Pengelola Pasar Turi Baru, 1-2 Tahun ke Depan, Jangan Bergaya Cenliang Jilid 2

Sejumlah pedagang di Pasar Turi Baru, yang membuka dagangannya di Pasar Turi Baru, Senin (27/6/2022).

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saat ini pengelola Pasar Turi Baru (PTB) sedang membuat aturan dengan menggalakkan ke seluruh pemilik stan di semua lantai membuka serentak paling lambat 31 Juli 2022. Aturan ini dinilai wajar dalam kapasitas bisnis. Tapi pengelola baru yang masih ada 'marga' Cen yaitu Cen Ming (kakak kandung almarhum Cen Liang), juga mesti punya jiwa take and give. Mengingat PTB tinggalkan 'brand' jelek yaitu developer yang diimejkan suka ngakali Pemkot sekaligus pedagang.

Sebagai pengelola PTB yang mengklaim 'manajemen baru' mesti paham konsep revitalisasi pasar turi dalam mengatasi kelemahan-kelemahan yang ditinggalkan manajemen lama dengan melakukan pembenahan pasar turi secara menyeluruh mulai dari pembenahan lingkungan fisik hingga tata kelola pasar yang take and give. Apalagi konsep PTB yang mangkrak lebih 10 tahun sudah disalip Pusat Grosir Surabaya (PGS) dan ITC Mega Grosir.

Apalagi, kini hampir 80% pedagang PGS, ITC, Jembatan Merah Plaza (JMP) sudah banyak bertransaksi melalui online. Demikian rangkuman pendapat beberapa pedagang dari Pasar Turi Baru (PTB) yang dihimpun Surabaya Pagi, Senin (27/6/2022), diantaranya Hj. Zahli (penjual aksesoris pakaian), Aminah (alat kebutuhan rumah tangga), Kho Ping (penjaja makanan di foodcourt), Tjahjo (penjual peralatan rumah tangga), Rahim (pakaian rumah), serta Ahmad (aksesoris HP).

Selain pedagang PTB, Surabaya Pagi juga meminta pendapat beberapa pedagang dari PGS, terkait Pasar Turi Baru. Diantaranya, Shirly (jual alat elektronik), pak Tjong (konveksi dan garmen), Khamid (mainan anak) dan Sigit (berjualan alat kebutuhan rumah tangga).

 

Penjualan Online

Seperti yang dikatakan Hj. Zahli, penjual aksesoris, dengan logat madura yang kental, penjualannya lebih banyak menggunakan penjualan online, ketimbang didatangi pengunjung.

"Sudah awal saya disini, memang banyak yang beli lewat online. Yang datang ke toko pun gak banyak. Tapi alhamdulillah, pak, omset masih tetap lancar," kata Hj. Zahli, penjual aksesoris di PTB lantai 1 ini.

Sama halnya juga diungkapkan Aminah, bahwa meski pengunjung jarang datang, penjualan tetap karena melalui online. "Sebetulnya, pas ada event-event, masih ada yang lihat. Tapi selebihnya jarang (ada pengunjung). Palingan ini yah online, mas. Kita buka di Shopee," kata Aminah.

Tempat di PTB, lanjut Aminah, lebih banyak sebagai tempat stok barang. Bahkan dirinya juga memiliki stand di PGS. "Di sini dan PGS buat tempat gudang aja mas. Lek gak gitu, urip teko endi," jawab Aminah, seraya tertawa kecil.

Secara kasat mata, dari pantauan Surabaya Pagi (26/6/2022) di tiap lantai PTB, terlihat ada beberapa pedagang yang sudah membuka dagangannya. Hanya saja, belum pedagang yang membuka seluruhnya.

Pengunjung pun terlihat ada beberapa yang datang, tetapi langsung menyasar ke beberapa toko yang ia cari. Dan ada yang mendatangi di foodcourt.

 

Fasilitas PTB Lebih Mewah

Bila dibandingkan saat pembukaan PTB yang didatangi oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pada awal Maret 2022 lalu, dengan akhir Juni 2022, beberapa fasilitas untuk umum sudah ada banyak peningkatan dan perbaikan. Meski belum sepenuhnya 100 persen.

Seperti yang diungkapkan Rahim, pedagang PTB di lantai 2, hampir 100 persen, beberapa stan maupun fasilitas yang ada di dalam PTB sudah diperbaiki. Mulai dari kamar mandi, masjid, dan lainnya.

"Saya lihat fasilitas sudah diperbaiki semua, tinggal menunggu pedagang yang ingin berjualan. Sayang kalau pedagang tidak berjualan. Pas kemarin ada event kemarin sudah lumayan khan, mas," kata Rahim penjual baju.

