Kalau Tak Mau Divaksin, Berdiam Diri di Rumah Saja!

Arthur S. Simon, SpKK, FINSDV memberi keterangan di video berdurasi 9 menit 58 detik. SP/tangkap layar video dr Arthur

 

Blak-blakan dr. Arthur S. Simon, SpKK, FINSDV soal Vaksin Covid-19

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Wabah pandemi Covid-19 memang sangat meresahkan banyak orang. Namun masih banyak warga Indonesia yang menganggap remeh virus tersebut dengan tidak menerapkan protokol kesehatan yang berlaku.

Menanggapi perihal tersebut dr. Arthur S. Simon, SpKK, FINSDV,  dokter Spesialis Kulit dan Kelamin menjelaskan bahwa ada 3 jalan untuk melewati masa pandemi Covid-19 ini. Penjelasan dr Arthur itu dijelaskan dalam video berdurasi 9 menit 58 detik yang diterima Surabaya Pagi, Senin (18/1/2021).

Diantaranya, pilihan yang pertama dengan divaksin dan jadi kebal dengan adanya vaksin tersebut akan berpartisipasi membentuk herd immunity.

Pilihan yang kedua dengan terinfeksi dan jadi kebal yang konsepnya sama yaitu berpartisipasi dalam membentuk herd immunity, dan pilihan yang ketiga yaitu dengan melakukan isolasi mandiri dirumah sampai terbentuknya herd immunity itu sendiri sehingga tubuh akan kebal dari virus Covid-19 dan terbebas dari pandemi tersebut.

 

Bertahan 8 Bulan

Pada awalnya ditemukan bahwa kekebalan saat terinfeksi virus Covid-19 ini cepat luntur atau hilang, namun pada penelitian “Antibody Responses 8 Months after Asymptomatic or Mild SARS-CoV 2 Infection” ini menjelaskan bahwa virus Covid-19 dapat bertahan sampai 8 bulan lamanya, dan masa berlaku 8 bulan ini hanya untuk yang terkena Covid-19 dengan gejala ringan ataupun OTG (Orang Tanpa Gejala).

“Sehingga banyak orang berspekulasi jika dirinya terinfeksi maka tubuhnya akan kebal terhadap virus Covid-19, hal tersebut belum tentu benar. Sebab para ahli dan ilmu pengetahuan pun juga belum tau faktor apa saja yang mempengaruhi jika seseorang tersebut terinfeksinya virus tersebut akan terkena gejala yang seperti apa, apakah ringan, sedang, berat atau sampai meninggal dunia,”ucap Arthur.

Namun, imbuh Arthur, dari tingkatan tersebut walaupun dengan gejala ringan tetap bisa menularkan virus kepada orang lain yang dapat berisiko hingga kematian.

Menurutnya,  jika tubuh sudah terinfeksi Covid-19 walaupun akan kebal, namun masih ada gejala sisa atau efek sampingnya. “Yang paling sering badan mudah lelah hingga berbulan-bulan, kehilangan indera penciuman dan perasa sampai kerusakan paru-paru yang permanen. Sehingga penting untuk menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menghindari kerumunan, dan lain-lain, untuk mencegah penyebaran klaster Covid-19, “pesan dokter berwajah tampan ini.

 

Berdiam Diri di Rumah

Tidak hanya itu, tukas Arthur, jika vaksin yang akan disuntikkan belum siap di terjunkan maka upaya terbaik adalah dengan berdiam diri di rumah atau melakukan isolasi mandiri untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 diluar sana. Namun jika vaksin tersebut sudah siap diterjunkan maka kita harus di vaksin. Karena itu adalah cara terbaik untuk bergotong royong menghentikan perluasan pandemi ini sekaligus melindungi orang-orang sekitar dan golongan rentan seperti, orang tua, anak, orang dengan penyakit lain dan banyak hal lainnya.

Vaksin pun kini sudah di approve oleh BPOM dan MUI juga sudah menyatakan jika vaksin tersebut halal dan aman digunakan. Sesuai dengan syarat yang berlaku.

