Kasus Covid-19 Turun, Jawa Timur Menuju Daerah Layak Endemi

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat rapat koordinasi bersama satgas Covid 19 Jatim

BERITA INI DISUPPORT OLEH BPBD JATIM

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Di tengah upaya menuju transisi dari status pandemi menuju endemi, perkembangan persebaran Covid-19 di Jawa Timur (Jatim) terus menunjukkan tren melegakan. Dalam sepekan terakhir, jumlah pasien baru mengalami penurunan signifikan.

Bukan hanya itu, tingkat hunian rumah sakit (RS)/layanan kesehatan juga makin melandai. Kini yang jadi PR Jatim adalah melakukan pengendalian epidemiologis agar bisa menjadi daerah layak berstatus endemi. Yakni menurunkan positivity rate alias perbandingan antara jumlah kasus positif dan jumlah tes yang dilakukan.

Kasus Covid-19 aktif di Jatim mengalami penurunan sebanyak 903 pada Rabu, (16/3/2022). Pasien Covid-19 yang sembuh bertambah 1.770. Sementara pasien yang meninggal bertambah 37. Berdasarkan data Satgas Covid-19 Jatim kemarin Rabu, (16/3), jumlah kasus aktif Covid-19 di Jatim saat ini tersisa 7.663. Menurut Juru Bicara Satgas Covid-19 Jatim, Makhyan Jibril, grafik tersebut terus menurun setelah mencapai puncaknya pada pertengahan Februari 2022 lalu.

“Terus turunnya kasus aktif di Jatim ini juga karena jumlah penambahan kasus lebih sedikit dibanding pasien yang sembuh,” katanya, dikutip dari Kominfo Jatim, Rabu, (15/3).

Untuk BOR Covid-19 gelombang ketiga di Jawa Timur saat ini mulai mengalami penurunan baik BOR Covid-19 di RS Statis, RS Darurat Covid-19 maupun Isoter. Saat ini BOR ICU di rumah sakit rujukan COVID-19 Jatim terisi sebanyak 20% dari total 1.428 tempat tidur. Untuk BOR isolasi di rumah sakit rujukan Covid-19 Jatim terisi 17% dari total 13.249 tempat tidur.

Lalu, apa Jatim sudah layak masuk ke masa endemi? Jibril menerangkan, hingga kini WHO belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang indikator apa saja yang jadi acuan sebuah provinsi/ daerah layak endemi.

Sejauh ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru merilis indikator daerah yang dianggap mampu melakukan pengendalian epidemiologis. Artinya, kasus bisa ditekan dan angkanya tak naik. Salah satunya adalah angka positivity rate yang harus di bawah 5 persen.

Sejauh ini Jatim belum mencapai level itu. Hingga kemarin, tingkat positivity rate di provinsi ini masih 9,38 persen. Meski demikian, capaian Jatim sudah jauh membaik dibandingkan bulan lalu yang berada di angka 16 persen.

Diprediksi, angka positivity rate di Jatim akan turun lagi. Mengingat capaian saat ini masih dihitung dalam acuan pekan lalu. ”Dalam evaluasi Kementerian Kesehatan, capaiannya memang dihitung per pekan. Hasil hari ini (kemarin, Red) merupakan hasil rekap kejadian minggu lalu,” katanya.

Sementara untuk indikator capaian pengendalian lain, seperti BOR, sudah berada di bawah standar WHO. ”Kami akan terus menekan angka kasusnya dengan menggenjot vaksinasi di daerah-daerah,” terangnya.

Tingkat okupansi di sejumlah layanan kesehatan rujukan pasien Covid-19 memang sudah jauh menurun. Bahkan, ada yang 0 persen alias tidak ada pasien lagi. Seperti di Rumah Sakit Darurat Lapangan Bangkalan (RSDLB). Sejak Jumat (11/3) sudah tak ada pasien di sana.

”Terakhir hanya satu pasien. Dan sudah dipulangkan,” ucap Ketua Pelaksana Relawan Pendamping pada Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 (PPKPC) RSDLB Rahadian Jadid.

Sebelumya, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, Omicron meningkatkan jumlah pasien tanpa gejala atau orang tanpa gejala (OTG), bergejala ringan, sedang, dan berat. Namun, pasien OTG mengalami peningkatan paling signifikan. Dampaknya, peluang terjadi penularan menjadi lebih besar karena OTG masih bisa beraktivitas normal, bahkan memiliki mobilitas tinggi.

Sementara, secara nasional, jumlah orang divaksin dosis pertama dan dosis kedua di Jatim menempati posisi tertinggi kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Adapun jumlah vaksinasi dosis ketiga di Jatim menempati posisi tertinggi pertama nasional.

Namun, Khofifah menambahkan, upaya vaksinasi saja tidak cukup. Upaya ini harus dibarengi dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan ketat, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak aman, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Hal ini untuk menjamin seseorang aman dan tertular ataupun menularkan Covid-19 kepada orang lain.

”Protokol kesehatan 5M dan vaksinasi harus berjalan beriringan sebagai kunci melindungi diri dan orang sekitar dari penularan Covid-19, terutama varian Omicron yang memiliki karakter sangat menular,” ucapnya.

Mantan Menteri Sosial ini mengatakan, pihaknya juga meningkatkan upaya kuratif dengan cara menguatkan surveilans melalui 3T (testing, tracing, dan treatment) di 38 daerah. Meningkatkan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan yang meliputi peningkatan rasio tempat tidur penanganan Covid-19, menyiapkan pengaturan tenaga kesehatan dan non kesehatan untuk antisipasi lonjakan kasus, pemenuhan logistik kesehatan, serta menyiapkan alur layanan dan sistem rujukan pasien.

“Percepatan vaksinasi dan pengetatan protokol kesehatan menjadi kunci pengendalian kasus varian Omicron,” tegasnya. arf