Machfud-Mujiaman Ungkap Angka Stunting di Surabaya Tinggi

Machfud Arifin dan Lita Machfud sempat mendatangi salah satu keluarga yang memiliki anak menderita stunting di Banyu Urip Lor .SP/Alqomaruddin.

 

SURABAYAPAGI, Surabaya - Pasangan calon nomor urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman menyebut angka stunting di Surabaya masih tinggi. Data per tahun 2019, berdasarkan rilis Bappenas, jumlah penderita stunting di kota pahlawan mencapai 22 ribu kasus.

Angka itu berbeda dengan data yang dipegang Pemkot Surabaya yang menyebut stunting hanya berjumlah 15 ribu. Data yang tidak sinkron antara Pemkot Surabaya dengan Bappenas membuat Machfud Arifin heran. 

"Saya punya datanya, Pemkot nyebut 15 ribu, Bappenas 22 ribu, nggak tahu turun dari mana, dibilang stunting nggak ada, ini kan lucu. Apalagi sekarang masa pandemi, dimana ekonomi juga sulit," ujar Calon Wali Kota Surabaya Machfud Arifin usai mengikuti debat publik pertama di JW Marriot, Rabu (4/11) malam.

Alumni SMPN 1 Surabaya ini mengungkapkan, dari sejak dulu data yang dimiliki Pemkot Surabaya selalu tidak sinkron. Bukan hanya jumlah stunting, data angka kemiskinan juga tidak sinkron. "Saya hafal datanya. Data kemiskinan juga sama, dibilang turun, ya turun dari kakeknya ke cucunya, ke cicitnya dan seterusnya," ujarnya berkelakar. 

Mantan Kapolda Jawa Timur ini mengaku beberapa kali menemui warga yang menderita stunting. Padahal penanganan kasus stunting ini dianggap sangat krusial karena dapat mempengaruhi perkembangan generasi masa depan bangsa.

"Kalau tidak ditangani sejak dini, stunting akan menjadi beban negara. Pertumbuhan banyak yang kurang normal, gampang sakit, maka ini perlu selalu ditekankan pentingnya penanganan sejak awal," ujarnya.

Arek Ketintang Surabaya ini menegaskan tentang perlunya melakukan tracing sejak awal, terutama dari dalam kandungan. Jumlah orang hamil di Surabaya perlu dideteksi sejak dini, sehingga penanganan terhadap stunting sudah dimulai dari kandungan. 

Sementara itu, Calon Wakil Wali Kota Surabaya Mujiaman mengaku jika dipercaya memimpin Surabaya akan membuat sistem informasi kesehatan, terutama tentang ibu hamil. Tujuannya adalah memastikan semua warga Surabaya mendapat layanan kesehatan yang cukup.

"Seorang mantan Kepala Bappeko (Eri Cahyadi) mengaku Surabaya zero stunting, ini lucu. Padahal jumlah kasus stunting banyak di Surabaya," ujarnya.

Mantan Dirut PDAM Surya Sembada Kota Surabaya ini menjelaskan, selain membangun sistem informasi kesehatan, perhatian kepada generasi Surabaya akan ditambah dengan bantuan-bantuan lainnya. "1000 hari pertama kehidupan akan dibantu dengan permakanan, dan juga pembinaan pra nikah," katanya.

Diketahui, Machfud Arifin dan Lita Machfud sempat mendatangi salah satu keluarga yang memiliki anak menderita stunting di Banyu Urip Lor. Bunga (bukan nama sebenarnya) yang masih berusia 3 tahun hanya memiliki bobot 2,8 Kg. Padahal, berat badan normal anak perempuan usia 3 tahun kisaran 10,8-18,1 Kg. 

Ayah Bunga, Arifi Afrianto (42) hanyalah buruh isi ulang galon, sedangkan ibunya  Katemi (46) berprofesi sebagai penjahit. Mereka tinggal di kos-kosan sederhana selama 24 tahun lebih. 

"Pernah dapat bantuan dari Puskesmas susu SGM dikasih 6 kardus sebulan, hanya 3 bulanan dapatnya, katanya biar cepat besar bayinya," aku Katemi.

Katemi mengaku, selain bantuan dari Puskesmas, tidak pernah mendapat perhatian apapun dari Pemkot Surabaya. Beruntung ada Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kemensos yang membuatnya masih tersentuh bantuan pemerintah.

"Hanya PKH, ngak pernah ngajukan apa-apa juga ke Pemkot, karena nggak pernah didata," ungkapnya. Alq