Pelaku Pernikahan Manusia dengan Kambing Merusak Adat Budaya Jawa

Kris Adji. SP/Grs

SURABAYAPAGI.COM, Gresik - Para pelaku pernikahan manusia dengan kambing di rumah anggota DPRD Gresik asal Fraksi Nasdem, Nur Hudi Didin Arianto di Desa Jogodalu Kecamatan Benjeng, Gresik dinilai merusak budaya Jawa. Kasus yang sudah ditetapkan MUI sebagai penistaan agama ini akan membuat ketakutan pelaku budaya Jawa karena jadi salah makna dan berbalik menjadi kasus pidana.

"Kasus ini bukan hanya menista agama. Tetapi ritual budaya Jawa yang dilakukan oleh orang yang tidak memahami tata cara dan lakunya menjadi adat budaya Jawa salah dan mencampuradukkan agama dan ritual Jawa," kata Kris Adji, tokoh budaya Gresik saat merespon kasus yang kini ditangani aparat kepolisian, Ahad (26/6).

Ketua Yayasan Mata Seger ini mengungkapkan, dengan kejadian ini bukan lagi soal budaya tetapi sudah menjadi masalah hukum. Yang berakibat membuat citra budaya Jawa yang luhur menjadi rusak.

"Mereka justru merusak buadaya Jawa itu sendiri. Makanya jangan dibalik bahwa ini konten tidak ada unsur agama. Faktanya justru ada kalimat-kalimat agama yang dimasukkan. Mereka merusak. Bukan melestarikan," tandasnya

Dikatakan Kris Adji, ibarat membaca buku hanya dilihat sampulnya saja. Tetapi tidak memahami isinya, sehingga menjadikan tuntunan agama dicampuradukkan dengan ritual budaya Jawa.

"Kayaknya mereka membaca buku hanya dilihat sampulnya. Tidak memahami isinya. Semua butuh guru, agar ilmu sesuai dengan maknanya. Adat budaya yang mestinya dijadikan petuah orang Jawa justru sebaliknya bermakna menista agama. Maka yang mereka hadapi saat ini umat Islam seluruh Indonesia bukan hanya Gresik," papar budayawan Gresik. grs