La Nyalla, Tokoh Surabaya, Berpeluang Nyapes 2024

Dr. H Tatang Istiawan

 

Selamat Datang Politik Akal Sehat Jelang Pilpres 2024 (5-habis)

 

 

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Awal Februari lalu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) mengidentifikasi 15 nama calon presiden yang salah satunya diprediksi bakal lolos menjadi presiden pada Pilpres 2024 mendatang.

15 nama itu diprediksi berdasar hasil penelitian menggunakan 2.000 koresponden yang dianggap mewakili seluruh populasi di Indonesia.

Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar, mengatakan lembaganya menentukan 15 nama tersebut berdasar hasil rangkaian survei terhadap penilaian tokoh-tokoh tersebut sejak Oktober 2018 hingga April 2019.

Diantara 15 nama capres potensial 2024, salah satu di antaranya dikategorikan sebagai sosok misterius dengan latar belakang tak terduga.

15 Nama dari kenjang Pemerintah Daerah ada nama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Sementara jenjang Partai Politik bertengger nama Prabowo Subianto dari Partai Gerindra dan Sandiaga Uno, dari Partai Amanat Nasional (PAN). Ada juga Ketua Umum Golkar Airlangga Hartanto. Tak ketinggalan politisi Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Lalu, dari Partai Demokrasi Indonesian Perjuangan (PDIP) Puan Maharani dan juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

Sementara Jenjang Jabatan Pemerintahan tercatat Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kepala Badan Intelejen Nasional Jenderal Pol. Budi Gunawan. Mantan Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian dan Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Satu orang lagi, kata Rully Anwar, bisa didefinisikan sebagai Mr atau Ms X yang merupakan capres dari latar belakang yang tidak terduga.

Nah, presiden Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi, bisa menjadi capres sebenarnya secara tidak terduga. Justru politisi yang gencar kampanye seperti Prabowo, sampai tiga kali nyapres tidak pernah terpilih.

Prediksi saya, capres 2024, bisa jadi mengikuti “tradisi” presiden Indonesia sebelum sebelumnya, dipilih karena tak terduga. Misalnya, “kecelakaan” kayak Gus Dur dan Habibie. “Kudeta” seperti dilakukan Soeharto saat gulingkan kekuasaan Soekarno. SBY, yang nyelonong mencapreskan diri saat masih menjadi menterinya presiden Megawati. Peristiwa ini membuat Megawati sewot sampai kini masih perang dingin. Juga Jokowi, juragan mebel dari Solo, yang bukan ketua umum partai politik seperti Prabowo, tak ada yang menduga pria ini bisa menjadi orang nomor satu di Indonesia. Bahkan sampai memimpin negeri ini dua periode.

***

Nah, La Nyalla Matalitti, tokoh pemuda dari Surabaya keturunan Bugis (kakeknya), bisa jadi akan mengisi ruang presiden tak terduga.

Tokoh Pemuda Pancasila dan mantan Ketua Kadin Jatim ini bisa jadi Mr X capres dari latar belakang yang tidak terduga analisa Lingkaran Survei Indonesia.

Mengikuti karir sosialnya, La Nyalla, akal sehat saya bisa geser calon presiden ideal 2024 yang masih memunculkan nama-nama politisi tua, sekelas Prabowo Subianto.

Apalagi nama-nama calon presiden (capres) yang saat ini menjadi pilihan masyrakat baru didasarkan pada popularitas semata, bukan berdasarkan pada integritas dan elektibilitas.

Diluar politisi dan tokoh pemuda, ada politisi tua seperti Prabowo, Gatot Nurmantyo, Moeldoko. Mereka pensiunan jenderal yang sudah berkiprah sejak era reformasi bergulir. Praktis para politisi tua itu memang populer, tapi jauh dari ideal.

Sama halnya dengan AHY, Ketua Umum Partai Demokrat yang minim berkarir di publik dan politik. Lebih-lebih track record di militer hanya sampai pangkat melati satu yaitu mayor.

Demikian juga Puan Maharani, salah satu Ketua DPP PDIP. Meski ia beberapa kali duduk sebagai wakil rakyat di Senayan, suaranya tidak pernah diperhatikan kayak Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan Benny K Harman.

Kualitas Puan, tak beda jauh dengan Ibas, wakil rakyat rata-rata di Senayan. Saya menilai “keunggulan” Puan hanya dia anak Megawati, Ketua Umum DPP PDIP, bukan politisi Senayan garang kayak Khofifah, saat menjadi anggota DPR-RI pada saat Orde Baru.

Hasil kajian bank data Surabaya Pagi sejak maju pilgub di DKI Jakarta, 2017 integritas AHY masih jauh dari ideal. Demikian juga rekam jejaknya di publik. Secara politik, wajar-wajar saja kini AHY bikin kegaduhan politik melempar isu kudeta.

 Hal yang sama ditorehkan Puan Maharani, baik saat menjadi seorang Menko PMK dan Ketua DPR-RI. Popularitasnya justru dikenal karena matikan mikrofon saat wakil rakyat dari Fraksi Demokrat berbicara.

