Lagi, Penembakan Massal di AS, Tewaskan 3 Orang

Aparat di lokasi kejadian penembakan yang terjadi di persimpangan Great Hills Trail dan Rain Creek Parkwa, Austin, Texas. SP/Reuters

SURABAYAPAGI, Texas – Peristiwa penembakan massal kembali terjadi di Amerika Serikat (AS),  sebelumnya penembakan terjadi di fasilitas FedEx Indianapolis, Kams (15/4) telah menewaskan 8 karyawan. Kali ini teror kekerasan yang melibatkan senjata api tersebut terjadi di Austin, ibu kota negara bagian Texas. Sedikitnya 3 orang meninggal dalam penembakan pada Minggu (18/4).

Departemen Layanan Medis Darurat Wilayah Austin-Travis mengatakan dua wanta dan satu pria tewas dalam peristiwa penembakan yang terjadi di persimpangan Great Hills Trail dan Rain Creek Parkway tersebut.

"Tidak ada pasien lainnya yang dilaporkan atau ditemukan pada saat ini," cicit departemen tersebut di Twitter sekitar satu jam setelah insiden itu pertama kali dilaporkan.

Kepala polisi sementara Austin, Joseph Chacon mengidentifikasi pelaku sebagai Stephen Broderick yang berusia 41 tahun. Diduga, pelaku adalah seorang mantan detektif daerah yang diskors karena melakukan pelanggaran.

Hal itu diperkuat dengan sebuah laporan media lokal yang menyebut, seorang detektif Kantor Sheriff Travis County dengan nama yang sama, dikenakan sanksi cuti administratif pada Juni lalu setelah dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak.

“Kami memiliki beberapa informasi awal, di antaranya tersangka sebelumnya adalah seorang penegak hukum, tetapi hal itu perlu dikonfirmasi lagi," kata Chachon ketika ditanya latar belakang tersangka, seperti dikutip dari Reuters, Senin (19/4).

Pembunuhan itu, yang menyusul serentetan penembakan massal di Amerika Serikat, mendorong pihak berwenang untuk mengunci daerah sekitarnya, yang mencakup kompleks perbelanjaan populer di bagian barat laut kota, yang merupakan ibu kota Texas.

Meskipun polisi menurunkan deskripsi awal mereka tentang situasi tersebut sebagai ‘insiden penembakan aktif’, mereka meminta penduduk daerah untuk berlindung di tempat saat pihak berwenang mencari tersangka.

“Kami khawatir dia mungkin akan menyandera dan berlindung di suatu tempat menunggu kami pergi,” kata Chacon./na