Produksi Keripik Ceker Ayam Bermozet Rp20 Juta Tiap Bulan

Yusak mengemas jajanan keripik ceker anyam buatannya. SP/ TRG

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Berkat ketekunan dan inovasinya, Ahmad Yusak berhasil membuat tiga jenis jajan yang semua dibuat dari ayam negeri dengan omzet puluhan juta setiap bulan. Namun bukan seperti aneka olahan ayam seperti ayam goreng, ayam geprek, ayam penyet, dan sejenisnya akan tetapi berupa jajanan keripik ayam. Sebab, diyakini lebih banyak masyarakat yang tertarik makanan tersebut sebagai camilan.

Yusak sudah membuka usaha jajanan dari ayam tersebut sejak tujuh tahun silam. Itu bermula ketika dirinya pulang dari Jakarta dan bingung mencari pekerjaan. Sehingga dengan keterampilan akan membuat keripik dari ceker ayam, dirinya ingin membuka usaha tersebut di Trenggalek. Sebab, sejauh ini belum ditemukan jajanan tersebut di Trenggalek.

Selain itu proses pembuatan pun sedikit rumit pada proses pemisahan, terbilang proses yang paling rumit karena harus dilakukan dengan berhati-hati agar daging tidak banyak yang terbuang.

Pertama mencuci ceker ayam tersebut, setelah itu dilanjutkan dengan merebusnya sekitar 15 menit selanjutnya dipisahkan antara daging ceker dengan tulang. Baru setelah itu dijemur sekitar satu hari yang dilanjutkan proses pengovenan dan terakhir digoreng. Setelah keripik ceker ayam dingin, barulah proses pengemasan yang selanjutnya dijual.

Sedangkan untuk proses penjualan, Yusak menitipkan ke toko-toko hingga warung makan kecil. Sehingga saat itu dirinya harus mengeluarkan modal dua hingga empat kali lipat karena barang yang dititipkan tidak langsung menghasilkan uang. Namun, dirinya harus tetap produksi untuk stok esok harinya.

Kini keripik ceker ayam buatannya sangat diminati, khususnya sebagai tambahan lauk karena rasanya yang gurih. Sehingga banyak toko maupun warung makan yang dulunya hanya dititipi, sekarang malah langsung membelinya karena pelanggan mereka banyak yang suka. "Daripada toko swalayan atau pusat oleh-oleh saya lebih memilih mengambil segmen pasar warung makan atau kafe karena lebih cepat habis," imbuhnya.

Selain itu, dirinya juga mengembangkan jajanan olahan ayam lainnya seperti keripik usus dan kulit ayam. Hasil produksinya bisa dijual di beberapa kota seperti Kediri, Tulungagung, dan sebagainya dengan omzet minimal Rp 20 juta setiap bulan. Dsy2