Tak beda dangan Airlangga Hartarto, yang kini menjabat Menko Perekonomian yang juga Ketua Umum Partai Golkar. Di dalam partai beringin, Airlangga tidak terlalu mengakar kayak Megawati di PDIP dan SBY di partai Demokrat.

Praktis selama dua tahun sejak pilpres 2019, catatan litbang harian Surabaya Pagi masih sulit menemukan calon presiden yang ideal sesuai harapan masyarakat. Terutama dari politisi muda. Maka  La Nyalla, bila kini ia mau mencalonkan diri menjadi capres, elektabilitasnya bisa lebih besar ketimbang AHY, Puan maupun Airlangga.

Prediksi saya, dalam pilpres 2024, bila La Nyalla Matalitti, memang mau maju jadi capres, ia bisa geser popularitas tiga Ketua Partai berbasis Nasionalis seperti AHY, Puan dan Airlangga.

Apalagi mencatat kultur politik di Indonesia, hampir semua presiden dihadapkan pada suatu persoalan kompleks yaitu  ekonomi, politik, sosial dan agama.

Isyaratnya calon presiden 2024, pengganti Jokowi, harus memiliki modal politik dan sosial yang seimbang. Syarat ini ada pada La Nyalla.

Akal sehat saya berkata, tokoh pemuda Pancasila Jawa Timur termasuk politisi muda yang bisa menjadi calon presiden alternatif tahun 2024.

Dalam level politisi muda, La Nyalla, terutama setelah ia menjadi Ketua DPD-RI, ia bisa menguber elektibilitas Sandiaga Uno, yang terus menurun. Terutama sejak ia mau ditunjuk menjadi salah satu menterinya.

Reputasi La Nyalla setelah menjadi Ketua senator Indonesia, terus menaik. Publik mencatat La Nyalla telah berbuat dan melakukan sesuatu yang membentuk opini publik secara positif untuk masyarakat. Salah satu pengabdiannya yang paling menonjol ia sudah keliling (blusukan) di daerah- daerah sampai kabupaten terpencil di Papua.

Upayanya ini belum pernah dikerjakan oleh semua Ketua DPD sebelumnya. Termasuk era OSO.

Dengan aktivitas politik dan sosialnya selama ini, memori yang terekam di benak publik Indonesia, La Nyalla sudah blusukan gaya senator, bukan birokrat, juga bukan gaya kepemimpinan Ketua Partai politik.

Namanya relatif bersih dari kasus korupsi. Mengingat dugaan korupsi saat Kajati Jatim dijabat Maruli Simorangkir, ia telah diputus bebas sejak Pengadilan Tipikor Surabaya hingga Kasasi di Mahkamah Agung.

Praktis, La Nyalla mewakili politisi muda yang telah berbuat sesuatu sehingga tercatat mengabdi nyata pada memori publik. Terutama dibanding politisi muda yang kini memimpin partai politik.

Prediksi saya, dengan kegiatan keliling nusantara saat menjadi Ketua DPD-RI, La Nyalla, tercatat satu-satunya tokoh muda yang pengetahuan tentang problem Indonesia era globalisasi, terluas. Ini karena ia menyerap aspirasi masyarakat Indonesia yang multi kultutal dari beberapa Gubernur, Walikota, Bupati, Rektor sampai bakul-bakul di pasar tradisional.

Akal sehat saya menyebut, La Nyalla mewakili politisi muda yang telah berbuat sesuatu dan popularitasnya bisa akan naik hingga akhir 2023. Prediksi saya, ia bisa jadi menggeser popularitas politisi-politisi tua yang pernah menjadi peseterunya, Prabowo Subianto.

La Nyalla Matalitti, saya prediksi merupakan capres tahun 2024 dari latar belakang yang tidak terduga.

Sejarah mencatat, sejak menjadi Ketua DPD-RI, namanya telah mewarnai dinamika politik nasional. Namanya menjadi pembicaraan  pasca keterpilihan Jokowi, presiden periode kedua.

***

La Nyalla Matalitti, saya kenal sejak tahun 1990. Ia adalah pemuda yang gigih dan pantang menyerah. Saat teman sebaya ikut geng-gengan gaya anak muda perkotaan. La Nyalla, lebih sholeh dari pengusaha muda lain, karena ia suka puasa Daud. Ia juga sudah berwirausaha mandiri sejak tahun 1980an. Padahal ayahnya pejabat di Universitas Airlangga Surabaya.

Saat itu ia mengelola bisnis pameran bernama “Automaras”. Sebagai penyelenggara pameran di Jatim, ia dikenal memiliki kedekatan dengan beberapa Gubernur sejak (Almarhum) Soelarso.

Pria lulusan Unibraw Malang ini, tahun itu sukses menyelenggarakan pameran-pameran industri yang sekarang bernama expo. Keuletan, kegigihan dan kemandiriannya yang membuat La Nyalla, banyak kawan.

Apalagi saat mendapat limpahan dari Yapto Soerjosoemarno, untuk memimpin organisasi masyarakat, Pemuda Pancasila tingkat provinsi Jatim.

Sejak itu, namanya makin dikenal di kalangan politisi, pebisnis dan organisasi pemuda. Hal yang membuat La Nyalla, makin dikenal publik. Termasuk saat ia sering bergaul dengan wartawan wartawan yang tergabung di PWI Jatim. Tak salah, ia diangkat menjadi anggota Dewan Penasihat PWI Jatim,

Praktis, kawannya bukan sekedar anggota PP (Pemuda Pancasila), tetapi juga pengusaha, wartawan, politisi dan birokrat. Ia juga berteman akrab dengan pengusaha Tionghoa sekelas PW Afandi. Juga Santoso Tedjo, pengusaha ekspedisi Pelabuhan Tanjung Perak. Menariknya, La Nyalla juga dekat dengan tokoh tokoh Madura Ikamra seperti H. Ali Badri.

Tahun 1995-an ia mulai mengembangkan bisnis dari semula pameran ke bisnis rekanan proyek dan kontraktor.

Saya mengamati, sejak menjadi kontraktor, jaringan bisnisnya makin meluas sampai di Jakarta. Apalagi ketika Gubernur Jatim dijabat Basofi sampai Soekarwo. Kekuatan jaringan bisnis dan sosialnya, tidak tertandingi oleh pebisnis pribumi dan politisi mana pun di Jawa Timur.

Hal yang mengundang decak kagum saya, meski ia bukan kader partai politik, jaringan ke elit politik lokal, luar biasa. Temannya ada politisi nasionalis sampai kader partai berbasis Islam.

Apalagi saat mendirikan travel umroh, namanya makin moncer. Beberapa wartawan dan anggota ormas di umrohkan gratis. Ia sendiri, dalam satu tahun bisa 3-4x umroh. Sampai di Saudi ia dikenal pengusaha takjir Indonesia.

Aktivitas kerohaniannya, membuat La Nyalla, dikenal suka sodakoh. “Teman yang saya kenal, ternyata tidak ada pengusaha muda seperti Mas Nyalla untuk urusan  sodakoh dan pertemanan,” kata Ir. Airlangga Satriagung, ketua Koni Jatim dan Direktur Utama Wira Group. Airlangga adalah teman dan sahabat La Nyalla.

Saya sendiri tahu, sejak tahun 2010 setiap menjelang puasa, ia sudah membeli puluhan ton beras, kurma dan berkarung-karung sarung. Ini disodakohkan ke anak yatim.

Kantor dan rumahnya untuk pengajian dan sholat berjamaah selama satu bulan. Kegiatan ini lengkap dengan takjil dan santapan buka puasa. Beberapa wartawan senior sampai memberi julukan La Nyalla, sang dermawan dari Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Di Jalan pusat kota ini, ada kantor Pemuda Pancasila. Selain itu teman-teman semasa SMA yaitu SMA 3 Surabaya, kadang mengajak La Nyalla menjadi donatur saat reuni tahunan.

Pria ini saya kenal pemuda yang konsisten membela teman sekaligus suka membantu teman yang ada masalah. Terutama ekonomi.

Makanya, saat ia ada perseteruan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo, hampir semua tokoh Ormas, politisi dan wartawan di Surabaya, mensuport La Nyalla.

Demikian juga saat ia “dikuyo-kuyo” Kajati Jatim Maruli Simorangkir, dengan tudingan gratifikasi. Teman-temannya bukan menggindar, tapi mensuport. Sampai tempat tahanan di Kejagung, saat ia ditahan, tiap malam ada pengajian. Dan yang memberi semangat juga ibu-ibu. Ini menggambarkan keluasan pergaulan La Nyalla, yang tidak membedakan gender.

Dukungan terhadap La Nyalla, juga datang dari wartawan olahraga Siwo Jakarta. Ini saat La Nyalla, ditunjuk menjadi Ketua Umum PSSI.

Apalagi saat ia sudah dilantik menjadi Ketua DPD-RI. Pamor La Nyalla makin glowing. Maklum, dalam usia sudah kepala 6, La Nyalla, masih mampu blusukan ke berbagai daerah di Indonesia.

Dalam satu minggu, ia bisa menghadiri 5x pertemuan di 3 daerah pulau jawa dan Sumatera. Luar biasa.

Kesan yang saya peroleh, selain menyerap aspirasi dari masyarakat, La Nyalla makin banyak teman di daerah-daerah dan tampak sehat.

Pertemuan saya dengannya di lobi hotel JW Marriot Surabaya, pada bulan Desember 2020 lalu, wajahnya cerah dan fisiknya kuat. Sosoknya mencerminkan Mensano in corporesano. Mas Nyalla, semoga terkabul cita-cita Anda. Amiin. ([email protected]).