Pemerintah tak Kendalikan Harga, Rakyat Tercekik

Bu Muina, salah satu pedagang di wilayah Kampung Seng Gang IV Pasar Tradisional Kapasan, mengaku sangat keberatan dengan harga semua kebutuhan yang naik. SP/Sem

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Memasuki awal tahun 2022, pemerintah Indonesia secara resmi menaikkan harga kebutuhan secara masal di berbagai sektor.

Mulai dari kenaikan harga cukai rokok, LPG nonsubsidi, tarif listrik 13 golongan hingga tarif tol. Kenaikan cukai rokok telah berlaku sejak 1 Januari 2022 lalu dengan rerata kenaikan 12 persen.

Data dari Kementrian Keuangan yang dipublish di situs resmi kemenkeu, menunjukan Harga Jual Eceran (HJE) rokok tertinggi berada diangka Rp 40.100 per bungkus isi 20 batang untuk kategori Sigaret Putih Mesin (SPM I) dari sebelumnya Rp 35.800 per bungkus di tahun 2021.

Dan untuk harga rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) IA Rp 32.700 per bungkus, SKT IB Rp 22.700 per bungkus, SKT II Rp 12.000 per bungkus, SKT III Rp 10.100 per bungkus.

Selain cukai rokok, kenaikan terparah juga terjadi pada gas LPG nonsubsidi dengan ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.

Rerata kenaikan harga LPG sekitar Rp 1.600 hingga Rp 2.600 per kilogram. Secara akumulasi untuk harga isi ulang elpiji 5,5 Bright Gas berkisar pada harga Rp 76.000 atau sekitar Rp 13.818 per kilogram. Sementara harga isi ulang elpiji 12 kilogram menjadi Rp 163.000 atau sekitar Rp 13.583 per kilogram.

Parahnya kenaikan ini telah diberlakukan oleh Pertamina sejak 25 Desember 2021 lalu. Anehnya banyak masyarakat yang tidak tahu akan kenaikan tersebut.

Salah satu warga di wilayah Wonorejo, Surabaya yang juga konsumen LPG 12 kilogram mengaku kaget dengan kenaikan tersebut. Biasanya ia membeli gas LPG 12 kilogram dengan harga Rp 150 ribu, namun kali ini ia harus menambah Rp 30 ribu lagi.

"Naik sekarang jadi 180 ribu. Kita tanya ke yang jual katanya dinaikan dari pertamina. Ya sudah mau gimana lagi, terpaksa harus beli. Kalau gak beli ya gak bisa masak," kata Lia,  warga Wonorejo, Selasa (04/01/2021).

Celakanya, kenaikan LPG ini dilakukan saat harga pangan tengah melangit. Data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP), harga rata-rata minyak goreng curah secara nasional per 3 Januari 2022 menyentuh Rp17.900 per liter. Angka ini melampaui harga acuan Rp11.000 per liter.

 

Cabe juga Naik

Sementara untuk telur ayam, cabai, hingga bawang merah juga terpantau tinggi pada awal tahun ini. Harga rerata telur ayam ras menyentuh Rp 30.400 per kilogram atau naik 20,16 persen secara bulanan.

Kenaikan harga hingga 51,11 persen juga terjadi pasa cabai rawit merah atau sekitar Rp88.100 per kg, cabai merah keriting naik 11,67 persen menjadi Rp46.900 per kg, dan cabai merah besar naik 4,96 persen menjadi Rp44.400 per kg.

Bawang merah tercatat naik 11,76 persen secara bulanan sehingga menyentuh Rp28.500 per kg. Adapun bawang putih naik 4,01 persen menjadi Rp28.500 per kg.

Secara lokal, kenaikan harga di pasar tradisional Surabaya pun sangat signifikan. Bu Muina, salah satu pedagang di wilayah Kampung Seng Gang IV Pasar Tradisional Kapasan menyebut, harga tomat mengalami lonjakan 3 kali lipat sejak akhir Desember 2021 hingga 4 Januari 2022.

Saat ini, harga tomat per kilogram dijual dengan harga Rp 15.000. Padahal sebelumnya harga tomat per kilogram dijual dengan harga Rp 4.000-5.000,-.

"Naik sekarang mas. Saya kan kulakan, ngambil dari Pasar Pabean. Setiap hari harganya naik terus. Kemarin tomat per kilo itu 12 ribu, hari ini jadi 15 ribu. Gak tau besok naik berapa lagi," kata Bu Muina kepada Surabaya Pagi.

Selain harga tomat, kenaikan juga terjadi pada cabai merah besar. Kenaikan harga cabai merah besar tertinggi terjadi pada akhir Desember 2021 yang mencapai Rp 48.000 per kilogram.

Namun memasuki awal Januari, harga cabai merah relatif menurun. Saat ini harga cabai merah besar dijual dengan harga Rp 20.000 per kilogram.

"Kemarin harga cabai besar 17 ribu, sekarang naik 20 ribu.  Pokoknya harganya ini naik turun terus mas," akunya.

Selain cabai merah besar, harga cabai rawit juga mengalami kenaikan. Per 1 Januari 2022, harga cabai rawit bahkan menyentuh angka Rp 90.000 per kilogram.

"Cabai rawit sekarang turun 60 ribu perkilo, tanggal 3 kemarin ya 70 ribu. Tertinggi itu 90 ribu. Tapi ini juga masih mahal. Harga cabai rawit kalau murah biasanya 15 ribu per kilo Kadang ya 10 ribu. Waktu bulan 8, 9, itu saya beli 200 ribu dapat 20 kilo kok," katanya.

