Oknum Anggota DPR Rayu Keluarga Dini agar Cabut Perkara

author surabayapagi.com

- Pewarta

Rabu, 11 Okt 2023 20:19 WIB

Oknum Anggota DPR Rayu Keluarga Dini agar Cabut Perkara

i

Dini Sera Afrianti, janda sekaligus mama muda yang tewas mengenaskan

Minta Nomor Rekening untuk Transfer Santunan

 

Baca Juga: Pencari Rongsokan di Gresik Ditemukan Tewas di Tambak

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Keluarga Dini Sera Afrianti (29) mengaku didatangi oleh seseorang yang ingin memberikan santunan.

Dini tewas setelah dianiaya pacarnya, Gregorius Ronald Tannur (31 tahun) —anak anggota DPR RI dari Fraksi PKB Edward Tannur.

Orang yang datang diduga merupakan suruhan dari Edward. Ia datang pada Selasa (10/10).

"Kemarin keluarga korban didatangi oleh seseorang bernama Fauzi sebagai perantara mengaku dari PKS," kata Dimas Yemahura, pengacara keluarga korban, Rabu (11/10).

Kendati beda partai—Edward dari PKB—orang ini menyebut ia satu komisi dengan Edward di DPR RI.

Seseorang itu, menurut Dimas, datang ke rumah keluarga korban di Sukabumi untuk meminta nomor rekening.

Adik korban, Elsa Rahayu Agustin, mengatakan seseorang tersebut mengaku satu komisi di DPR RI dengan Edward Tannur.

"Katanya dari partai PKS ini, satu komisi sama ayahnya Ronald ini, menyuruh ke dia katanya datengin rumah kita, kemudian dikasih santunan tanpa sepengetahuan kuasa hukum kami," ujar Elsa.

"Jangan ada yang tahu bahwa kita keluarga Ronald datang ke rumah," kata Elsa menirukan ucapan orang tersebut.

 

Santunan Ditolak

Pihak keluarga tegas menolak pemberian santunan itu. Elsa menegaskan bahwa pihak keluarga tidak akan mengambil jalur damai dalam kasus penganiayaan yang menewaskan Dini tersebut.

"Saya sebagai orang yang sayang sama Dini, saya sangat menolak apa pun itu dari keluarga tersangka, dan saya ingin tersangka dihukum seberat-beratnya dan seadil-adilnya. Kami keluarga tidak akan pernah mencabut atau berdamai dengan tersangka," ucap Elsa.

Dimas menyampaikan, pihak keluarga korban menolak santunan tersebut karena diduga ada tujuan untuk intervensi proses hukum Ronald saat ini.

"Kami menolak segala bentuk pemberian apa pun apakah itu santunan, apakah itu uang tali asih yang sifatnya adalah untuk mengintervensi jalannya proses hukum yang sedang berjalan," ucapnya.

"Artinya jika ingin memberikan santunan, memberikan tali asih maka memberikan tali asih itu tanpa embel-embel perdamaian, pencabutan perkara dan sebagainya," lanjutnya.

Apabila benar Edward Tannur melakukan intervensi hukum lewat orang suruhannya itu, kata Dimas, pihaknya akan melaporkan oknum tersebut atas dugaan intervensi.

"Kami tim kuasa hukum akan melakukan langkah-langkah lebih lanjut terhadap oknum-oknum tersebut. Dan bila memang terbukti pejabat tersebut melakukan itu, maka kami akan juga melakukan proses hukum lebih lanjut.

 

Minta Maaf

Edward Tannur akhirnya bicara langsung terhadap kasus penganiayaan berat berujung kematian yang dilakukan anaknya, Gregorius Ronald Tannur pada Dini.

Politikus PKB itu meminta maaf telah membuat gaduh dengan adanya kasus ini. Dia mengaku tidak pernah menyangka anaknya, anaknya yang dikenal sopan dan kerap membantu orangtua, bisa bertindak brutal dan melakukan kekerasan berujung kematian Dini Sera Afrianti.

"Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dan penyesalan yang mendalam atas meninggalnya almarhumah Dini Sera Afrianti," ujarnya, dikutip dari Antara, Rabu (11/10/2023).

Edward mengaku siap bertanggungjawab dan akan menerima apapun putusan hukum terkait kasus yang menjerat anaknya.

Baca Juga: Polrestabes Surabaya Ungkap Kasus Penganiayaan Balita hingga Tewas

"Saya akan menjalani seberat apapun, saya sebagai orangtua ikhlas dan siap menerima hukuman putusan hukum. Kami sudah pasrah," ujarnya.

