Perwali New Normal, Macan Kertas

Suasana di Aiola Eatery di Jalan Slamet Surabaya, Rabu (17/6/2020) mulai dipadati pengunjung yang ingin dine-in. Meski menerapkan protokol ketat, masih ada pengunjung yang tak patuh. Foto: Sp/Patrick/Byta

Resto, Hotel sampai Depot di Surabaya, Beroperasi tanpa Pengawas Satpol PP. Pegawai Resto dan Pengunjung Banyak Berinteraksi tanpa Masker. Mereka Leluasa Makan minum Bergerembol. Padahal Saat ini Masa Transisi PSBB 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Memasuki masa transisi dan persiapan penerapan new normal, berbagai restoran, Depot dan hotel di Surabaya, secara normatif diwajibkan terapkan protokol kesehatan. Nyatanya, beberapa protokol kesehatan yang diatur dalam Perwali Surabaya Nomor 28 Tahun 2020, diabaikan. Perwali yang ditandatangani Wali Kota Risma, seperti macan ompong. Satpol PP, aparat pengawal Perwali, tak tampak di berbagai Resto, depot dan hotel. Bahkan beberapa restoran malah atraktif seolah semuanya normal. Ironisnya beberapa pengunjung resto , datang tanpa dites dan diperiksa. Dan ditegur, karena tak gunakan masker. Ini terjadi mulai dari restoran kelas menengah, restoran cepat saji, food court anak muda serta beberapa hotel.

 Dari pantauan Surabaya Pagi, beberapa tempat ada yang  sudah menerapkan sesuai aturan protokol yang diatur dalam Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 28 tahun 2020 tentang pedoman hidup baru (new normal) pada kondisi pandemi Covid-19 di kota Surabaya. Aturan protokol ketat persis peraturan tak bergigi alias macan ompong. Inikah kinerja Walikota Risma, yang dipuji pemerintah pusat.

Ini hasil Penelusuran tim Surabaya Pagi, Rabu (17/6/2020) di beberapa restoran di Surabaya seperti Boncafe Jalan Tegalsari, Depot Anda depan rumah dinas Wali Kota Mustajab, Restoran Padang Sederhana, Food court anak muda Aiola Eatery di Jalan Slamet Surabaya, restoran cepat saji McDonald hingga beberapa hotel bintang 3 dan 4. Publik khawatir tampat ini bisa jadi klaster baru di Surabaya. Temuan selain sejumlah pengunjung tidak menggunakan masker, juga tidak mencuci tangan atau hand sanitizer. Terutama saat masuk restoran, depot dan hotel.

 

Longgarkan Protokol Kesehatan

Temuan beberapa pengunjung yang masih tidak patuh, hampir terjadi di semua restoran. Seperti di Depot Anda Jalan Wali Kota Mustajab Surabaya. Dari pantauan Surabaya Pagi, Rabu (17/6/2020), restoran tersebut terpantau ramai dengan pembatasan maksimal pengunjung sebesar 50%. Kursi dan meja makan juga ditata berjarak agar tidak berdekatan satu dengan yang lainnya.

Meski begitu, tidak ada pengecekan suhu badan maupun arahan kepada pengunjung untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memasuki restoran tersebut yang dilakukan oleh pengelola restoran.

Hanya sekitar 3 karyawan yang menggunakan masker saat melayani para pengunjung. Sementara beberapa karyawan juga tidak mengenakan. Bahkan, para karyawan tersebut juga tidak menegur pengunjung yang datang dengan tidak menggunakan masker. 

Saat ditanya Surabaya Pagi, salah satu karyawan karyawan yang menjaga di meja kasir memilih cuek dan menjawab diluar pertanyaan yang diberikan Surabaya Pagi.  "Buka jam 6 tutup jam 8 malam," jawabnya ketus kepada Surabaya Pagi.

 

Melanggar, akan Ditegur

Berbeda dengan Depot Anda, bagi Rumah Makan Padang Sederhana di daerah Pondok Candra Sidoarjo, Protokol kesehatan di tempat ini sudah diterapkan. Meski saat Surabaya Pagi berkunjung ke tempat tersebut, masih belum banyak pengunjung yang berani makan di tempat.

