Polling Patriotisme dan Nasionalisme

"Jangan Hanya Bagi-bagi Bendera, tapi Bagi Modal Usaha..."

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Baru tahun 2022 ini, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI ke-77 Tahun, pemerintah Indonesia gencar membagi-bagikan bendera merah putih secara serentak di seluruh Indonesia. Aturan bagi-bagi bendera merah putih itu diperintahkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Kemendagri telah mengimbau gubernur dan bupati/wali kota untuk mendukung Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih. Hal itu sebagaimana isi surat nomor 003.1/4397/SJ yang ditandatangani Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Suhajar Diantoro.

Menurut Mendagri Tito Karnavian, yang terpenting adalah menghayati makna pembagian bendera karena bagi negara yang plural seperti Indonesia dengan beragam suku, bahasa dan budaya, usaha yang harus dilakukan bersama adalah jangan sampai terpecah.

”Kalau kita sudah solid semua, baru kita bisa membangun dan memperkuat SDM, mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat. Banyak contoh negara yang tidak bisa merawat persatuannya sehingga pecah,” ujar Tito.

Merespon hal tersebut, tim Litbang Surabaya Pagi melempar jajak pendapat ke eleman anak muda di Surabaya Raya dan Jawa Timur, dengan pertanyaan, " Benarkah membangun patriotisme dan nasionalis, hanya dengan membagikan bendera merah putih"

Jajak pendapat, dilakukan dalam tiga hari sejak hari Sabtu tanggal 13 Agustus 2022 hingga Senin tanggal 15 Agustus 2022. Dengan koresponden rentang usia 20 tahun sampai 40 tahun dengan background mahasiswa, pekerja swasta, hingga entreprenuer.

Metode polling dilakukan menggunakan wawancara langsung menggunakan telepon dan WhatsApp. Selain media sosial Facebook dan Instagram.

Jumlah total responden yang dihimpun sebanyak 150 responden. Hasilnya, 115 responden tidak setuju bila untuk membangkitkan patriotisme dan nasionalisme hanya dengan membagi-bagikan bendera merah putih.

Sementara, 35 responden, melihat setuju bahwa bagi-bagi bendera merah putih sebagai bentuk meningkatkan patriotisme dan nasionalisme terhadap NKRI.

 

Tidak Setuju

Dari beberapa responden, tim Litbang Surabaya merangkum dan memilih komentar yang menarik berikut. Seperti salah satunya, Marzuki Husain, 37 tahun, yang tidak setuju kalau bagi-bagi bendera merah putih bisa dikatakan sebagai bentuk patriotisme dan nasionalisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Sepertinya agak lucu juga, saat ini bagi-bagi 10 juta bendera merah putih gratis. Boleh sih, tapi menurut pandangan saya, itu hanya mengajak kesadaran warga untuk ikut menyemarakkan hari kemerdekaan," papar Marzuki, pemuda yang memiliki usaha coffee shop di daerah Rungkut ini, saat dimintai jajak pendapat dari Surabaya Pagi.

Yang terpenting, tambahnya, untuk meningkatkan patriotisme dan nasionalisme kepada generasi muda, dipulihkannya pelajaran Pancasila di setiap buku ajar pendidikan. "Menurut saya, PPKN dan Pancasila perlu ditanamkan lagi. Saya lihat, sejak SD, SMP dan SMA, pelajaran itu, heavy-nya dikurangi. Makanya, moral anak muda sekarang tidak sekuat jaman kita dulu," bebernya.

Dukungan tidak setujunya bagi-bagi bendera merah putih sebagai bentuk patriotisme semata, juga dilontarkan Vidya, 25 tahun, pekerja swasta yang bekerja di bidang garmen. "Bagi merah putih itu tak cukup kalau ingin menumbuhkan patriotisme dan nasionalisme. Karena itu hanya seremonial. Sekarang, untuk menumbuhkan patriotisme, berikan wadah bagi generasi muda melalui program nyata," cetusnya.

Program nyata yang dimaksud Vidya, yakni memberikan lapangan kerja dan memberikan sarana kepada pelaku usaha kecil. "Justru kayak program meningkatkan UMKM itu yang nyata. Kalau perlu, setiap Agustusan gini, beri tambahan modal bagi pelaku UMKM atau pemuda yang ingin mencari kerja. Toh anggarannya lebih baik dicairkan ke hal yang beginian, ketimbang anggaran belanja bendera, yang hanya dipakai satu tahun sekali. Lagi-lagi seremonial, dan rentan disalahgunakan," usulnya.

 

Tingkatkan Nasionalisme

Meski ada yang tidak setuju, ada juga responden yang setuju dengan bagi-bagi bendera merah putih dianggap menciptakan patriotisme. Mereka yang setuju inipun, memiliki sudut pandang yang berbeda.

Seperti, Robert Jawir, 22 tahun, yang menyatakan dukungan bagi-bagi bendera. "Saya lihat, pak Jokowi yang memerintahkan bagi-bagi bendera ke masyarakat, sebagai bentuk mengajak warganya menjadi nasionalis," paparnya.

Robert mencontohkan saat dirinya berada di Malaysia, beberapa tahun lalu. Saat hari kemerdekaan Malaysia, semua warga diajak untuk mengibarkan bendera merah putih. Bahkan, bendera dibagikan gratis. "Nah disini, khan terlihat orang-orang punya jiwa nasionalis. Sementara disini sendiri, kadang orang masih harus diingatkan. Semoga aja ini tetap berlanjut ya," kata Robert.

Pihak yang setuju pun diutarakan Eko Purwanto, 30 tahun, yang menyatakan bagi-bagi bendera merah putih sebagai langkah untuk mengajak anak muda ingat perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Hanya saja, Eko menyatakan setuju dengan catatan.

"Bagi-bagi (bendera merah putih) boleh. Tapi alangkah baiknya, juga bagi-bagi modal bagi pelaku usaha kecil. Apalagi mereka pasti dua tahun sebelumnya sempat terdampak karena Covid. Meski mulai bangkit, tapi tak ada salahnya diberi bantuan," beber Eko. n ana/litbangSP/rmc