Manfaatkan Tren Hobi Saat Pandemi, Kini Sukses Berbisnis Jelly Art

Imroattus Sholichah dan Siti Fatimah ketika proses mengerjakan jelly art. SP/ TLG

SURABAYAPAGI.com, Tulungagung - Dengan melihat tren hobi saat ini, kedua kakak beradik, Imroattus Sholichah dan Siti Fatimah menuangkan ide tersebut ke dalam sebuah kreasi jelly unik. Namun, pandemi Covid-19 yang berlangsung sudah setahun terakhir juga berdampak pada bisnis jelly art yang mereka tekuni. Jelly art sendiri sebuah teknik untuk mengkreasikan jelly dengan beraneka bentuk karakter dan pola.

Awal mula mengenal jelly art tersebut sekitar 7 tahun lalu lewat media sosial Facebook, ia pun menemukan salah satu pebisnis kuliner. Dalam postingan tersebut dia menemukan teknik berkreasi dengan jelly yang bernama jelly art.

Setelah itu, keduanya memutuskan belajar secara otodidak. Dan terus bertahan sampai kini. Bahkan terbaru, keduanya mencoba membuat kreasi jelly berbentuk tumpeng. Selain lebih unik, juga dapat menjadi alternatif pilihan pelengkap acara tasyakuran maupun ulang tahun.

Kreasi jelly art ikan koi. SP/ TLG

Jika biasanya mereka dapat menitipkan jualan pada kantin sekolah dan warung-warung kecil, kini akibat pandemi Covid-19 mereka hanya menerima pesanan secara terbatas. Sebab, sekolah ditutup dan berbagai acara juga masih terbatas. Sehingga banyak di antara pelanggan yang memilih membatalkan pesanan. “Ya dibilang turun jelas turun. Biasanya dapat tambahan pemasukan dari hasil jualan di sekolah, sekarang sudah tidak,” jelas Siti.

Awalnya kakak beradik itu mendapatkan bisnis jelly art bermula saat melihat adanya tren hobi baru di tengah pandemi Covid-19, yakni hobi memelihara ikan dan berkebun. Dari ide sederhana mereka pun mencoba bereksperimen dengan membuat jelly dengan karakter ikan dan tanaman hias.

Tak disangka, ide sederhananya ini mendapat respons positif dari teman-teman dan para pelanggannya. “Sebelumnya saya berkutat pada karakter bunga. Kali ini saya buat karakter yang lain dengan melihat tren saat ini. Yaitu ikan dan tanaman hias,” terangnya.

Selain itu, menurut Imroattus Sholichah yang berprofesi sebagai guru ini mengatakan ide sederhana ini cukup diminati pembeli. Salah satu contoh untuk makanan penutup ketika acara tasyakuran maupun untuk hantaran pengantin.

Meskipun jumlahnya tidak sebesar sebelum pandemi, paling tidak asap dapur tetap dapat mengepul. “Sementara beralih yang cup kecil seperti ini. Karena rata-rata untuk hantaran dan acara tasyukuran secara sederhana,” urainya. Dsy8