Seperti yang disampaikan Dyah Enisurya, Kepala Cabang Rumah Makan Sederhana, ada beberapa hal yang wajib diterapkan di tempat makan. Antara lain pengecekan suhu tubuh baik untuk karyawan, chef hingga tamu yang datang. Menyediakan fasilitas untuk mencuci tangan atau hand sanitizer, membatasi jumlah pengunjung hingga memberi jarak antar meja makan. "Untuk pengunjung yang melanggar aturan protokol biasanya kita tegur dan kita ingatkan, tapi mau bagaimana lagi mereka kesini juga beli," ujar Dyah kepada Surabaya Pagi, Rabu (17/6/2020).

Hal tersebut di tanggapi oleh salah satu pembeli, Anang (29). Anang menyampaikan bahwa rumah makan sederhana ini benar-benar menerapkan protokol kesehatan bagi para pembeli. "Saya tadi sempat duduk di sembarang tempat mas, tapi akhirnya saya ditegur karyawan," kata Anang saat diwawancarai.

 

Pengunjung Tak Patuh

Sementara salah satu café yang memiliki beberapa cabang di Surabaya, Excelso, sudah dipadati pengunjung sejak dihentikannya PSBB di kota Surabaya Raya, 8 Juni 2020 lalu. Bahkan, dari pantauan Surabaya Pagi, kepadatan para pengunjung seolah-olah tidak menerapkan protokol kesehatan dan physical distancing.

Pantauan Surabaya Pagi di Excelso Jalan Sulawesi, meski sudah diberi panduan menjaga jarak dan physical distancing, namun ada beberapa pengunjung yang nekat duduk berdekatan bahkan ramai-ramai. Hal itu pun tidak ditegur oleh karyawan Excelso.

Padahal, karyawan Excelso sudah mengenakan protokol kesehatan seperti face shield, masker dan sarung tangan.

Sama halnya juga di Excelso Jalan Ahmad Yani. Baik di tempat outdoor dan indoor, juga dipadati pengunjung. Beberapa pengunjung pun masih ada yang tidak memakai masker dan cuek dengan protokol yang disiapkan Excelso.

Meski begitu, adaptasi normal baru atau new normal di Excelso ini pada sejumlah indikator dan persiapan matang, dengan membuka layanan 50 persen serta menerapkan protokol kesehatan dengan tujuan memulihkan perekonomian disertai pengendalian resiko penularan Covid-19 yang komprehensif.

“Kami membuka ruang untuk pengunjung yang datang hanya 50% saja belum full seperti sebelumnya karena kami menerapakan protokol kesehatan yang ketat,” ujar salah satu karyawan Excelso.

 

Jaga Physical Distancing

Sedangkan, pengaturan protokol kesehatan cukup ketat dilakukan oleh salah satu restoran ayam cepat saji, McDonald’s. Rabu (17/6/2020) siang itu, Surabaya Pagi undercover di McDonald's Jl. Manyar Kertoarjo, Surabaya. Dari pantauan, resto franchise dari Amerika Serikat itu sudah membolehkan para pengunjungnya untuk "dine-in" atau makan di tempat.

Dikonfirmasi oleh salah satu pegawai yang tidak mau disebutkan namanya, bahwa McDonald's Manyar Kertoarjo baru membuka fasilitas "dine-in" nya pada hari Selasa (16/6/2020) kemarin. "Kami baru melayani dine-in kemarin tanggal 16 Juni. Memang tiap cabang beda-beda, ada yang sudah melayani dine-in dari beberapa waktu lalu, ada juga yang masih belum melayani dine-in hingga sekarang," ujarnya.

Dari pengamatan Surabaya Pagi, protokol kesehatan yang diterapkan sangat ketat. Mulai dari cuci tangan, pengecekan suhu, jarak antar antrian yang sudah diatur dengan tanda merah, hingga pembatasan jumlah kursi dan jarak antar meja yang diatur sedemikan rupa untuk menerapkan physical distancing.

Hal itu juga diakui oleh para pengunjung yang sedang menikmati makanan di Mc Donald's Manyar Kertoarjo. Stefani dan Indah, dua pengunjung yang memutuskan untuk ke Mc Donald's karena mereka sudah lama tidak makan disana semenjak adanya pandemi Covid-19 dan PSBB Surabaya Raya. "Kami dapet kabar kalau sudah bisa dimakan disini, ya kami kesini. Protokol kesehatannya juga sudah bagus kok. Jadi kami juga tidak takut untuk makan disini," ujar Stefani.

