Kapten Yulisaf R, Penemu Sistem Peredam Gelombang dan HD Mooring Buoy

Yulisaf menunjukkan miniatur Sistem Peredam Gelombang di kediamannya di the Gunung Sari, Surabaya, Minggu (6/6/2021). SP/Arlana

SURABAYAPAGI, Surabaya - Sebuah maket sederhana di atas meja menunjukkan tumpukan sedotan plastik yang ditata dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat. 

Siapa sangka jika maket ini merupakan awal dari lahirnya Sistem Peredam Gelombang (SPG) buatan Kapten Yulisaf Ramadhan. Anak Negeri yang telah malang melintang dalam dunia kemaritiman internasional. 

Kapten Yulisaf bercerita, ia memulai riset SPG sejak 2016. Saat itu ia tengah termenung memikirkan sebuah permasalahan dalam dunia pelayaran. 

Kapal ,memerlukan air yang tenang untuk kegiatan bongkar muat apabila berada di tempat yang tenang, Sementara breakwater yang ada saat ini, menimbulkan efek lain yaitu sedimentasi. 

Dari situ ia mulai melakukan uji coba. Kapten Yulisaf hanya punya satu tujuan, membuat tempat yang tenang untuk bekerja di laut. Mengingat dunianya adalah samudera lepas. 

"Itu prinsipnya," terang Yulisaf kepada Surabaya Pagi saat ditemui di kediamannya, The Gayung Sari Surabaya, Minggu (6/6/2021). 

Ternyata penemuan tersebut tidak membuatnya cepat puas. Setelah terjadi tsunami di beberapa daerah, ia mulai berpikir efektivitas SPG sebagai peredam hantaman ombak ganas tersebut. Bahkan, kemungkinan besar bisa menyelamatkan banyak nyawa manusia saat terjadi tsunami. 

Klaim Mampu Redam Ombak Galak 96,18 Persen

SPG kemudian melewati uji coba bersama Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Setelah mendapatkan hasil sesuai harapan berdasarkan teori yang ia pikirkan, Yulisaf kemudian meminta pakar ITS menguji secara saintifik. 

"Pengurangannya (gelombang) 96,18 persen. Siapa yang mau membiarkan hasil seperti itu? Akhirnya saya patenkan pada 2017," ujarnya. 

Jika dianalogikan, katanya, ombak setinggi 10 meter hanya akan tinggal +/- 40 sentimeter aja. 

"Andaikata tsunami 16 meter, terus katakanlah tinggal 0.6 meter. Tinggal air tenangnya aja, ombak galaknya udah teratasi," tambah lulusan Pendidikan Pariwira Pelayaran Besar (P3B) Semarang yang kini berubah nama menjadi Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang tersebut. 

Kapten Yulisaf kemudian menunjukkan cara kerja mini model SPG. Maket tersebut berupa tumpukan sedotan biasa.

Ia memperagakan, gelombang yang datang,  akan masuk ke dalam rongga-rongga dan langsung diurai menjadi bagian kecil-kecil. Hasilnya, gelombang menjadi aliran air tenang. Bentuk tepian penahan sengaja berupa sudut naik. Layaknya analogi ombak yang surut saat di bibir pantai. 

"Analogi itu yang saya tiru," terang bapak tiga orang anak ini. 

"Sudah momentumnya dibagi kecil-kecil, kemudian partikel airnya bergesekan dengan dinding pipa,ditambah gravitasi bekerja karena bentuk sudutnya yang naik, sehingga mengurangi kecepatan ombak tersebut" tambahnya.

Dalam temuan ini, ada tiga hukum fisika dasar yang berlaku. Zat cair akan berubah sesuai dengan wadah, momentum besar dibagi menjadi kecil-kecil, friksi,dan hukum gravitasi di mana air yang naik ke permukaan lebih tinggi akan surut dengan perlahan. Apalagi, sistem ini menerapkan prinsip bersanding dengan alam, bukan bertanding dengan alam. 

"Jadi bekerjasama dengan alam, bukan melawannya," ucapnya. 

Awalnya ia resah dan merasa bersalah andai sistem temuannya ini ia simpan sendiri. Kapten Yulisaf kemudian mencoba membagikan di akun Instagram dan YouTube pribadi. 

"Tapi kita jadi nggak dosa setelah kita publikasikan seperti ini, tinggal pemangku kepentingannya bagaimana menyikapinya," tandasnya. 

