Memalukan, Penyembunyian Data Covid-19

Proses pemakaman jenasah Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih khusus Covid-19, Senin (26/7/2021).

Ditelusuri, Data Kematian di Satgas Pusat Angka Kematian di Jatim, khususnya Kota Surabaya Rendah, Dilaporkan Ada Satu Hari, Nol Kematian. Tapi Laporan Pemakaman yang Dipublikasi Pemkot Surabaya tak Pernah Sehari, Nol Kematian. Data di Pemkot Rata-rata diatas 100 Jenasah per Hari

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -  Belum lama ini komunitas Lapor Covid-19 merilis laporan kejanggalan data kematian pasien covid-19 antara pemerintah pusat dan daerah. Hingga 21 Juli 2021 lalu, perbedaan angka kematian disebut mencapai selisih 20.431 orang. Ini dapat dilihat dari laporan Kementerian Kesehatan hingga 21 Juli. Dari laporan tersebut, angka kematian Covid-19 mencapai 71.397 orang. Namun data yang dihimpun oleh LaporCovid-19 untuk tanggal yang sama, jumlah kematian mencapai 98.014 orang.

Perbedaan angka tidak hanya terjadi antara pusat dan daerah. Bahkan data di daerah sendiri pun berbeda pelaporannya. Ini dapat ditemukan pada kasus kematian pasien di wilayah Jawa Timur (Jatim). Pada tanggal 19 Juli 2021 LaporCovid-19 menemukan, adanya gap data yang disadurkan oleh Pemprov Jatim dengan data real di lapangan khususnya di wilayah kota Malang.

Ditanggal tersebut, LaporCovid-19 menemukan angka kematian akibat covid-19 sebangak 26 orang, sementara laporan pemprov Jatim pada tanggal yang sama tidak ada kasus kematian sama sekali atau nol (0).

Adanya perbedaan ini pun sempat ditanggapi oleh Gubernur Jatim Khofifah Indarparawansa. Melalui akun sosial media instagramnya, Khofifah menyampaikan, data yang disadurkan oleh pemprov Jatim merupakan data yang reliabel dan tidak ada data yang ditutup-tutupi.

"Pemprov Jawa Timur menjunjung tinggi transparansi data Covid-19 yang notabene menjadi parameter penanggulangan dan kebijakan. Data tersebut bisa diakses siapapun melalui kanal infocovid19.jatimprov.go.id," tulis Khofifah dalam akun Instagram resminya, @khofifah.ip, Selasa (27/7/2021) pagi.

Selain itu, dalam unggahan Instagram Gubernur Jatim, Khofifah juga menampilkan tangkapan layar laman yang menunjukkan sejumlah variabel data Covid-19, di Jatim. "Ada lebih dari 80 variable dari tiap kabupaten/kota dibuka secara publik dan dapat diakses siapa saja, mulai dari kasus, kontak erat, testing bahkan jumlah yang dirawat dan Isoman. Ini system terlengkap di Indonesia," ujar Khofifah.

Hal itupun direspon oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur, dr Sutrisno. Menurut Sutrisno, data yang disajikan di dalam sebuah situs dan di baca oleh masyarakat umum, masih dari kata jauh dari sebuah realitas.

"Hingga saat ini saja, jumlah kematian tidak seperti apa yang ada di data itu (Data Covid-19 dari pemerintah). Jadi jangan jadi dasar untuk ambil kebijakan," kata Sutrisno, kemarin.

Sutrisno pun mencontohkan, di beberapa daerah di Jatim, data yang tersaji, kasus kematian rata-rata relatif lebih kecil secara harian. Sementara kasus meninggal di lapangan pun besar. "Data yang ada jangan hanya data di meja untuk mengambil keputusan. Sehingga data yang masuk cuma 0, cuma 2, tapi coba lihat kuburan, hampir 20-30 kali lipat dari pada data yang ada di meja," cetus Sutrisno.

 

Pusat Harus Turun Tangan

Perbedaan atau gap data antara pemerintah provinsi dan kota pun mendapat sorotan sejumlah pihak. Salah satunya datang dari Pakar hukum dan Advokat Surabaya M. Sholeh.

