Pandemi, Strategi Pembaharuan Kurikulum Pendidikan Kewirausahaan

Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dinamika (Undika) Achmad Yanu Alif Fianto. SP/PATRICK CAHYO

SURABAYAPAGI, Surabaya - Pandemi Covid-19 saat ini menjadi masalah utama banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Terus terjadinya peningkatan masyarakat terpapar Covid-19 mengharuskan pemerintah pu

sat maupun pemerintah daerah untuk melakukan pembatasan aktivitas masyarakat, baik dalam bekerja, belajar, dan juga tempat umum seperti pusat belanja.

Hal tersebut menyebabkan terjadinya masalah pada perekonomian, salah satunya bagi masyarakat yang bergantung pada gaji bulanan di sebuah perusahaan namun di PHK karena pandemi.

Pandemi ini tentu menjadi perhatian dalam dunia pendidikan. Para dosen serta civitas akademik harus terus menekankan dan menanamkan jiwa entrepreneur bagi para mahasiswanya. Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dinamika (Undika) Achmad Yanu Alif Fianto mengatakan bahwa diperlukan pembaharuan kurikulum pendidikan kewirausahan untuk seluruh mahasiswa, khususnya pada Program Studi yang berada dalam disiplin ilmu Ekonomi dan Bisnis.

“Karena dulu kita bekerja di sebuah perusahaan dengan maksud tidak sulit mendapatkan penghasilan bulanan. Tapi perusahaan juga perekonomiannya menurun, sehingga tidak bisa membayar gaji karyawan,” jelas Yanu, sapaan pakar ekonomi di kampus yang dulu bernama STIKOM Surabaya.

Dari hal tersebut, Yanu mengungkapkan dalam situasi yang serba dengan ketidakpastian seperti saat ini, tidak hanya para mahasiswa yang dituntut untuk lebih kreatif dalam pengembangan skill, tetapi juga seluruh elemen civitas akademik harusnya memiliki strategi.

 “Kalau Prodi Manajemen itu kan memang harus bisa membuka peluang usaha, padahal jiwa kewirausahaan harus ada pada setiap mahasiswa di jurusan apapun,” ujarnya.

Selain itu menurutnya ada terdapat tiga aspek yang harus ditingkatkan dalam pendidikan kewirausahaan dalam perkuliahan, yakni jiwa kemandirian, daya juang dan hardskill setiap mahasiswa.

Dalam segi aspek jiwa kemandirian, mahasiswa harus mampu bersikap mandiri dan tidak bergantung pada apapun agar bisa mengembangkan perusahaan. Baik itu usaha yang dirintisnya sendiri atau tempat mahasiswa bekerja nantinya.

Yanu memaparkan pada aspek kedua yakni penanaman daya juang dalam pendidikan kewirausahaan, mahasiswa tidak boleh mudah menyerah jika mengalami kegagalan.

Sedangkan untuk aspek hard skill, mahasiswa juga dituntut untuk memiliki kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan saat ini, sekaligus bisa mengelola diri dan bisa berinovasi dengan mengembangkan kemampuannya.

Dengan adanya hal tersebut ia berharap para mahasiswa mau mengembangkan skillnya untuk membuat sebuah peluang usaha baru ataupun membuat sebuah terobosan inovasi yang bermanfaat bagi perusahaan nantinya.

Di sisi lain, besar harapannya juga bagi para siswa-siswi SMA/SMK agar memiliki pandangan untuk memilih jurusan Program Studi dalam Fakultas Ekonomi dan Bisnis saat memasuki dunia perkuliahan nanti. Hal tersebut karena menurutnya bidang ilmu ini berperan penting dalam perekonomian Indonesia mendatang. Pat