Merawat Tradisi, DPRD Surabaya Dorong Peningkatan Anggaran untuk Perkuat Sedekah Bumi di Kota Surabaya

Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono saat menghadiri acara Sedekah Bumi di RW V Simo Gunung Barat, Kelurahan Simomulyo, Kecamatan Sukomanunggal.

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kegiatan Sedekah Bumi merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, Tuhan YME atas semua keberkahan dan keselamatan yang dinikmati warga masyarakat. 

 

Setelah 2 tahun dilanda pandemi Covid-19 yang diikuti berbagai pembatasan sosial, sekarang kegiatan adat istiadat Sedekah Bumi kembali digagas masyarakat di berbagai penjuru Kota Surabaya. 

Berbagai kalangan ikut hadir dalam acara Sedekah Bumi. Diantaranya Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono, Wali Kota Eri Cahyadi, Wakil Wali Kota Armuji, dan kalangan pimpinan dan anggota DPRD Kota Surabaya. 

“Sedekah Bumi merupakan kegiatan adat istiadat yang diwariskan dari para leluhur desa yang berusia puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Warga masyarakat mensyukuri atas keberkahan, hasil bumi yang melimpah, kerukunan dan keselamatan yang dikaruniakan Tuhan YME,” ungkap Adi Sutarwijono, Ketua DPRD Kota Surabaya, Minggu (25/9). 

Sudah sejak lama, kalangan DPRD Kota Surabaya mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk memberi dukungan. Karena selama ini kegiatan itu berbasis gotong royong warga masyarakat kampung. Dan, tahun 2022 ini, Wali Kota Eri Cahyadi dan DPRD Kota Surabaya menyepakati untuk alokasi anggaran bagi kegiatan Sedekah Bumi. 

Dalam rapat paripurna DPRD Kota Surabaya, 20 September lalu, dengan agenda penetapan kesepakatan APBD Perubahan 2020 telah disetujui alokasi anggaran Rp 400 juta untuk mendukung kegiatan Sedekah Bumi di berbagai wilayah. 

Ini tentu saja tidak terlepas dari berbagai dan pendekatan, terutama para legislator Komisi D bidang kebudayaan dan pariwisata, yang getol mengawal dan menggolkan kepentingan warga masyarakat itu. 

 

“Dalam pembahasan Rancangan APBD Tahun Anggaran 2023, yang biasanya disahkan 10 November, kita akan mendorong peningkatan anggaran untuk memperkuat Sedekah Bumi di Kota Surabaya. Tentu saja, hal itu harus seturut kemampuan keuangan Kota Surabaya,” kata Adi. 

Akhir pekan lalu, kegiatan Sedekah Bumi digelar warga masyarakat Made Sambikerep, Tandes dan Wiyung. Kegiatan semacam ini bergulir di berbagai tempat yang berbasis eks-pedukuhan, atau kampung atau RW. 

Biasanya warga masyarakat membawa tumpeng dari rumah masing-masing. Ada kirab budaya, pertunjukan kesenian tradisional, diisi pengajian, dan doa-doa untuk para sesepuh desa yang membuka desa atau kampung pertama kali. 

Kalangan DPRD Kota Surabaya mendorong Pemkot Surabaya menjadikan kegiatan tradisi itu sebagai event tahunan wisata kebudayaan. Terlebih, melihat antusiasme warga masyarakat sangat besar. Serta mendorong pertumbuhan ekonomi. 

“Kita melihat antusiasme warga masyarakat yang besar dalam kegiatan Sedekah Bumi. Berbagai tokoh dan kalangan warga masyarakat menyatu, guyub rukun, dalam suasana penuh gotong royong,” kata Adi Sutarwijono. 

“Dalam event itu, kita bisa mengangkat kelompok-kelompok kesenian tradisional, para pelaku UMKM, yang berkorelasi erat dengan agenda pemulihan ekonomi Kota Surabaya yang menjadi atensi DPRD dan prioritas kebijakan Wali Kota Eri Cahaydi,” kata Adi. 

 

Susanto, Ketua RT di kawasan Jurang Kuping, Kel. Putat Gede, memotivasi warganya agar terus merawat tradisi adat Sedekah Bumi yang guyub dan penuh gotong royong di kampung tersebut. 

“Sebagai kota besar, Surabaya terus bergerak maju. Banyak perubahan dan kemajuan. Tapi tradisi adat istiadat, kesenian dan budaya-budaya yang diwariskan para pendahulu kita, harus tetap dirawat dan dilestarikan. Mari kita jaga dan wariskan kepada anak-anak cucu kita,” kata Susanto beberapa waktu lalu. 

Di depan Susanto, warga masyarakat berkumpul di halaman balai pertemuan kampung. Masing-masing keluarga membawa tumpeng. Acara itu dihadiri Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono. Setelah sesepuh desa memimpin doa, warga menyantap tumpeng bersama-sama. 

Dalam Sedekah Bumi, tradisi terus dirawat dan dihidupkan dari tahun ke tahun. Seni budaya lokal diberi ruang untuk tampil, seperti pertunjukan wayang kulit, reog Ponorogo, jaranan. Juga nilai-nilai keguyuban dan gotong royong diwujudkan dalam laku bersama. 

“DPRD Kota Surabaya akan terus mendukung upaya-upaya merawat adat istiadat dan tradisi kebudayaan peninggalan masa lalu. Supaya tetap hidup, di tengah berbagai kemajuan Kota Surabaya,” ujar Adi. Alq