Pasca Libur Lebaran, Khofifah Waspadai Lonjakan Kasus Covid-19

Evaluasi dari jajaran Forkopimda Jatim itu dilaksanakan di Makodam V/Brawijaya, Rabu (2/6/2021). SP/KOMINFO JATIM

SURABAYAPAGI, Surabaya  - Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengajak Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk melakukan langkah-langkah pencegahan, selain juga persiapan penanganan seandainya terjadi lonjakan kasus COVID-19 di masing-masing wilayah.

Dia meneruskan pernyataan Menteri Kesehatan kalau tren naik diprediksi berlangsung selama Juni hingga Juli mendatang sebagai dampak dari libur lebaran Idul Fitri.

“Kalau Pak Menteri Kesehatan wanti-wantinya sampai dengan Akhir Juni bahkan Juli 2021. Karenanya, semua kepala daerah tiap hari harus memonitor perkembangan kasus COVID-19. Saat ini misalnya ada kenaikan BOR dari 22 menjadi 24 persen,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (3/6/2021).

Libur lebaran Idul Fitri 2021 berdampak pada penambahan kasus COVID-19 di Indonesia. Per 2 Juni 2021, terdapat 100.364 kasus aktif. Padahal, kasus aktif sebelum lebaran sempat berada di titik terendah pada 90.000 kasus. 

Kasus harian di Jawa Timur (Jatim) juga mulai menunjukkan tren peningkatan. Ada tambahan 239 kasus baru. Total saat ini mencapai 155.245 kasus. Dari total tersebut, 142.071 kasus dinyatakan sembuh dan 11.385 dilaporkan meninggal dunia. Sehingga yang aktif 1.789 kasus.Naiknya kasus COVID-19 pascalebaran ini bukan tidak mungkin juga akan terjadi di Jatim.

Pasalnya, kata Khofifah, masih banyak masyarakat yang melakukan silaturahmi dengan berkeliling ke satu tempat ke tempat lain. Diperlukan pengawalan pemantauan pengendalian secara komprehensif.

Mantan Menteri Sosial itu mengungkapkan zona hijau COVID-19 di tingkat rukun tetangga (RT) wilayah Jawa Timur saat ini tercatat 95 persen.“Tetapi perlu diantisipasi bahwa silaturahim Syawalan masih berlangsung. Mereka dengan berkelompok masih melakukan silaturahim keliling,” tuturnya

Gubernur Khofifah berharap seluruh bupati/wali kota melakukan antisipasi khusus apabila BOR ICU dan BOR Isolasi COVID-19 mencapai 60 persen lebih.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Timu, Bojonegoro BOR ICU di atas 80 persen. Kemudian, BOR ICU 60-79 persen terdiri dari Kota Madiun, Kota Blitar, Ponorogo, dan Tuban. Sementara BOR Isolasi COVID-19 di atas 80 persen yaitu Madiun, BOR Isolasi COVID-19 60-79 persen yakni Bangkalan, Kota Madiun, Ngawi, Ponorogo, dan Tulungagung.

““Artinya harus ada pengendalian yang harus lebih intensif dilakukan karena data kuratifnya seperti itu. Dalam hal seperti ini, saya mohon kita semua yang sudah melakukan pemantauan pengendalian harian itu akan terus melakukan identifikasi. Apa yang kemungkinan menimbulkan dan memicu sebaran atau sebaliknya menurunkan itu yang diidentifikasikan,” pungkasnya. re/na