Kemenparekraf Akan Jadikan Indonesia Pusat Fashion Muslim Dunia

Berbagai fashion busana muslim. SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Indonesia merupakan negara yang menjadi negara ketiga konsumen busana Muslim terbanyak setelah Turki dan Uni Emirat Arab. Oleh karena itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berharap Indonesia bisa menjadi pusat fashion Muslim dunia karena memiliki modal, SDM, pasar, hingga fashion designer yang berkualitas.

Menparekraf Sandiaga Uno menyebutkan dari total PDB sebesar Rp 1.100 triliun, sebesar Rp 175 triliun disumbang oleh subsektor fashion. Sebanyak 33,4 persen pelaku ekraf di Indonesia berasal dari subsektor fashion dimana totalnya mencapai 2,5 juta orang. Nilai ekspor subsektor fashion juga yang terbesar, total mencapai 15 juta dolar AS pada 2019.

“Saya yakin anak muda saat ini bisa menjadi lokomotif perubahan kedepan. Lantaran sekarang lebih terbuka, lebih inklusif, dan gerakan ekonomi syariah ini paling dinikmati oleh anak-anak muda,” katanya, Senin (28/6/2021).

Sandiaga juga menjelaskan sumbangsih PDB sektor ekonomi kreatif (ekraf) bagi Indonesia sudah menjadi nomor tiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dengan Hollywood dan Korea Selatan dengan K-POP.

“Sektor ekraf sudah menyumbangkan PDB sebesar Rp 1.100 triliun dari 17 subsektor ekraf, yang didominasi fashion, kuliner, dan kriya. Jumlah masyarakat Muslim kita selama ini hanya menjadi pasar dan kita ternyata banyak mengimpor produk-produk halal," kata Sandiaga.

"Karena itu kita harus menjadi pemain bukan menjadi penonton, kita ingin menjadikan Indonesia atau Jakarta sebagai Moslem fashion capital of the world. Karena kita memiliki semuanya. Baik desainernya, pasarnya ada, perlu dukungan dari semua untuk mewujudkannya,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Erick Thohir kembali menegaskan optimismenya. Dia yakin target menjadikan Indonesia sebagai produsen produk halal terbesar dunia pada 2024 tercapai. Saat ini Indonesia masih berada di urutan kelima.

“Kita harus bangkit dari tidur dan zona nyaman. Ini waktunya kita ubah harapan menjadi kenyataan serta pencapaian untuk menjadi produsen produk halal terbesar pada 2024,” ujar Erick. Dsy9