Ortu di Surabaya, TK-SD Daring, SMP-SMA Bolehkan PTM, Asalkan...

Sejumlah Guru dan Murid menggelar simulasi tatap muka (PTM) dengan menerapkan Prokes di sekolah SMPN 6 Surabaya, awal Juli 2021 lalu. Sp/arl

Menteri Nadiem: PTM, Tergantung Orang Tua Siswa

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Pemerintah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, 3, dan 2 di Jawa-Bali hingga 30 Agustus mendatang. Namun kali ini, khusus untuk kabupaten/kota yang melaksanaan PPKM level 2 dan 3 di Jawa Timur, Pemprov Jatim melalui Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Wahid Wahyudi mempersilakan SMA/SMK dan SLB menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas. Hanya saja, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makariem mengembalikan kepada orang tua masing-masing siswa, terkait rencana PTM.

 “Untuk PTM Terbatas kembali lagi, keputusan terakhir bahwa murid tatap muka atau tidak, ada di orang tua, karena PTM Terbatas berbeda dengan PTM biasa sebelum pandemi," tegas Nadiem, seperti dikutip dari laman Kemdikbud.go.id, Selasa kemarin..

Menurut mantan CEO Gojek ini, aktivits PTM terbatas ini, hanya dilakukan diluar Level 4, artinya, untuk dilakukan di level 3,2 dan level 1. Selanjutnya kehadiran siswa di satuan pendidikan dibatasi maksimal 50% dalam ruang kelas, wajib melakukan rotasi dan wajib disiplin protokol kesehatan. "Tidak ada acara-acara ekstrakurikuler, kantin tidak boleh buka,” tandasnya.

Senada juga diucapkan Kadindik Jatim Wahid Wahyudi. Mantan Kepala Dinas Perhubungan Jatim itu mengkhususnya PTM hanya level 1, 2 dan level 3. "Untuk daerah yang masuk kategori level 1, 2 dan 3 silakan melakukan PTM terbatas," ujar Ir. Wahid Wahyudi, kepada wartawan, Selasa (24/8/2021).

Meski mempersilakan, Wahid mengingatkan ada perbedaan dalam penerapan PTM di setiap level. Untuk level 4 wajib belajar daring 100 persen. Kemudian level 3 dan 2 boleh PTM 50 persen, khususnya SLB boleh 63 hingga 100 persen sedangkan PAUD 33 persen.

"Sekolah boleh melakukan PTM dengan syarat warga sekolah sudah divaksinasi. Guru dan tenaga pendidik rata-rata (sudah vaksin) di atas 80 persen. Siswa relatif lebih kecil," kata Wahid.

 

Respon Orang Tua Siswa

Lalu bagaimana respon para orang tua di Surabaya dengan diturunkannya kota Surabaya menjadi level 3? Tim Surabaya Pagi, Selasa (24/8/2021) menghubungi beberapa orang tua siswa dari SD, SMP hingga SMA/SMK. Para orang tua siswa yang memiliki anak masih duduk di bangku SD, masih enggan melepas anaknya sekolah dengan PTM di sekolah masing-masing.

"Anak saya masih kelas 2 SD. Untuk sekolah tatap muka, kayaknya enggak dulu. Lebih baik online dulu deh. Masih rawan khan, meski sudah mulai turun statusnya di Surabaya," kata Putri (42), kepada Surabaya Pagi, Selasa (24/8/2021).

Guru tempat anaknya sekolah di salah satu sekolah Islam, Putri menyebut, sempat mengundang beberapa orang tua masing-masing siswa untuk rencana PTM. Hanya saja, mayoritas, orang tua siswa-siswi lebih memilih jalur sekolah daring.

"Hampir mayoritas orang tua lebih pilih sekolah daring. Yang pingin sekolah tatap muka cuma segilintir saja. Jadi yah sekolah saat itu memilih tetap daring. Ini demi kebaikan anak saya dan anak-anak lainnya," lanjut Putri.

 

TK-SD Daring Dulu

Senada dengan Putri, Ika (41), salah satu walimurid dari Simohilir, Surabaya mengatakan, sebenarnya dirinya malah senang kalau anaknya sekolah tatap muka. Apalagi anak-anaknyapun juga sudah terlihat jenuh dengan  sekolah daring. Tapi di sisi lain, dia juga tak bisa bohong kalau dia cemas jika anaknya terpapar Covid 19 saat sekolah tatap muka nanti.

“Dua anak saya masih duduk di bangku SD dan satu anak saya sudah SMA. Nah, namanya anak-anak, ketemu dengan temannya, apa ya mungkin mereka bisa jaga jarak. Rasanya sangat susah deh. Pasti mereka saling bersentuhan, ngobrol berdekatan dan mungkin makan minum bareng. Gmana ngontrolnya,” kata wanita berjilbab ini kepada Surabayapagi, Selasa (24/8/2021).

Untuk itu jika disuruh memilih, ia masih lebih sreg dengan belajar daring. “Memang sih  gak efektif. Sudah hampir dua tahun, anak-anak sekolah daring, tapi sebagai ibu, saya nggak mau ambil resiko. Kesehatan anak-anak itu nomor satu,” jelas wanita pengusaha menengah ini.

Tak hanya Putri dan Ika, orang tua lainnya seperti Rudi (43) dan Sasya (38), juga khawatir bila harus melepas anak-anaknya untuk pertemuan tatap muka di sekolah. "Lha itu rencana tatap muka, untuk TK dan SD, ataupun SMP, lebih baik jangan dulu. Tunggu benar-benar Corona ini lenyap. Khawatir saya," seloroh Sasya, yang memiliki anak duduk di bangku kelas 1 SMP.

 

SMP-SMA Boleh PTM

Meski begitu, Sasya memberikan sinyal bila hendak untuk tatap muka, lebih ditekankan pada pembagian jadwal atau pembagian kelas kepada setiap anak. "Sebetulnya bisa aja, tapi khusus SMP atau SMA. Yang masih bisa diatur. Tetapi yah gitu, tetap harus dibagi. Jangan full kayak dulu. Kecuali pemerintah atau pihak sekolah bisa menjamin. Wong sekarang divaksin juga belum tentu aman khan," kata Sasya.

Sedangkan Rudi, sedikit memiliki kelonggaran. “Kebetulan anak saya ada yang masih TK , dan ada yang sudah SMA dan kuliah. Jadi treatmennya beda,”kata Rudi.

Baginya, untuk anak yang masih TK, mutlak harus tetap sekolah online. “Sebab anak segini, masih sangat aktif dan gak bisa dikontrol. Jika bertemu teman-temannya pasti mereka berpelukan, mainan bareng, minimal bersentuhan itu pasti. Maka saya tegaskan, untuk anak saya yang TK, udah deh, sekolah online saja,” ucap Rudi.

Namun, untuk anaknya yang sudah SMA dan kuliah, Rudi mengizinkan sekolah tatap muka. “Kalau usia sudah remaja gini kan, sudah paham. Bisa kita ajak ngobrol. Bisa kita nasehati agar tetap jaga prokes selama di sekolah atau di kampus. Dan rata-rata anak saya paham kok,” seloroh pria berkacamata ini.

Lain lagi dengan Yanti.  Wanita yang usianya mendekati kepala 4 ini mengizinkan anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) untuk sekolah tatap muka. Alasannya, sekolah daring sangat tak efektif. Dan selama ini dia kuwalahan mengajari anaknya di rumah. Yanti percaya bahwa jika pelajaran tatap muka dilakukan, guru pasti sudah punya ‘aturan main’ agar para siswanya tetap menjaga prokes.

“Saya ini pusing kalau harus ngajari anak saya di rumah. Lha gurunya kalau ngajar seenaknya aja. Langsung kasih tugas, beres. Akhire orang tua yang kelimpungan,”tukas Yanti.

“Jadi menurut saya, dan saya berharap agar sekolah segera dibuka. Toh saya yakin, guru-gurunya past menjaga baik-baik anak kita,”pungkas wanita berprofesi sekertaris yang kini lebih banyak kerja di rumah ini.

Sebelumnya, Juru Bicara Rumpun Kuratif Satgas Penanganan COVID-19 Jatim, dr. Makhyan Jibril Al Farabi menyampaikan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 35 Tahun 2021. Isinya, ada 18 daerah level 4, 18 daerah level 3 dan 2 daerah level 2. 

Level 2 yaitu Sampang dan Pamekasan. Level 3, Pasuruan, Pacitan, Sumenep, Probolinggo, Tuban, Jember, Bojonegoro, Situbondo, Bondowoso, Nganjuk, Kota Pasuruan, Sidoarjo, Kota Surabaya, Kota Mojokerto, Mojokerto, Lamongan, Gresik dan Bangkalan. 

Lebih lanjut, daerah yang masih menerapkan level 4, Tulungagung, Madiun, Kota Malang, Kota Madiun, Kota Kediri, Kota Blitar, Kota Batu, Trenggalek, Malang, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Probolinggo, Kediri, Jombang, Blitar, Banyuwangi, dan Lumajang. ana/ril/rmc