Adanya fluktuasi harga di pasar, bagi para pedagang yang membeli dari tengkulak merasa terbebani. Mengingat, modal yang dimiliki oleh mereka tidak begitu besar.

Bu Muina sendiri biasanya dalam sehari menghabiskan sekitar Rp 800 ribu untuk membeli bahan pangan pada tengkulak di Pasar Pabean.

"Kalau harga murah kan kita beli juga dapatnya banyak. Kalau naik terus, saya mau jual gak ada modal. Yang beli yo kasihan. Saya beli dari tengkulak 80 ribu cabe 1 kilo. Saya jual 1 ons 9 ribu. Dapat untung hanya seribu. Itu pun kalau ada yang beli, kalau gak beli ya kita rugi mas," katanya

 

Ayam Per Kg Rp 35 Ribu

Pedagang lainnya seperti Bu Nurul juga menyampaikan hal serupa. Bu Nurul yang saban hari berjualan ayam potong mengaku,  saat ini harga ayam perkilo masih di angka Rp 35.000.

Sementara untuk harga telur pun masih dijual dengan harga Rp 28.000 per kilogram.

"Ayam naik 35 ribu hari ini, telur juga sama masih naik. Kalau ayam potong biasanya kalau normal sekitar 20 ribu mas," aku Bu Nurul.

 

Tengkulak Mengancam

Adanya kenaikan harga di segala sektor ini, pun mendapat tanggapan serius dari pakar ekonomi dan bisnis asal Universitas Brawijaya Malang, Iswan Noor.

Menurut Iswan, kenaikan harga LPG yang diumumkan oleh pemerintah menjadi pintu masuk bagi para tengkulak dalam memainkan sentimen pasar.

Secara logika bisnis, alasan pertamina menaikan harga LPG nonsubsidi dianggapnya sebagai pilihan terakhir agar pertamina tidak merugi. Karena sejak November 2021, harga Contract Price Aramco (CPA) elpiji naik hingga 847 dollar AS per metrik ton, atau meningkat 57 persen sejak Januari 2021.

Kendati begitu, bagi Iswan momentum menaikan harga LPG dinilai tidak cukup tepat. Karena dilakukan pada akhir tahun.

"Sementara kita tahu, setiap akhir tahun harga barang khusus bahan pokok itu pasti naik. Nah sekarang ketambahan gas LPG dinaikan lagi, harga pasti meroket. Jadi saya kira momentumnya tidak tepat," kata Iswan Noor kepada Surabaya Pagi.

Implikasi karena dinaikannya harga LPG diakhir tahun tak berhenti di sini. Bak gayung bersambut, kenaikan ini dinilai akan memperparah inflasi di tahun 2022.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) telah menargetkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada tahun 2022 berada diangka 2-4 persen. Angka ini terbilang cukup  tinggi dibandingkan dengan inflasi IHK 2 tahun sebelumnya.

Inflasi IHK 2021 tercatat sebesar 1,87% (yoy). Sementara untuk inflasi IHK 2020 sebesar 1,68% (yoy).

"Banyak lembaga riset yang sudah memprediksi kenaikan inflasi mas. Indef sebut 3,5% bahkan terakhir dari Celios itu katanya 5%. Saya sendiri melihat kalau sentimen pasar terus dimainkan akibat adanya kenaikan gas LPG, saya kira inflasi bisa 5%. Ya sekitar 4-5% mas," ucapnya.

 

Mafia Pasar

Terkait sentimen pasar yang dimainkan oleh para tengkulak, juga diamini oleh Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya  Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono.

Menurut prof. Tijpto, naiknya harga di pasar disebabkan oleh adanya mafia pasar yakni oknum tengkulak yang memonopoli harga. Sehingga, selama mafia pasar ini tidak dikontrol oleh pemerintah, harga bahan pokok akan tetap naik. Kendati pemerintah memiliki program jitu.

"Kalau harga itu permainan tengkulak mas. Biasanya mau kita tetapkan harga pun, selama para tengkulak ini tidak dikendalikan,   harga tidak akan stabil," prof. Tjipto.

Tak hanya itu, model penyeragaman harga dan operasi pasar kata dia, hanya menyasar oknum pedagang kecil dan bukan pada mafia pasar yang bermain harga tersebut.

"Operasi pasar tidak bisa menyasar mereka. Saya dulu juga berjualan, itu 2 atau 3 hari, kita sudah tahu harga akan turun, harga akan naik. Nah siapa yang kontrol ini, yang harus dikendalikan pemerintah," pungkasnya.

Adanya permainan mafia pasar dalam mengontrol harga bahan pokok, juga pernah disinggung oleh Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA).

Bahkan dalam laporan KTNA pada akhir 2020 lalu menyebut, inflasi harga bahan pangan saban waktu selalu dimainkan oleh mafia pasar atau pemburu rente dalam mengendalikan rantai pasok.

Sebagai contoh, harga bawang merah di tingkat petani Rp 15ribu per kilogram. Di pedagang pasar yang lokasinya tak berapa jauh dari petani harga sudah berubah di atas Rp 30ribu per kilogram. Pada rantai perdagangan yang panjang harga berubah menjadi di atas Rp 40ribu per kilogram.

"Jadi ini memang tugas berat. Jadi mari kita cari bersama, saya tahu tidak hanya 1 orang. Tapi kalau ini berhasil dikontrol, harga akan berjalan dengan normal. Kecuali ada faktor lain ya seperti cuaca dan gagal panen," jelasnya. sem/ana