 

Masukan untuk Pengelola

Sementara, Ho Gin, pria yang tinggal di Kapasari, dan memiliki dua stan di lantai LG PTB ini berharap pengelola PTB baru bisa mengerti kemauan pedagang.  "Saran saya, Kho Cen Ming, yang kini teruskan bisnis almarhum Cen Liang, mesti berpikir kultural pedagang yang sudah dicampakan lebih 10 tahun. Keluarkan 10-20% duit yang dikumpulkan Cen Liang almarhum untuk nomboki biaya-biaya service charge, listrik, maksimal 2 tahun sejak diresmikan Pak Wali. Pasti lah, keluarga Cen Liang gak rugi. Ini namanya Pak Cen Ming berkultur dagang dan jangan sampai dicap teruskan manajemen Cen Liang jilid 2," tambah Ho Gin.

Bahkan, masukan untuk pengelola PTB juga diungkapkan dua pedagang PGS, kompetitor PTB yang berada di seberangnya. Sigit dan Shirly, menjelaskan dari segi tata letak stan di PTB, jauh lebih nyaman, longgar dan bersih ketimbang stan di PGS. Perakiraannya, bila rencana pengumuman stan dibuka hingga 31 Juli 2022, diikuti ada subsidi dari manajemen PTB baru terkait hal-hal itu, ajakan buka stan secara serentak, bukan isapan jempol.

"Kalau 1-2 tahun ini subsidi, pemilik stan akan mau kalkulasi buka serentak," jelasnya. Dan keduanya akan mau beli stan PTB yang belum laku.

"Saya optimistis ada dampak program revitalisasi pasar turi terhadap pendapatan pedagang dalam 1-2 tahun ke depan," tambah Kho Ping, pemilik stan foodcourt, Senin malam, menambahkan.

Baik Sigit, Ko ping dan Tjahjo percaya melalui terobosan-terobosan revitalisasi pasar turi baru, pedagang berharap manfaat revitalisasi langsung bisa dirasakan oleh masyarakat luas, ya pengelola, pemilik stan, penyewa stan dan pemerintah kota.

Terutama untuk mendukung basis ekonomi kota Surabaya. Maka dari itu, pasar-pasar turi sebagai bagian dari pasar rakyat yang telah direvitalisasi diharapkan dapat dijadikan model pengembangan pasar rakyat di masa yang akan datang yang menghidupkan icon Pasar Turi.

 

Pengelola Ajak Pedagang Buka

Sebelumnya, Pengelola Pasar Turi Baru menggelar Sosialisasi Buka Serentak Untuk Pemilik Stan. Sosialisasi yang berlangsung pada Minggu (27/6/2022) di lantai 2 Pasar Turi Baru tersebut. General Manager Pasar Turi Baru, Teddy Supriyadi mengatakan, pengelola Pasar Turi Baru memastikan, seluruh stan akan buka paling lambat tanggal 31 Juli 2022.

“Banyak yang menggantungkan nasib dari sini. Kami juga bekerja keras untuk mendatangkan pembeli sebanyak mungkin. Namun, itu tak cukup kalau tak ada dukungan dari pedagang untuk membuka toko secara serentak,” imbuhnya.

Sejumlah kemudahan diberikan pihak pengelola kepada pedagang. Di antaranya adalah menyetujui permohonan pedagang yang ingin migrasi meter listrik. Dari yang sebelumnya menggunakan sistem prabayar (smart card) menjadi sistem pascabayar.

Menurut Tedi, daya tarif yang disediakan 900 VA. Sedangkan tarif listrik sebesar Rp 2 ribu per-KWH. Namun berdasarkan kontrak bersama PLN, minimum jam nyala harus 110 jam perbulan.

Teddy memastikan kelengkapan seluruh fasilitas, termasuk perbaikan lantai, eskalator, pendingin ruangan, toilet, hingga pembangunan tempat ibadah.

Selain memberikan kemudahan, Teddy juga menyampaikan sejumlah kompensasi yang akan diterima pedagang, kalau membuka stan lebih awal. Di antaranya, pembebasan service charge hingga Desember 2022. “Syaratnya, pembebasan service charge diberikan tiap bulan berdasarkan absensi masing-masing stan. Untuk bisa mendapatkan pembebasan service charge, mereka harus buka minimal 75 persen dari total hari,” terangnya.

Sebaliknya, bagi pedagang yang belum juga membuka stan hingga 31 Juli, maka akan mendapatkan denda. Per stan akan dikenakan denda senilai Rp50 ribu per hari dengan service charge dihitung mulai 1 Juli. min/na/rmc