Analisa Vaksin Nusantara

Jangan Nyinyir Terhadap Vaksin Karya Anak Bangsa

Dr. Ir. Jamhadi

 

Pendapat Dua Tokoh Informal Leader Jatim Dr. Ir Jamhadi dan Vinsensius Awey

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Seluruh negara di dunia saat ini sedang berlomba-lomba memulihkan wabah pandemi yang diakibatkan virus Corona (Covid-19). Tak terkecuali Indonesia. Salah satunya Indonesia melalui beberapa ahli dan peneliti, sedang melakukan pengembangan dan pengujian sebuah vaksin karya anak bangsa. Hingga kini, vaksin karya putra Indonesia diketahui vaksin Merah Putih dan vaksin Nusantara besutan dr Terawan Agus Putranto.

Saat ini, vaksin Nusantara telah selesai uji klinis tahap satu oleh para peneliti dari RSUP dr Kariadi Semarang, Universitas Diponegoro Semarang dan AIVITA Biomedical Inc. Hasil uji klinis tahap satu itu sedang diteliti oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara vaksin Merah Putih, saat ini masih dalam tahap uji pra klinis di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Namun, produk dari anak bangsa itu nyatanya mendapat banyak tanggapan dari ahli dan peneliti yang merasa tidak setuju dengan kehadiran vaksin buatan Indonesia. Seperti dr. Pandu Riono, dosen Biostatistik dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI dan Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M Faqih.

Hal ini membuat beberapa tokoh informal leader Surabaya menyayangkan sikap para ahli dan peneliti yang terkesan terlalu “nyinyir” dengan vaksin temuan Indonesia.

Salah satunya, Dr. Ir. Jamhadi, MBA., mantan Ketua Kadin Surabaya ini mengatakan seharusnya seluruh elemen masyarakat harus mendukung kontribusi dari anak bangsa untuk pemulihan kesehatan Indonesia. Bukan justru sebaliknya, bersikap negatif dan cenderung nyinyir.

"Kita perlu mengapresiasi anak bangsa dalam membuat formula vaksin Nusantara dan vaksin Merah Putih. Jadi kita harus positif, jangan sebaliknya," ujar Jamhadi, saat wawancara dengan Surabaya Pagi di kediamannya, Senin (22/2/2021).

Ia melihat, justru pemerintah tidak sembarangan dalam hal penyebaran vaksin Nusantara nantinya. Ada ukuran-ukuran atau standar yang harus dipenuhi dalam melakukan vaksinasi. "Pemerintah memiliki perhatian dan tata cara untuk membuat masyarakatnya sehat. Standart untuk vaksin yang dianjurkan dari WHO juga pasti akan dipenuhi," terang Jamhadi.

Selain perlu di apresiasi, karya anak bangsa seperti Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih ini tidak perlu diragukan efikasi maupun efektifitasnya. Pasalnya, pendidikan di Indonesia juga terbilang baik di mata Negara tetangga. "Kalau dilihat di Unair, Mahasiswa-Mahasiswi Kedokteran tidak sedikit yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia, dari Brunei memilih untuk kuliah di Indonesia," jelasnya.

Maka dari itu, Jamhadi yang juga selaku Ketua Apvokasi Jatim menghimbau para ahli, peneliti serta pemerintah harus mendukung produk kesehatan anak bangsa. "Jadi para Ahli dan Pemerintah juga mengupayakan (kesehatan), maka saat ini yang dibutuhkan adalah dukungan penuh," tuturnya.

 

Vaksin butuh Proses

Ternyata, cibiran negatif atas vaksin Nusantara maupun vaksin Merah Putih yang merupakan karya anak bangsa ini menjadi sorotan Politisi NasDem Jawa Timur, Vinsensius Awey. "Kita kan belum ada yang tau (hasil akhirnya). Saat ini sedang pengujian. Tetapi terlepas dari hasilnya seperti apa nantinya, ayolah kita dukung para ahli yang sedang berjuang membuat vaksin itu," tegas Awey.

Dirinya mengajak masyarakat untuk berpikir sederhana dan tidak mencerca vaksin karya anak bangsa itu. "Biarkan vaksin itu berproses dulu. Masih banyak tahapan yang harus dilalui. Belum apa-apa sudah dinyinyirin," kata pria kelahiran 1968 ini.

Dirinya menilai, bahwa persepsi negatif dari para ahli, peneliti dan sebagian masyarakat terkait vaksin Nusantara bisa terjadi beberapa faktor. "Yang negatif-negatif itu bisa jadi mereka tidak mengerti keilmuan dalam hal vaksin, tetapi berbicara seolah-olah Ilmuwan. Ada juga yang mengerti ilmu dan menganggap ilmuwan, tetapi hanya melihat dari kacamatanya sendiri. Tidak terjun dalam pembuatan formula vaksin tersebut," sindir Awey ke beberapa ahli dan peneliti yang memberikan persepsi negatif terhadap vaksin karya anak bangsa.

Awey menyadari, menghapus stigma masyarakat pada Vaksin anak bangsa memang tidak mudah. Namun, dirinya menghimbau, kepada seluruh elemen masyarakat, harus menghargai vaksin itu. “Tunggulah, karena semua butuh proses. Masih ada uji klinis selanjutnya hingga tahap akhir, maupun pengakuan dari BPOM," urai Awey.

Jika memang nantinya gagal, tambah Vinsensius, anggap sebagai sebuah proses usaha. Namun, bila berhasil dan diproduksi sebagai vaksin, tentunya, menjadi kebanggaan warga Indonesia bahwa Indonesia sejajar dengan negara-negara produksi vaksin di dunia. "Kalau berhasil, kita sebagai warga Negara Indonesia juga patut bangga. Karena tidak menutup kemungkinan, vaksin anak bangsa juga akan didistribusikan ke luar negeri. Selain bermanfaat untuk negeri, bisa jadi bermanfaat secara Internasional juga. Jadi tak perlu saling menyinyir, beri dukungan dengan tidak berpolemik. Toh ini semua demi nama Indonesia," imbuhnya. mbi/cr2/rmc