Kejar Herd Immunity, Gubernur Khofifah Vaksinasi Pelajar dan 18+

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau vaksinasi pelajar di SMA Negeri 6 Surabaya, Kamis (22/7/2021). SP/Riko

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Untuk mempercepat terwujudnya herd immunity atau kekebalan kelompok di Jawa Timur. Vaksinasi massal terus digerakkan di setiap lini dan kelompok warga. Bahkan, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dalam sehari kemarin, terus memantau vaksinasi massal. Mulai di kelompok pelajar hingga di kelompok warga berusia 18 keatas (18+).

Dimulai dengan memantau vaksinasi di kelompok pelajar di SMA Negeri 6 Surabaya, kemudian menggerakkan vaksinasi yang digelar Kejaksaan Tinggi Jawa Timur di Gedung Islamic Center Jalan Raya Dukuh Kupang Surabaya, Kamis (22/7/2021).

Didampingi Kepala Dinas Pendidikan Dr Wahid Wahyudi, Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini memberi semangat kepada para pelajar SMAN 6 Surabaya yang sedang antri suntik vaksin. "Alhamdulillah vaksinasi untuk pelajar sudah berjalan di sejumlah Sekolah di Jawa Timur," jelas Khofifah, Kamis (22/7/2021) sembari menyapa pelajar dan petugas medis di sekolah yang lokasinya bersebelahan dengan rumah dinas Gubernur Jatim itu.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga menyatakan bahwa cakupan program vaksinasi Covid-19 di Jawa Timur paling tinggi jika dibandingkan dengan cakupan vaksinasi provinsi-provinsi lain di Indonesia. "Kemarin dari rakor bersama Pak Wapres, hanya untuk Jatim kita melaporkan bahwa capaian vaksinasi mulai Januari 2021 selalu capaian dosis tertinggi, baik dosis pertama maupun kedua," katanya.

 

Jatim Tertinggi

Menurut data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, jumlah warga yang sudah mendapat suntikan dosis pertama vaksin COVID-19 di Jawa Timur sebanyak 7.058.237 orang, lebih banyak dibandingkan di DKI Jakarta (6.693.688 orang), Jawa Barat (5.134.735 orang), Jawa Tengah (4.523.284 orang), dan Bali (2.946.919 orang).

Warga yang sudah mendapat dua suntikan vaksin atau sudah selesai menjalani vaksinasi di Jawa Timur tercatat sebanyak 2.694.731 orang, lebih banyak dibandingkan di Jawa Barat (2.315.419 orang), Jawa Tengah (2.311.019 orang), DKI Jakarta (2.041.918 orang), dan Bali (783.613 orang).

Gubernur Jawa Timur optimistis dengan cakupan vaksinasi yang sudah dicapai Jawa Timur bisa mewujudkan kekebalan komunal terhadap Covid-19 pada Agustus 2021. Mantan Menteri Sosial itu mengimbau warganya segera menjalani vaksinasi dan memastikan anggota keluarga mendapat suntikan vaksin. "Pastikan bahwa kita dan keluarga sudah tervaksin," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Wahid Wahyudi mengatakan bahwa 82 persen guru dan tenaga kependidikan sudah mendapat suntikan dosis pertama vaksin Covid-19 dan 72 persen guru dan tenaga kependidikan sudah mendapat suntikan dua dosis vaksin atau sudah selesai menjalani vaksinasi. "Vaksinasi kepada guru dan tenaga pendidikan akan dilakukan hingga 100 persen," kata dia.

Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 pada pelajar, ia mengatakan sudah dilakukan di Surabaya, Tuban, dan Jombang, dan akan terus ditingkatkan cakupannya. "Beberapa hari lalu vaksinasi dilaksanakan di SMAN 5 Surabaya, saat ini SMAN 6 Surabaya, dan besok (Jumat hari ini, red) SMA Trimurti Surabaya. Harapannya adalah saat pembelajaran tatap muka terbatas dilaksanakan semua warga sekolah sudah divaksin," kata Mantan Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur tersebut.

 

Vaksinasi di Hari Bhakti Adyaksa

Setelah di SMAN 6 Surabaya, Khofifah meninjau vaksinasi massal yang digelar Kejaksaan Tinggi Jawa Timur di Islamic Center Surabaya. Gelaran vaksinasi massal dalam rangka Hari Bhakti Adyaksa yang ke-61 dan HUT Ikatan Adhyaksa Dharmakarini ke-21.

“Apa yang dilakukan kejaksaan tinggi Jatim ini selain mendukung upaya pemerintah untuk mengakselerasi vaksinasi nasional guna mencapai target, juga memudahkan masyarakat untuk memperoleh vaksin. Terimakasih Pak  Kajati Jatim,” ungkap Khofifah.

 

Khofifah menyebut pandemi global COVID-19 telah menyebabkan rangkaian disrupsi dalam tatanan kehidupan. Berbagai upaya preventif ditempuh pemerintah, salah satunya adalah pelaksanaan vaksinasi. Tujuan yang ingin dicapai dengan pemberian vaksin adalah menurunnya angka kesakitan dan angka kematian akibat virus ini sehingga Indonesia bisa segera keluar dari pandemi Covid-19.

Meskipun tidak 100% bisa melindungi seseorang dari infeksi virus Corona, namun Khofifah menegaskan bahwa vaksinasi yang dilakukan dapat memperkecil kemungkinan terjadinya gejala yang berat dan komplikasi akibat COVID-19.

“Itu sebabnya jika masyarakat memiliki kesempatan untuk vaksin covid-19, ada baiknya tidak menunda dan segera dilakukan. Jangan pedulikan hoax mengenai vaksin yang sengaja disebar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,”ujarnya. rko/cr3/rmc