Edwars juga legowo menerima putusan partai yang menonaktifkan dirinya di DPR RI.

Sebelumnya, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) secara resmi menonaktifkan Edward Tannur dari anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Langkah ini sebagai respons partai usai anak dari Edward yakni Gregorius Ronald Tannur, menganiaya secara brutal seorang wanita bernama Dini Sera Afrianti hingga tewas.

"Kami dari DPP PKB memutuskan sejak malam ini (Minggu, 8 Oktober 2023) untuk menonaktifkan saudara Edward Tannur dari semua tugasnya di komisi," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PKB Hasanuddin Wahid dalam keterangan tertulis, diterima Senin (9/10/2023).

Dia menyatakan, PKB memutuskan untuk menonaktifkan Edward dari tugasnya sebagai anggota DPR RI Fraksi PKB agar fokus pada penyelesaian masalah penganiayaan yang diperbuat anaknya, Gregorius Ronald Tannur. Surat pencabutan Edward Tannur dari komisi DPR RI bakal diajukan Senin (9/10/2023).

"Dalam konteks ini, namanya sanksi, kami jatuhkan pencabutan dia dari anggota komisinya," ujar Hasanuddin.

Hasanuddin menyampaikan, DPP PKB sepenuhnya prihatin atas peristiwa yang dialami Dini Sera Afrianti. PKB, kata Hasanuddin, berdiri bersama korban.

"Karena kami sangat prihatin terjadi hal semacam itu dan hati kami ada di korban," kata dia.

Selain itu, Hasanuddin menegaskan, PKB juga bakal meminta Edward untuk menghadapi kasus yang menimpa Ronald sesuai dengan ketentuan undang-undang. PKB tidak akan melakukan intervensi pada proses hukum yang berlangsung.

"Ini bentuk sanksi kami sembari kami beri kesempatan atas persoalan yang terjadi, agar dia segera membantu sebisa mungkin persoalan bisa selesai secara hukum," ucap dia.

 

Profil Edward Tannur

Baca Juga: Pengeroyok Sopir Truk hingga Tewas di Situbondo Diringkus

Melansir dari situs resmi DPR, Edward Tannur merupakan Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKB. Ia mempunyai nama dan gelar lengkap Edward Tannur, S.H dan lahir pada 2 Desember 1961 di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dia merupakan lulusan sarjana Hukum di Universitas PGRI Kupang pada 2009. Kemudian, Edward berkarier dalam dunia politik dengan menjadi Ketua Fraksi PKB dan Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara pariode 2004-2009.

Ia kemudian menjadi Calon Legislatif (Caleg) DPR RI pada 2009 dan pada periode 2019-2014 ia berhasil lolos dan menjabat menjadi Anggota DPR RI Fraksi PKB. Edward menjabat di Komisi IV bidang Pertanian, Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Kelautan.

 

Rekonstruksi Kekerasan hingga Tewas

Tim Inafis Satrerkrim Polrestabes Surabaya melakukan rekonstruksi penganiayaan yang menyebabkan meninggal dunia, anak anggota DPR RI Gregorius Ronald Tannur (31) terhadap Dini Sera Afrianti (28) alias Andini, warga Sukabumi, Jawa Barat.

Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Teguh Setiawan mengatakan, proses rekonstruksi merupakan proses dalam penyidikan.

"Kami di sini bekerja tanpa intervensi dari pihak manapun dan kami bekerja secara prosedural dan profesional sehingga betul-betul mencari fakta yang sebenrnya dari perkara hilangnya nyawa dari korban ini," ujarnya, Selasa (10/10/2023).

Mantan Kasat Reskrim Polres Jombang ini menambahkan, ada banyak adegan rekonstruksi yang akan dilakukan.

"Nanti setelah proses rekonstruksi kita akan melakukan gelar perkara akan disampaikan lagi terkait penanganan perkara ini," ucap Kompol Teguh.

Diketahui, tersangka Ronald Tanur tiba di parkiran basement Lenmarc Mall Jalan Mayjen Jono Soewojo Surabaya sekitar pukul 10.40 dengan pengawalan ketat. Ia memakai rompi tahanan Polrestabes Surabaya, bercelana pendek selutut dan memakai sendal jepit.

Adegan rekontruksi dilakukan mulai dari pertama tersangka datang ke area Lenmarc Mall kemudian menuju ke room karaoke di Blackhole KTV untuk karaoke bersama temannya di room 7.

Sejumlah petugas kepolisian bersenjata lengkap tampak menjaga lokasi tempat rekontruksi. Di bagian basement mal, petugas juga memasang garis polisi pembatas untuk awak media. jk,rc, rl

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU