Masjid di Prancis Alami Vandalisme Islamofobia

Petugas membersihkan coretan Islamofobia  di pusat Kebudayaan Islam Avicenna, Rennes, Prancis. Foto: JEAN-FRANCOIS MONIER / AFP

Pelaku Vandalisme Dikecam Pemerintah Prancis

SURABAYAPAGI, Rennes - Jelang ramadhan, pusat budaya Islam yang berlokasi di Kota Rennes, Prancis Barat mengalami serangan Islamofobia, Minggu (11/4) berupa vandalisme coretan-coretan yang menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Coretan dilakukan di sisi bangunan yang digunakan sebagai ruang sholat di kota Rennes. Di antara slogan-slogan yang tertulis di gedung itu adalah "Katolik, agama negara" dan "Tidak untuk Islamifikasi". Momen ini terjadi beberapa hari sebelum bulan suci Ramadhan dimulai di Prancis pada Selasa (13/4).

Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin mengutuk insiden itu yang terjadi hanya beberapa hari setelah serangan terhadap masjid lain di Prancis barat. Para Muslim di Prancis menyebut permusuhan terhadap Muslim meningkat beberapa hari terakhir.

Darmanin menyatakan serangan terhadap Muslim adalah serangan terhadap negara. "Serangan terhadap Muslim adalah serangan terhadap Republik," kata Darmanin setelah dia mengunjungi situs tersebut.

Darmanin mengatakan, perusakan tempat ibadah ini adalah serangan yang menjijikkan terhadap kebebasan fundamental untuk percaya pada suatu agama. Dia menegaskan,  Muslim berhak mendapatkan perlindungan yang sama seperti kelompok agama lain di Prancis.

Dilansir The National News, Senin (12/4), Darmanin mengunggah beberapa cicitan yang berisi pesan solidaritas pada Minggu.

Seorang pengurus dan anggota komunitas Muslim lokal di Kota Rennes menemukan grafiti pada Minggu pagi di dinding masjid dan pusat budaya Islam. Seruan yang dituliskan menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW. Menanggapi ini, kantor kejaksaan di Rennes tengah membuka penyelidikan.

Presiden dewan daerah Muslim setempat, Mohammed Zaidouni, mengutuk seruan tersebut. “Kami menghadapi kebencian, kekerasan, dan barbarisme,” kata Zaidouni kepada AFP.

Wali Kota Rennes, Nathalie Appere, dan senatornya, Valerie Boyer, dari sayap kanan Partai Republik mengecam insiden tersebut. Sebelumnya, di bagian barat Kota Nantes, pintu masjid dihancurkan oleh api pada Kamis (8/4) malam lalu. Kemudian pada Jumat (9/4), seorang neo-Nazi berumur 24 tahun didakwa karena membuat ancaman terhadap sebuah masjid di Le Mans dan di Prancis barat.

Presiden National Observatory Against Islamophobia, Abdallah Zekri, mengecam apa yang dia sebut sebagai iklim anti-Islam di Prancis. “Sayangnya, pernyataan politisi tertentu hanya memperburuk keadaan,” kat Zekri. re/tnn/cr2/na