Bahkan pada akhir 2020 lalu, Kapten Yulisaf berkeliling di pesisir pantai selatan. Sempat ada sebuah berita tentang ancaman tsunami 20 meter karena aktivitas gempa. Menyamar sebagai seorang wisatawan biasa, pria ini menanyai pendapat beberapa  nelayan dan warga pesisir. Sejauh apa kekhawatiran mereka terhadap berita tsunami? 

Ada yang mukanya langsung berubah marah, karena sejak berita hasil kajian itu viral di media massa, omzetnya sebagai ojek perahu turun drastis,karena wisatawan takut datang ke pantai, sedangkan pada kajian itu tidak memberikan jalan keluar bagaimana penanganan untuk mengurangi dampak nya. Ada pula yang pasrah. Dan ada juga yang antusias dengan video SPG yang ia tunjukkan. 

"Ada yang berpikir kritis soal jalur evakuasi yang tak memadai. Namun, rerata mereka bertanya lantas apa antisipasi dari pemerintah untuk menjaga keselamatan mereka," ujar Kapten Yulisaf.  

Penemu Heavy Duty Mooring Buoy

Perjalanan Kapten Yulisaf dalam bidang riset dan penemuan rupanya telah berlangsung sejak lama. Ia juga penemu Heavy Duty Mooring Buoy. Alat penahan kapal saat parkir di laut tanpa membuang sauh. Mooring Buoy buatannya mampu menahan hingga enam kapal tongkang. 

Kapten Yulisaf memang memiliki minat yang sangat besar dalam teknologi marine (pelayaran). Hal tersebut tak lepas dari debut karirnya selama ini. Setelah tamat P3B Semarang pada tahun 1983, ia direkrut untuk Wajib Militer (Wamil) di TNI AL. 

Beberapa tahun di TNI AL, ia kembali ke pelayaran swasta. Bahkan pernah menjadi nahkoda di Saudi Arabia saat perang teluk tahun 1991. Kemudian menjelajahi samudera menuju satu negara ke negara lainnya. 

Tak berhenti di situ, Kapten Yulisaf sempat bekerja di Singapura selama 7 tahun dalam bidang oil pollution control (mengontrol pencemaran minyak di laut untuk Asia Pasifik). Ia dilatih oleh para tenaga ahli dari Oil spill Servive Center (OSSC)England. Selanjutnya, Kapten Yulisaf Ramadhan naik tingkat menjadi seorang trainer. Sampai saat ini sesekali ia masih mengajar dalam bidang tersebut. 

Sejak 2002-2013, Kapten Yulisaf terjun di industri batu bara menjadi transhipment operation. Di tempat kerjanya ini, Kapten Yulisaf menemukan buoy. 

Buoy sendiri adalah alat apung yang dikoneksikan atau ditahan dengan penghubung ke dasar laut. Kegunaan buoy sendiri bermacam-macam. Mulai dari buoy tambat, untuk kapal,buoy navigasi (navigation buoy), tsunami buoy tempat sensor & detektor tsunami, alat bantu menjaga pertahanan dan keamanan negara, pengembangan pariwisata, hingga mendukung industri perikanan. 

Buoy temuan Kapten Yulisaf memanfaatkan jangkar yang ditambatkan ke dasar laut. Salah satu dari banyak fungsi buoy adalah menjaga kapal kapal aman dari arus atau gelombang air laut yang kuat. 

"Di situlah buoy saya temukan, bukan saya ciptakan. Saya mengaplikasikan pengalaman di oil field di off shore untuk kepentingan batu bara," ujar bapak tiga orang anak ini,yang tertua berkecimpung sebagai sarjana perminyakan,yang no 2 pelaut dan kecil dokter muda ini. 

Lalu, apakah temuan itu langsung berhasil? Kapten Yulisaf menggeleng. 

"Tidak, saya tiga kali gagal. Karena saya nggak ada dasar tekniknya. Buoy saya bikin, satu minggu pecah kena tekanan air. Saya angkat lagi, kemudian saya kasih sekat empat di dalamnya, saya cemplungin lagi. Anteng selama tiga bulan, bocor halus, tenggelam lagi, saya angkat lagi. Habis itu saya inject dengan special foam import bertahan 12 tahun," bebernya mengisahkan. 

