Home / Opini : Kasih Karunia

Pemimpin "Karbitan"

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 12 Nov 2023 21:34 WIB

Pemimpin "Karbitan"

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saat ini kita akan memilih siapa yang akan menjadi nakhoda bangsa yang secara langsung akan mengelola dan melaksanakan kehidupan kebangsaan lima tahun ke depan tahun 2024-2029.

Pastor yang berkotbah hari Minggu (12/11/2023) mengharapkan agar warga gereja tetap menggunakan hak pilihnya, sama seperti dalam Pileg 2019 yang lalu. Bahkan jika ada sesama warga gereja yang tidak menggunakan hak pilih dalam Pileg, ajaklah agar kali ini bisa memilih.

Baca Juga: Iblis

Selain itu, Pastor itu mengingatkan  pemimpin yang baik. “Alkitab memberikan pengajaran yang jelas tentang pentingnya kepemimpinan dalam sebuah bangsa. Bahkan dalam Alkitab, pemimpin hadir untuk menjalankan mandat Ilahi.

Dalam Roma 13:1 dikatakan bahwa “….tidak ada pemerintahan, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah.” Karena itu, proses memilih pemimpin bangsa tidaklah lepas dari mandat dan campur tangan Allah.

Jadi, ketika kita memilih pemimpin, kita harus sadari bahwa kita sedang menjalankan mandat Ilahi untuk melahirkan pemimpin yang baik dan bertanggungjawab.

Lalu, seperti apakah pemimpin yang baik? Kitab Keluaran 18:21 mengatakan bahwa mereka yang layak dipilih sebagai pemimpin haruslah “orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengajaran suap.”

Begitu juga, dalam Kitab Kisah Para Rasul 6:3 dikatakan “…pilihlah tujuh orang di antara kamu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat…”.

Dua pesan Alkitab ini kiranya bisa menuntun kita untuk menentukan pilihan dalam Pilpres demi menghasilkan pemimpin bangsa yang baik dan bertanggungjawab bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Juga dipesan soal rekam jejak dan latar belakang masing-masing calon. Pemimpin yang baik biasanya lahir melalui sebuah proses yang baik dan alamiah. Proses inilah yang  diyakini membentuk karakternya dan sedikit banyak akan mempengaruhi kinerja kepemimpinannya. Juga diingatkan proses pembentukan karakter lahirnya seorang pemimpin. Ini sangat penting untuk kita cermati, agar tak lahir pemimpin “karbitan” tanpa moralitas. Pemimpin yang hanya mau kuasa dan jabatan, tanpa mau bersusah payah untuk memperjuangkan kepentingan rakyat itu pemimpin “karbitan”.

Terkait pemimpin “karbitan”, ada anekdot yang bilang terdapat Pendeta Kejadian dan Pendeta Keluaran. Apa maksudnya?

Rupanya, “Pendeta Kejadian” dimaksudkan dari ungkapan pendeta “jadi-jadian” alias entah bagaimana tiba-tiba sudah bergelar pendeta?

Baca Juga: Kekuasaan

“Pendeta Keluaran” dimaksudkan pendeta yang sudah melalui proses panjang dan “keluar secara resmi” maka ia berhak disebut pendeta.

Dalam ajarab Kristen, sebenarnya tidak elok membicarakan sosok Pendeta hamba Tuhan yang patut dihormati.

Namun, di negeri ini, cukup banyak hal yang tidak masuk akal tetapi dianggap biasa.

Kapan sekolahnya, tapi tiba-tiba sudah bergelar Doktor Teologi?

Begitu juga pertanyaannya, kapan prosesnya dan oleh gereja mana? Lha, sekarang orang itu sudah disebut Pendeta, pemimpin Kristen yang baru ditahbiskan.

Baca Juga: Imlek, Berbagi Kasih

Tentu proses “I will make You” bagi calon Pendeta wajib dilalui. Ingat, penggemblengan harus terjadi dulu.

Jadi, pemimpin yang hanya pandai memoles diri dalam hitungan pendek, waspadai. Itu taktik agar rakyat simpati dan memilihnya, padahal tak mampu berbuat banyak. Mereka tergolog oemimpin yang hanya pandai bersilat lidah, tapi minim tindakan nyata. Karena itu, periksalah dan cermatilah rekam jejak dan latar belakang Capres – Cawapres yang ada. Tentu sebelum menentukan siapa yang akan dipilih.

Ini karena gereja tak boleh mendukung salah satu pasangan calon. Jemaat silakan.

Gereja memang berpolitik, tapi tidak berpolitik praktis. Politik gereja adalah politik moral, bukan politik dukung-mendukung. Karena itu, gereja tidak boleh menyatakan keberpihakannya mendukung salah satu pasangan calon. Pesan Pastor janganlah jadikan gereja sebagai arena kampanye untuk pemenangan salah satu pasangan calon, agar tak menimbulkan konflik di antara jemaat dan memicu hal-hal yang tak kita inginkan bersama. Jagalah agar gereja tetap suci, tidak dikotori oleh kepentingan-kepentingan politik praktis parpol tertentu. Ingat awas dengan  pemimpin "karbitan".

Pemimpin yang baik memikirkan pengikut atau orang-orang yang bekerja dengannya dan rela berkorban bagi kepentingan mereka. Alkitab mencatat salah satu tindakan kepemimpinan Yesus, yaitu memikirkan empat ribu orang yang lapar setelah berhari-hari mengikuti-Nya. (Maria Sari)

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU