Proyek Risma Senilai Rp 208 Miliar, Mangkrak

Ilustrasi karikatur

 

 

Jembatan Suroboyo Kenjeran yang Diresmikan Juli 2016 Gunakan Dana APBD, Sebelum Pandemi Sampai Setelah Pandemi Terbengkalai. Padahal Risma Pernah Gembar-gemborkan Dapat Tingkatkan Ekonomi Kawasan Sentra Ikan Bulak (SIB) dan Hiburan Air Mancur

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Masih ingat Jembatan Suroboyo yang berada di wilayah Kenjeran? Megaproyek Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang diresmikan 9 Juli 2016 silam, dengan anggaran APBD Surabaya sebesar Rp 208 Miliar. Hingga Kamis (5/11/2020), mandek tak berfungsi sebagaimana fungsi jembatan pada umumnya. Padahal, saat peresmian Juli 2016 lalu, Risma gembar-gembor akan menyajikan Air Mancur Menari dan untuk meningkatkan ekonomi kawasan Sentra Ikan Bulak (SIB). Ironisnya, sebelum pandemi Covid-19 hingga berjalan pandemi Covid-19 hampir 9 bulan, Jembatan Suroboyo mangkrak dan ditutup. Bahkan, hanya dipakai sekelompok anak muda untuk berswafoto dan berjoget di media sosial. Para pedagang di SIB Kenjeran pun sudah menjerit, karena sejak adanya Jembatan Suroboyo, ekonomi mereka tak terangkat. Ada apa jembatan kebanggannya bu Risma? Kok bisa begini…?

Jembatan Suroboyo yang berada di kawasan Surabaya Timur merupakan proyek Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk meningkatkan ekonomi di kawasan Surabaya Utara khususnya di Kenjeran. Selain itu, sebagai tempat wisata. Namun sayangnya, proyek dengan ber-APBD Rp 208 Miliar tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Bahkan terlihat mangkrak.

Tak heran, dalam debat perdana Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 2020, Rabu (4/11/2020) malam, pasangan calon (paslon) nomor urut 2, Machfud Arifin-Mujiaman, sempat melontarkan sindiran ke paslon nomor urut 1 yang diusung petahana Wali Kota Risma. Sindiran MA-Mujiaman itu terkait pembangunan Pemkot Surabaya dinilai belum berpihak kepada wong cilik. Salah satu yang disoroti yakni pembangunan Jembatan Suroboyo di Kenjeran dengan anggaran lebih dari Rp 200 Miliar.

“Skala prioritas terhadap rakyat kecil Anda tidak empati kebutuhan pasar di Surabaya tidak ada yang baik, bangun jembatan sudah roboh. Apakah itu berpihak pada masyarakat kecil yang tiap hari berinteraksi di pasar?” kata Machfud Arifin. “Bahkan, pembangunan jembatan Rp200 miliar, yang saya tahu dipakai TikTok-an Pak Armuji. Apa ini prioritas? Apa yang anda kerjakan untuk memperbaiki ekonomi Surabaya?,” timpal Mujiaman, calon wakil Machfud.

 

Jadi Ajang Swafoto

Dari sindiran paslon nomor urut 2 MA-Mujiaman itulah, membuat tim harian Surabaya Pagi dan SURABAYAPAGI.com, melihat langsung di lokasi Jembatan Suroboyo dan Sentra Ikan Bulak, Kamis (5/11/2020).

Jembatan Suroboyo yang menghubungkan Bulak Kenjeran dengan Sukolilo, tampak udara hanya seperti kurva melingkar. Berbeda dengan jembatan pada umumnya yang difungsikan sebagai sarana penghubung transportasi dan meningkatkan ekonomi. Bahkan, jembatan itu ditutup dengan pembatas barrier jalan. Baik dari arah Sukolilo ataupun dari Bulak Kenjeran. Meski ada penjagaan petugas Linmas, tetapi ada beberapa warga masih bisa keluar masuk, hanya untuk berswafoto dan bermain sepeda.

Alasan penutupan, dari petugas Linmas itu, yakni karena pandemi Covid-19. “Ditutup mas, karena pandemi ini,” jawab salah satu petugas Linmas, Kamis (5/11/2020). Saat ditanya, penutupan hingga kapan, petugas Linmas itu mengatakan penutupan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Meski ditutup, tetapi mereka sepertinya kecolongan dengan warga-warga yang berswafoto di jembatan kenjeran. 

