 mesti siapkan dana Rp 7 Triliun. Apalagi pilpres 2024 mendatang, modal financial seorang capres bisa 3x dari proyeksi dana pilpres tahun 2014?

Seiring dengan pandemi covid-19 yang berkepanjangan, Luhut menekankan bakal memacu pertumbuhan industri perawatan kesehatan. Pasalnya, ada perubahan permintaan konsumen, pertumbuhan kelas menengah, penemuan terapi baru, konsentrasi penyakit & peningkatan pandemi. Maka fokus Luhut minta Indonesia meningkatkan pengendalian biaya, inovasi digital dan telemedis.

Apakah Anda tidak tahu pada tahun 2021 lalu ada anggota DPR-RI yang mendapat informasi sekitar 30 juta unit alat swab antigen menumpuk di gudang. Alat tersebut tidak terserap pasar karena pemerintah tak membatasi kuota impor alkes.

Praktis ada puluh triliun devisa Indonesia terkuras untuk membeli produk impor swab antigen. Sementara produk domestik hasil karya anak bangsa dianggurkan tidak terjual. Kejadian semacam ini tak ubahnya sebuah paradoks yang kasat mata.

 

*

 

Yth Menkes Budi Gunadi Sadikin,

Anda apa sudah menghitung modal financial seorang calon presiden Indonesia tahun 2024?

Dalam pilpres 2014 lalu, seorang pengamat ekonomi memprediksi satu kandidat presiden harus menyiapkan US$ 600 juta (sekitar Rp 7 triliun). Informasi ini dikutip situs Forbes, 20 November 2013. 
Apakah Anda menjangkau menyediakan dana sebesar itu? Walahualam.

Dengan artikel yang bernuansa combe itu tersirat Anda, seorang profesional perbankan

sepertinya memiliki ambisi untuk terjun ke dunia politik.

Padahal Anda seorang menteri yang bukan kader partai politik apalagi pimpinan partai politik sekelas Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto serta Sandiaga Uno.

Apakah Anda tahu diluar modal financial, seorang capres mesti menyiapkan modal sosial, budaya dan politik?.

Selain modal kepemimpinan sekelas

Airlangga, Prabowo dan Sandiaga Uno yang telah dikenal memiliki kapasitas kepemimpinan yang memadai.

Dalam memimpin sebuah negara, kapasitas kepemimpinan itu sangat diperlukan.

Termsasuk prestasi yang terukur di mata publik, bukan perorangan. Pertanyaannya apakah seorang menteri yang jago impor alkes layak dianggap berkapasitas pemimpin rakyat Indonesia yang sangat heterogen?.

Apakah baru menjabat Menkes sejak akhir 2020, Anda layak mengklaim diri seorang pemimpin pro rakyat yang telah teruji. Setahu saya, diluar modal finansial, ada modal kepemimpinan. Modal ini di masyarakat sangat diperhitungkan. Itu artinya kepemimpinan sosial-politik Anda juga harus kuat. Mengingat presiden adalah memimpin bangsa.

Dengan record Menkes yang suka impor alkes, akal sehat saya menyarankan Anda perlu bercermin apa cita-cita Anda ingin berkuasa di Republik ini? Apa Anda ingin jadi oligarki baru atau memperkuat oligarki bidang kesehatan yang sudah ada?. Atau Anda yang punya background banker ingin mengais duit dari jabatan menteri?. Atau Anda ingin lebih tenar ketimbang Luhut Binsar Panjaitan,Erick Thohir, Prabowo atau Sandiaga Uno.

Atau Anda malah ingin ngartis politik dan jualan narasi pandemi?

Atau Anda yang kini suka impor alkes akan balik berkicau anti asing dan impor? Jangan jangan dengan latarbelakang bankir, Anda justru ingin memperkuat liberalisasi ekonomi?

Apakah Anda masih ingat. Presiden Joko Widodo berpesan agar Indonesia saatnya berhenti impor alat kesehatan, obat-obatan, maupun bahan baku obat. Jokowi berharap Indonesia dapat memproduksi barang-barang tersebut di dalam negeri.

Hal itu disampaikan Jokowi saat melakukan groundbreaking Rumah Sakit (RS) Internasional Bali di Kawasan Wisata Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, pada Senin, 27 Desember 2021.

Semoga Anda bisa tahu diri. Awal tahun 2022 Anda mesti mau realistis bahwa ketergantungan pada alkes impor itu kompliketet.

Anda saatnya mau menjelaskan kepada publik kenapa impor alkes yang kontradiktif mesti dibiarkan terus sementara produk lokal Anda “kebiri” misal vaksin merah putih dan nusantara. Apa Anda tidak mengkhawatirkan ada kondisi buruk sekiranya produk Vaksin Merah Putih dan Nusantara, karya inovasi anak bangsa, tidak segera Anda luncurkan seperti harapan presiden. Apa Anda merasa senang bila vaksin Merah Putih dan Nusantara tidak diefektikan penggunaannya untuk vaksin booster. Apa Anda senang dua vaksin dalam negeri ini akan hancur tersudut vaksin impor. Ini bisa jadi Anda saat jadi presiden terus impor vaksin dan ini boroskan devisa negara.

Beberapa teman ekonom menyebut bila ada seorang menteri yang suka impor, saat jadi presiden biasanya tak memikirkan produk dalam negeri secara sehat. Ia membiarkan produk dalam negeri hadapi persaingan yang ketat dengan produk-produk luar negeri. Dalam beberapa kasus, produk dalam negeri seringkali justru lebih mahal dibanding barang hasil impor. Ini karena terkendala persoalan rantai pasok dan jalur distribusi logistik.

Maka itu akal sehat saya bertanya Seriuskah Anda yang telah tercatat sebagai jago Impor Alkes, masih Ingin Jadi Presiden tahun 2024?. Bila itu ambisi Anda, ini kejadian politik luar biasa. Ada kenekadan dari seorang presiden yang berlatarbelakang menteri jago impor. Apalagi yang diimpor alkes, termasuk vaksin!

([email protected])