Potensi Anak Tertular Covid-19 Kecil, Tapi Bisa Jadi Sillent Carrier

Konsultan dokter RSLI, dr. Kristrijogo.SP/SAMMY MANTOLAS

SURABAYAPAGI, Surabaya -  Belum lama ini Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sempat merilis jumlah kasus anak yang terkonfirmasi positif. Secara nasional kasus positif Covid-19 pada balita usia 0-5 tahun sebanyak 2,8% dan usia 6-18 tahun sebanyak 9,8%.

 Dengan kata lain, dalam 8 kasus konfirmasi positif, terdapat 1 orang anak ataupun balita. Bahkan data yang dikumpulkan oleh seluruh ketua cabang IDAI di Indonesia, setiap minggunya tercatat ada sekitar 113.000 kasus Covid-19 pada anak.  

Ditambah lagi, hasil studi yang dilakukan oleh tim Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menunjukan bahwa 40% pasien anak yang terinfeksi Covid-19 berisiko tinggi mengalami kematian. 

Menanggapi akan hal tersebut, Konsultan dokter Rumah Sakit Lapangan Indrapura Surabaya (RSLI) dr. Kristrijogo menjelaskan, potensi anak tertular virus covid-19 sangat kecil bila dibandingkan dengan orang dewasa. 

Musababnya kata dr. Kristrijogo, enzim ACE2 atau angiotensin converting enzyme 2 pada anak sangat kecil bila dibandingkan oleh orang dewasa. 

Gen ACE2 merupakan gen dari reseptor sel tertentu yang digunakan virus covid-19 sebagai jalan untuk memasuki sel manusia. 

"Karena anak itu hampir belum sempurna ACE2 dibandingkan orang dewasa. Jadi potensi virus untuk menempel ke inangnya itu kecil," kata dr. Kristrijogo kepada Surabaya Pagi, Selasa (22/06/2021).

Bagi anak-anak yang telah positif pun penanganannya dilakukan sama seperti pasien pada umumnya. Meski begitu, ia mengingatkan agar pemberian antibiotika dan sejenisnya tidak dilakukan, karena akan berpengaruh pada organ dalam anak seperti ginjal dan hati. 

"Jadi kalau anak-anak sudah positif gini kita rawat biasa, yang penting happy sama ibunya, kasih susu [ASI] kasih makanan. Kalau ada gejala, ya kita rawat gejalanya," katanya 

Kendati kemungkinan anak tertular sangat kecil, dr. Kristrijogo mengingatkan agar orang tua selalu mewaspadai kebersihan daripada anak. 

Karena beberapa kasus yang ditemui di lapangan, anak menjadi silent carrier atau pembawa virus bagi orang tua yang akhirnya berdampak pada munculnya klaster keluarga. 

"Silent carrier corona adalah pembawa virus corona yang tidak mengetahui dirinya membawa virus. Bisa saja virusnya menempel di baju habis main di luar sama kawan, pulang ke rumah, namanya anak-anak langsung minta dipeluk orang tua tanpa membersihkan diri," jelasnya 

Perlu diketahui, seorang silent carrier corona dapat menyebarkan virus kepada beberapa orang. Data menunjukkan satu orang umumnya menyebarkan pada 2-3 orang. Namun pada sejumlah kasus, seseorang dapat menjadi penyebar super atau super spreader yakni menyebarkan ke 11 hingga 37 orang. 

"Jadi mulailah ubah perilaku kita. Membatasi agar anak tidak sering keluar rumah. Kalau sering keluar [rumah] akan beresiko. Kalau di rumah saja, tidak kemana-mana, otomatis akan aman. Ataupun kalau keluar rumah, saat pulang harus membersihkan diri dan mengganti pakaian," ucapnya menghimbau. 

Senada dengan itu, pemerhati anak Bukik Setiawan juga menghimbau, agar orang tua terus meningkatkan komunikasi dengan anak. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi terkait bahaya virus covid-19 terhadap anak hingga pentingnya protokol kesehatan (prokes) bagi anak. 

"Sudah sepatutnya orang tua meningkatkan kewaspadaan anak. Ajak bicara anak-anak tentang kondisi pandemi saat ini. Apa yang terjadi? Apa penyebabnya? Apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya? Kemudian ajak anak untuk berlatih melakukan protokol kesehatan," kata Bukik Setiawan kepada Surabayapagi

Untuk membangun komunikasi dengan anak kata Bukik, bisa dimulai dari obrolan-obrolan remeh antara orang tua dan anak. Tatkala komunikasi komunikasi tersebut mulai terbangun, maka orang tua akan dengan mudah mengarahkan anaknya untuk memperketat prokes. 

"Sudah selayaknya orang tua berdiskusi dengan anak tentang isu-isu penting. Bukan menyuruh atau menceramahi anak. Saya lihat ini yang justru belum dilakukan orang tua," akunya

Apabila sudah berdiskusi. Orangtua dan anak bisa membuat misi bersama untuk mengajak lebih banyak orang untuk mengikuti protokol kesehatan. 

"Semisal, menggambar dan mewarnai masker agar menarik, kemudian divideokan sehingga menarik perhatian banyak orang," pungkasnya.sem