Naik Lima Kali Dalam Sebulan, Harga Terigu Jadi Penyebab Harga Mie Instan Melambung di Pasaran

Buani (55), salah satu penjual mie instan kemasan di Toko Dani Jaya yang berlokasi di selatan Pasar Wonokromo (DTC).

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Harga mie instan di pasaran, baik di pasar tradisional, toko kelontong, maupun toko ritel modern tengah mengalami lonjakan harga.
 
Terpantau di salah satu pasar tradisional Wonokromo, harga mie instan bahkan sudah naik sejak lebih dari satu bulan yang lalu.
 
Buani (55), salah satu penjual mie instan kemasan di Toko Dani Jaya yang berlokasi di selatan Pasar Wonokromo (DTC) ini pun membenarkan jika harga mie instan memang naik.
 
"Iya memang benar harga mie instan naik, sekitar sebulan lebih naiknya," kata Buani, Rabu (10/08/2022).
 
Menurutnya, kenaikan harga mie instan ini dipicu dari naiknya harga tepung yang juga tengah meroket. Yang lebih mencengangkan, semua jenis mie dan bukan hanya mie instan saja yang mengalami lonjakan harga.
 
"Pokoknya segala macam mie naik semuanya, tidak hanya mie instan tapi segala jenis mie dari tepung terigu semuanya naik. Semenjak harga terigu naik, itu (mie) naik semua. Harga tepung sekarang juga masih mahal," ia menerangkan.
 
Kepada kami, pria yang sudah berjualan sembako lebih dari 15 tahun ini mengaku dalam kurun waktu lebih dari satu bulan, kenaikan harga mie instan sudah terjadi hingga lima kali.
 
"Jadi dulu ecer dari harga 2500 per bungkus, naik 2600, kemudian 2700, begitu seterusnya kelipatan seribu rupiah, sampai sekarang di harga 3000 untuk mie instan kecil (85 g). Kalau jumbo 4000, dulunya 3000," ia memaparkan.
 
Pun demikian dengan harga mie instan kemasan per dus. Dulunya mie instan per dus dibanderol dengan harga Rp 92 ribu. Kemudian naik menjadi Rp 94 ribu, Rp 95 ribu, Rp 108 ribu, Rp 109 ribu, dan sekarang Rp 110 ribu per dus.
 
"Sama-sama naiknya barengan antara tepung dan mie instan. Tapi sekarang sudah mandeg notok (berhenti) ndak naik lagi harga tepung sama mie itu. Sudah 10 harian ini posisinya aman, stabil," ia menandaskan.
 
Kendati demikian, Buani memastikan jika tingkat penjualan mie instan dan mie lainnya di tokonya tidak turun.
 
"Pembeli ndak turun, cuman kaget. Tapi itu hanya pertama kali tok, lama kelamaan sudah tahu umumnya sudah naik semua, jadi sekarang sudah biasa," ia menekankan.
 
Hal senada juga terjadi di beberapa toko ritel modern. Berdasarkan pantauan kami, harga eceran mie instan kemasan kecil yang tertera di etalase beberapa toko ritel modern di kawasan Ketintang juga sama seperti harga di pasar tradisional.
 
Sementara untuk mie instan kemasan jumbo berbeda, selisih 200 rupiah lebih murah di toko retail modern dibanding pasar tradisional.
 
Meski begitu, rupanya harga tersebut tidak berlaku di toko kelontong. Seperti di toko kelontong Sembako Madura di Jalan Pulo Wonokromo, misalnya. Sang pemilik, Yudi (36), mengaku menjual mie instan kemasan kecil dengan harga Rp 3500 per bungkus di tokonya.
 
"Naik, saya jual dari harga 3000 ke 3500 itu jarak dua minggu," kata Yudi.
 
Sementara itu, Tutuk, salah satu pembeli mie instan mengeluhkan dengan kenaikan harga mie instan ini. Pasalnya, suaminya yang sangat menyukai mie instan itu membuatnya harus membeli lebih sedikit mie instan dari biasanya mengingat harganya yang melonjak.
 
"Sekarang mahal, ada yang jual Rp 3200 per bungkus, ada juga yang Rp 3500, padahal cuma mie instan," kata Tutuk.
 
Di lain pihak, Gaplek, penjual mie instan siap saji di Warkop Pringgodani, Gunung Anyar, mengaku lebih memilih menjual mie instan kemasan kecil dibanding kemasan jumbo, lantaran untung yang didapat lebih banyak.
 
"Memang naik, aku jualnya mie instan ukuran kecil aja, yang sudah dimasak itu 5000 per porsi, dulu 3000. Pembeli tetap aja, karena memang banyak yang meminati mie instan ini," kata Gaplek memungkasi. res