Setelah itu, Yulisaf dipindahkan ke Kalimantan Timur tugasnya  Management minta untuk dibuat lagi 2 unit yang sama dengan itu,guna memenuhi kebutuhan operasional,dengan kualitas yangi lebih baik, jadi inovasi," tandasnya. 

Buoy temuannya tersebut memiliki kelebihan mampu digantungi enam tongkang setiap harinya. Masing-masing tongkang dengan berat 8.000 ton. Butuh waktu lima tahun mulai 2006 hingga 2011 guna memastikan keamanan peralatan tersebut. 

"Saya tunggu lima tahun (2011) ternyata aman. Saya patenkan, baru dia gugur 2019 tanpa maintenance. Jadi dari 2006-2019," jelasnya. 

Setelah itu ia putuskan untuk tidak lagi bekerja di perusahaan orang lain. Namun sejak 2013 ia fokus mengembangkan perusahaan miliknya bernama PT Mitra Persada Bhakti (MPB). Berbekal pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang marine, serta berkecimpung di bidang oil pollution control lebih dari 15 tahun. 

PT MPB sendiri telah berdiri sejak 2006 silam dan mendapat kepercayaan besar dari para customer atas kiprahnya pada berbagai sektor kemaritiman, termasuk fabrikasi dan pemasangan Heavy Duty Mooring buoy, Buoy Navigasi (SBNP) serta Oil Spill Training.

Setidaknya lebih dari 20 unit Heavy Duty Mooring Buoy (HDMB) produk PT Mitra Persada Bakti (MPB) telah tersebar mulai dari Aceh sampai ke Timor Leste.

Antara lain PT MPB membangun Hera Fuel Terminal (Timor Leste) dengan konsep Floating Terminal, yang memadukan system Conventional Mooring Buoy dengan Oil Floating Hose yang telah menghasilkan efisiensi yang luar biasa dibanding pengangkutan fuel via trucking sebelumnya.

HDMB menghasilkan pengiritan biaya yang  signifikan dan penghematan waktu, serta keamanan terhadap cuaca buruk bagi armada penggunanya. Antara lain TNI AL di Kepulauan Natuna, Tambang Batubara di Meulaboh Aceh, PLTU Naganraya Aceh, Kaltim Prima Coal di Kalimantan Timur, PKN Kalimantan Utara.

Design & Engineering HD Mooring Buoy  tersebut telah meraih Sertifikat Paten dari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kemenkumham RI dengan No Cert IDS.000001349.

"Ya, saya makan dari buoy aja. Kadang-kadang 1-2 setahun. Sudah ada di Timor Leste 5 unit, mereka juga puas dengan performancenya. Dan di Indonesia telah terpasang di industri batu bara, PLTU, mudah-mudahan tahun depan ke Pertamina juga," kata Kapten Yulisaf.

Buoy Hilang, Jangan Salahkan Nelayan

Kapten Yulisaf bercerita, hampir tiap tahun muncul berita pencurian buoy Tsunami Early Warning System (TEWS). Apalagi ada informasi tentang potensi ancaman tsunami 29 meter di pantai selatan Jawa. 

Beberapa pihak menduga konon hilangnya buoy atau TEWS ini diduga dicuri oleh nelayan. Padahal, menurut Kapten Yulisaf, nelayan kelaut bukan untuk iseng atau mencuri. Nelayan ke laut mencari ikan untuk menafkahi keluarga, bukan mencari buoy. Hatinya tersentuh. Sejauh ini ia melihat keberadaan buoy merupakan tempat berkumpul ikan karena mungkin bentuknya disukai ikan. 

"Tapi itu kan sulit dibuktikan, sehingga nelayan dikambing hitamkan," katanya. 

Selama ini ia melihat kemungkinan buoy putus atau lepas terbawa tekanan gelombang laut arus yang kuat terus menerus, kemudian hanyut dan tanpa sengaja ditemukan nelayan. 

Buoy tsunami harusnya tetap mengapung di lautan. Maka, perlu praktisi yang memiliki jam terbang agar pemasangan buoy tidak mudah putus. Kapten Yulisaf juga membuka kesempatan untuk berkolaborasi agar pemasangan buoy TEWS di tengah lautan mampu bertahan dari terjangan gelombang dan arus yang kuat. “Jangan sampai Gugur sebelum Bertempur” dengan tsunami, seperti yang sering terjadi selama ini. By