Untuk bisa divaksin, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi saat penyuntikkan, termasuk kondisi tubuh yang sehat dan sudah menjalani pemeriksaan riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita. Peraturan tersebut tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Nomor HK.02.02/4/ 1 /2021.

 

Syarat Penerima Vaksin

Sedangkan, syarat dan kriteria yang perlu dipenuhi oleh penerima vaksin Covid-19, menurut dr Arthur yakni tidak sedang demam (≥ 37,5°C). “Jika sedang demam, vaksinasi ditunda sampai sembuh dan terbukti tidak menderita COVID-19. Skrining ulang akan dilakukan saat kunjungan berikutnya,” tegas Arthur dalam videonya.

Kedua, tekanan darah harus kurang dari 140/90 mmHg. Jika lebih, maka vaksin tidak diberikan. Ketiga, untuk pengidap diabetes, apabila calon penerima vaksin mengalami penderita diabetes melitus tipe 2 terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5%, maka dapat diberikan vaksin. 

Keempat, bagi calon penerima menderita HIV, maka angka CD4 harus

Yang terakhir, apabila memiliki penyakit paru (asma, PPOK, TBC) maka vaksin hanya bisa diberikan apabila kondisi terkontrol dengan baik. “Bagi pengidap TBC yang sedang menjalani pengobatan, vaksin corona bisa diberikan minimal dua minggu setelah mendapat obat antituberkulosis,” jelasnya.

 

Penyakit Komorbid

Vaksin corona buatan Sinovac tidak dapat diberikan apabila Anda memiliki kondisi-kondisi pernah terinfeksi Covid-19, sedang hamil atau menyusui, mengalami gejala ISPA seperti batuk, pilek, dan sesak napas dalam 7 hari terakhir.

Kemudian, tidak dapat diberikan bila ada anggota keluarga serumah yang kontak erat/suspek/konfirmasi/sedang dalam perawatan karena penyakit Covid-19. Lalu sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah

Juga sedang memiliki penyakit jantung seperti gagal jantung dan penyakit jantung koroner, dan menderita penyakit autoimun sistemin seperti Lupus, Sjogren Syndrome, dan Vaskulitis.

Lalu tidak dapat diberikan bagi penderita penyakit ginjal, rematik autoimun alias rheumatoid arthritis, penyakit saluran pencernaan kronis, penyakit hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun dan penderita penyakit kanker, kelainan darah, imunokompromais/defisiensi imun, dan penerima produk darah/transfuse.

Vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia adalah Vaksin Sinovac buatan china. Vaksin tersebut merupakan vaksin yang berupa virus Corona asli namun sudah dimatikan sehingga virus tersebut tidak akan menginfeksi tubuh namun tubuh kita dan sistem imun kita bisa mempelajari virus tersebut. Dan setelah tubuh mempelajari virus tersebut maka tubuh akan bisa mengenali virus tersebut dan dapat menangkal virus tersebut.

Ia menambahkan, vaksin ini hampir sama dengan campak maupun polio. Di mana virus tersebut dimatikan dan dijadikan vaksin yang teruji secara aman bagi tubuh. Vaksin jenis ini baik karena mendorong tubuh untuk membuat kekebalan yang sangat menyerupai proses alami seperti ketika kita tertular virus Corona hidup yang kuat namun dalam bentuk vaksin ini virus sudah dimatikan sehingga aman dan teruji. Selain itu proses pembuatannya dikerjakan secara pararel sehingga pengerjaannya terbilang cepat, namun tidak ada satupun prosedur dan aspek keamanan dalam ujicoba vaksin ini yang dihilangkan.

“Sehingga penting adanya Vaksin Covid-19 ini bagi tubuh agar virus tersebut tidak bermutasi-mutasi dan tidak dikenali oleh tubuh sampai menyebabkan kematian. Upaya vaksin ini juga untuk memutus rantai klaster penyebaran Covid-19 di sekitar dan untuk memperkecil kemungkinan untuk tertular dan agar tidak terkena efek Covid-19 tingkat berat, baik untuk diri sendiri, keluarga maupun orang lain,”pungkas Arthur. dsy/cr2/ril