Menurut Sholeh, terlepas dari mana laporan yang benar dan tidak, perlu adanya peninjauan lebih lanjut yang harus dilakukan oleh pemerintah pusat (pempus). Apabila dilakukan penelusuran dan terbukti ada penyembuyian data maka pempus harus segera mengambil tindakan keras. "Kalau ada upaya yang menyembunyikan data tentu ini tidak patuh pada pemerintah pusat, jadi [kepala daerah] harus diberikan sanksi," kata Sholeh kepada Surabaya Pagi, Selasa (27/07/2021).

Secara umum kata pria yang akrap disapa Cak Sholeh, tindakan menyembunyikan sesuatu baik itu data ataupun sejenisnya merupakan perbuatan yang memalukan. Apalagi bila yang disembunyikan adalah data yang berhubungan langsung dengan keselamatan masyarakat.

"Karena data covid-19 ini bagian dari penanganan. Ini hanya angka kematian yang disembunyikan, coba kalau yang disembunyikan itu angka [positif] itu sangat berbahaya. Misalnya di wilayah A itu ada 1.000 orang yang terpapar, tapi kemudian disembunyikan menjadi 500 orang itu kan berbahaya. Sehingga tidak bisa ditracing," katanya

"Tapi saya tidak ingin berspekulasi lebih. Ini saatnya pemerintah pusat turun tangan, unjuk gigi, cek kebenaran tersebut. Kalau terbukti benar, langsung diberikan sanksi," tambahnya.

 

Perbedaan Jatim dan Surabaya

Selain gap data antara pemprov Jatim dan kota Malang, tim Surabaya Pagi juga menemukan perbedaan data antara pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya.

Data kematian akibat covid-19 yang dirilis Pemprov Jatim sepanjang bulan Juli 2021 untuk wilayah Surabaya, rerata 1 sampai 10 kematian per hari, bahkan sempat 0 kasus dalam beberapa hari. Sementara data pemakaman covid-19 yang berasal dari Pemkot Surabaya dalam sehari mencapai rerata 100 kejadian.

Hal ini dapat dilihat dari data yang Pemprov Jatim, pada 1 Juli hingga 2 Juli 2021, masing-masing sebanyak 2 kasus kematian. Di tanggal 3 Juli terdapat 3 kasus, 4 Juli 2 kasus, 5 Juli 3 kasus, 6 Juli 3 kasus, 7 Juli 2 kasus, 8 Juli 2 kasus, 9 Juli 3 kasus, 10 juli 2 kasus, 11 Juli 1 Kasus, 12 Juli 3 kasus, 13 Juli 2 kasus.

Sementara ditanggal 14 Juli, pemprov merilis 0 kasus kematian. Untuk tanggal 15 Juli ada 3 kasus, 16 Juli 4 kasus dan 17 Juli 8 kasus. Hal serupa juga terjadi ditanggal 18 Juli, kasus kematian menunjukan angka 0 kasus. Untuk tanggal 19 Juli sebanyak 22 kasus, 20 Juli ada 5 kasus, 21 Juli 13 kasus, 22 Juli 23 kasus, 23 Juli 31 kasus, 24 Juli naik menjadi 41 kasus, serta 25 Juli 27 kasus.

Angka di atas berbeda dengan laporan data pemakaman menggunakan protokol Covid-19 yang dipublikasikan Pemkot Surabaya. Pada 1 Juli, pemkot Surabaya merilis sebanyak 96 pemakaman, 2 Juli 100 pemakaman, 3 Juli 122 pemakaman, 4 Juli 96 pemakaman, 5 Juli 117 pemakaman.

Untuk tanggal 6 Juli ada sekitar 114 pemakaman, 7 Juli sebanyak 114 pemakaman, 8 Juli 137 pemakaman, 9 Juli 134 pemakaman, 10 Juli 137 pemakaman, 11 Juli 150 pemakaman, 13 Juli 152 pemakaman, 14 Juli 142 pemakaman, 15 Juli 162 pemakaman, dan 16 Juli 137 pemakaman. Namun data pemakaman sepanjang 17 sampai 25 Juli belum dipublikasikan. sem/ana/cr3/rmc