Perempuan Pertama yang Terpilih Sebagai Ketua KPU DKI

Betty Epsilon Idroos, sebagai ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta . SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Betty Epsilon Idroos merupakan perempuan pertama yang terpilih sebagai Ketua KPU DKI dan resmi dilantik sebagai ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta periode 2018 - 2023.

KPU DKI sebenarnya pernah memiliki ketua perempuan, Dahliah Umar, untuk menggantikan Juri Ardiantoro yang maju pada pencalonan ketua KPU Pusat pada 2012. Baru Betty yang menjadi perempuan pertama dalam kepengurusan KPU DKI yang menduduki posisi ketua dari awal lewat proses pemilihan.

"Saya berharap teman-teman lama yang maju. Putusan yang terjadi kemudian berbeda. Saya rasa itu komitmen yang harus dijaga dan dijalankan," kata Betty, Rabu (19/5/2021).

Wawasan Betty soal politik dan pemilu sebagai bagian dari demokrasi kian terasah sehingga memantapkannya untuk bergabung dengan KPU DKI.

Kariernya di sana diawali sebagai anggota Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat. Job desc utamanya menyampaikan informasi pemilu tingkat provinsi kepada masyarakat DKI.

Tak dipungkiri Betty, bahwa pemilu dan perpolitikan adalah dunia yang didominasi kaum pria. Pernah suatu kali kemampuannya bekerja diremehkan karena sedang hamil besar bayi kembar. Namun, Betty tak mau ambil pusing. Ia membuktikan orang tersebut salah dengan hasil pekerjaannya.

Satu lagi yang membuat Betty bertahan. "Jangan pernah menunjukkan keberpihakan di satu kelompok. Lurus-lurus saja. Beri komunikasi yang berimbang," kata ibu tiga anak ini.

Nilai-nilai kesederhanaan dan tekun bekerja keras yang ditanamakan orangtuanya sejak kecil turut membawa Betty meraih pendidikan terbaik. Lulus SMA, Betty berhasil masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan sosial-ekonomi lewat jalur undangan khusus PMDK.

Sebelumnya pada 2002, Betty yang juga menaruh perhatian pada isu kesetaraan gender dan hak asasi manusia (HAM) pernah bergabung dengan Demos (Indonesian Centre for Democracy and Human Rights).

Dari pengalaman tersebut, Betty sering bertemu tokoh-tokoh penting HAM di Indonesia. Salah satunya Munir yang kasus kematiannya sempat menjadi kontroversi.

Di sela studi S2 pada 2006, Betty memutuskan cuti untuk bergabung dengan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) sebagai asisten peneliti.

Lulus S2 pada 2008, Betty aktif mengikuti banyak kongres dan program internasional terkait pemilu. Pada 2010, ia diundang oleh Kementerian Luar Negeri AS untuk melihat proses pemilu di beberapa negara bagian.

Ia juga memegang teguh prinsip yang diajarkan ayahnya agar kebal dari praktik korupsi. "Jangan kau berani mengambil sesuatu yang bukan hak kamu, meski itu 25 peser sekalipun," kenang Betty menirukan wejangan sang ayah. Dsy10