Sementara rekannya, Indah juga mengatakan jika protokol kesehatan yang diterapkan sudah cukup ketat. Dirinya juga berharap dengan diperbolehkannya dine-in dan penerapan protokol kesehatan ketat ini dapat dicontoh oleh restoran lainnya.

"Saya tadi sempat ditegur karena lupa cuci tangan sebelum masuk, menurut saya sudah ketat sih. Dari wajib masker, jarak antrian juga diatur, meja dan kursinya juga dibatasi. Cukup bagus dan ketat, semoga bisa dicontoh oleh resto atau cafe lainnya. Biar kita sebagai pengunjung juga merasa aman dan nyaman," kata Indah.

 

Hotel Batasi 60 Persen

Protokol Kesehatan restoran pun berbeda yang diterapkan di beberapa hotel di Surabaya. Seperti dua hotel bintang empat dan bintang lima, aturan ketat diterapkan untuk tamu hotel baik yang ingin menginap atau makan ditempat. 

Hotel Ciputra World Surabaya salah satunya, dari pantauan Surabaya Pagi, sejak awal pintu masuk, para tamu yang membawa koper, dilakukan penyemprotan disinfektan pada koper atau tas yang dibawa. Sterilisasi tersebut berlaku di area meeting room dan restoran yang juga di berikan jarak, dengan minimal 1 meter kursi satu sama lain.

“Standart pertama yang kita lakukan pastinya melakukan penyemprotan desinfektan diseluruh area hotel, restoran, koridor kamar, ruang meeting, intinya seluruh area di wilayah hotel setiap hari. Sementara untuk ballroom, kita juga batasi. Biasnaya tamping 200 orang kini hanya dijalankan 60 persennya,” jelas Marketing Komunikasi Hotel Ciputra World, Emiliana Ayundra Putri, kepada Surabaya Pagi, Rabu (17/6/2020).

Emilia juga mengaku bila para tamu yang datang sudah mulai berdatangan, namun belum terlihat kenaikan yang cukup signifikan  akibat dari pandemi Covid - 19.

"Kalau yang menginap juga tidak terlalu signifikan naiknya, terlihat si namun tidak sampai naik 100% mungkin karena mereka masih takut untuk keluar rumah atau ketempat umum. Intinya ada tamu dan kenaikan tapi tidak terlalu banyak. Para tamu juga yang menginap harus mematuhi protokol yang kita buat. Contoh lift pada awalnya muat 6-8 orang, saat ini kami batasi 4-5 orang saja" ungkapnya.

Sama halnya dengan Hotel Ciputra World, apa yang dilakukan The Alana Hotel diterapkan protokol ketat sejak memasuki gate pintu masuk. Setiap koper dan tas bawaan disemprot cairan disinfektan. “Sejak awal masuk, sudah kita lakukan penyemprotan disinfektan. Bagi pengunjung atau tamu yang membawa mobil pun wajib turun untuk pemeriksaan suhu,” cetus Humas The Alana Hotel, Nabila Humaira, saat ditemui Surabaya Pagi, Rabu (17/6/2020).

 

Pembayaran Cashless

Penerapan protokol kesehatan tersebut dilakukan bagi tamu tanpa terkecuali seluruh staff karyawan hotel sebelum bekerja serta selalu memakai alat perlindungan diri (APD) yang meliputi sarung tangan, masker dan face sheild.

Prosedur hotel yang di terapkan bagi pengunjung yang akan melakukan transaksi check in ke reseptionis, pihak hotel menganjurkan untuk tidak menggunakan uang cash tetapi bisa membayar dengan media barcode, via kredit card atau via debit card.

“Kita berusaha menyarankan pengunjung untuk tidak melakukan pembayaran cash, berlaku mulai sekarang bagi pengunjung yang  memakai uang cash harus sudah terbungkus plastik. Sebisa mungkin reseptionis tidak melakukan kontak langsung dengan pengunjung sesuai dengan prosedur Pemerintah” papar Humas yang berambut panjang.

Sementara itu, bagi pengunjung dalam menggunakan evalator/lift sudah dilakukan prosedur dengan memberi jarak (Physcal Distancing) yang berada di lift maksimal empat orang. Selain itu untuk restoran maupun café juga diberi jarak untuk tempat duduk. n adt/byt/pat/tyn/rm