Petani Milenial yang Sukses Kreasikan Gula Aren Cair dan Bakwan Kering

Siti Wulandari dengan produk gula aren dan bakwan kering miliknya. SP/ SLM

SURABAYAPAGI.com, Sleman - Siti Wulandari, petani milenial binaan Polbangtan Yogyakarta yang bergerak di bidang olahan hasil pertanian membaca peluang usaha dalam olahan dan pemasaran gula aren di tengah pandemi Covid-19 yang mematikan semua sektor perekonomian.

Gula aren berbeda dengan gula Jawa. Selain aromanya lebih khas, umumnya gula aren berwarna lebih gelap dari gula Jawa. Namun demikian seringkali gula aren sering disebut gula merah. Gula ini terbuat dari cairan nira yang dikumpulkan dari pohon aren. Memiliki tekstur yang lebih mudah dihancurkan dan terdapat butiran-butiran kecil yang menyerupai kristal.

Untuk menambah minat konsumen, Siti mengatakan, dirinya mulai berkreasi dengan menjual gula aren dalam bentuk cair. Tanpa diduga, ternyata peminat gula aren cair cukup banyak. “Selain praktis juga memudahkan konsumen untuk dijadikan campuran olahan-olahan masakan,” ujarnya, Minggu (2/5/2021).

Gula aren cair yang dipasarkan secara online sudah merambah dari Yogyakarta ke Surabaya, Madiun, Kediri, Malang, Semarang, Solo, Mataram, Bali, Jepara, Jambi, Sumatra, dan Kalimantan Selatan.

Seiring dengan banyaknya permintaan, Siti memberlakukan sistem pre order (PO). Dalam sehari, ia bisa menjual gula aren cair sebanyak 50 botol isi 500 ml, gula aren padat 400 kg/minggu dan gula aren semut 10 kg (50 bungkus)/minggu. Selama masa pandemi Covid-19, omset yang diperoleh Siti mencapai Rp 20-25 juta.

Selain menekuni usaha gula aren, Siti juga membuat produk olahan makanan yaitu bakwan kering lengkap dengan bumbu sambalnya. Saat ini pemasaran bakwan kering ini masih seputaran Yogyakarta.

Bakwan kering dengan isian sayuran dan telur ini bisa bertahan hingga 5 hari di suhu ruang. Setiap kemasan 175 gram ini di banderol dengan harga Rp6.000. Selama bulan puasa ini Siti tiap hari berhasil menjual 60 bungkus bakwan kering. 

Dengan kreativitas dan pantang menyerah, Siti bisa membuktikan bahwa pandemi Covid-19 bukan sebagai penghalang untuk mendapatkan rejeki.

Sementara itu menurut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen. “Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru," katanya. Dsy7