Jembatan Surabaya atau Jembatan Kenjeran memiliki panjang 800 meter dengan lebar 18 meter dan tinggi 12 meter yang ditahan dengan 150 tiang pancang tersebut memiliki fasilitas anjungan tetapi juga ditutup sebelum adanya pandemi Covid-19.  Jembatan dibangun melingkar dengan pemandangan air mancur di tengahnya. Hal itu pengunjung yang ingin naik ke anjungan hanya dibuka khusus hari Sabtu Minggu itupun dengan waktu terbatas.

 

Tak Berdampak Ekonomi Warga

Berdasarkan penggalian data dari warga sekitar, jembatan tersebut ditutup sebelum adanya virus Covid-19. “Lha sak durunge virus Corona ae wis ditutup mas. Apalagi saiki, ada pandemi, sudah ditutup total,” tutur Wiwik, penjual ikan asin di Sukolilo Lor, saat ditemui SurabayaPagi.com, Kamis (5/11/2020).

Bahkan, secara penghasilan sehari-hari, Jembatan Suroboyo Kenjeran itu pun juga masih belum berdampak bagi Wiwik. “Bahkan sejak awal dibangun, yah gak ada efeknya sama sekali bagi kita-kita ini. Sepi. Untung-untungan ae mas, kadang Sabtu-Minggu juga kalau ada yang jalan-jalan. Ada yang beli,” tambah Wiwik.

Hal itu juga dirasakan pada sektor Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) terutama daerah Sukolilo banyak pedagang kerupuk, terutama sejak ditutupnya Taman Hiburan Pantai Kenjeran yang menjadi sumber perekonomian masyarakat setempat.

Rubin, pedagang kerupuk yang awalnya di THP Kenjeran, sekarang harus pindah ke rumah masing-masing, dikarenakan THP Kenjeran ditutup sudah berjalan 8 bulan. Saat ditanya terkait adanya Jembatan Suroboyo sejak dibangun Pemkot Surabaya apakah bisa berdampak pada ekonomi para pedagang. Rubin menggeleng kepala. “Penghasilan tidak ada sama sekali bahkan mati total. Ada Jembatan itu (Jembatan Suroboyo, red) yah gak berdampak bagi kita. Boong aja kalau bisa naikkan ekonomi kita, mas. Duuhhh… podho ae,” tegasnya.

 

Buka Tutup

Sebelumnya, dari pantauan Surabaya Pagi, Jembatan Suroboyo Kenjeran ini buka tutup hingga dua kali. Sejak diresmikan Juli 2016, rencana pembukaan dilakukan setiap hari dengan memberikan wahana air mancur menari setiap hari. Namun baru berjalan beberapa minggu, wahana air mancur menari itu hanya dibuka seminggu satu kali, yakni setiap hari Sabtu malam.

Berjalan hingga tahun 2018, jembatan Suroboyo Kenjeran kembali ditutup. Dengan alasan sedang perawatan pengecatan. Saat itu, M Fikser saat masih menjabat Kasubbag Humas Pemkot Surabaya, menjelaskan soal penutupan Jembatan Suroboyo itu. “Jembatan Suroboyo ditutup karena sedang ada pemeliharaan. Tetapi lebih jelasnya dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan, karena mereka yang melakukan pemeliharaan jembatan selaku dinas teknis," ujar Fikser, 17 September 2018 lalu. Kemudian, Jembatan Suroboyo dibuka lagi Februari 2019.

Bahkan, saat itu, Fikser juga mengungkapkan jika pembukaan Jembatan Suroboyo saat itu juga agak dipaksakan, karena kemungkinan biaya pemeliharaan yang cukup besar. Karena pembukaan Jembatan Suroboyo “dipaksakan” Risma untuk menjamu kedatangan delegasi United Cities and Local Government (UCLG) Asia-Pacifik (Aspac). Saat pembukaan itu, Risma sendiri menjelaskan Jembatan Suroboyo bisa mendongkrak pertumbuhan perekonomian warga di pesisir pantai Kenjeran. Serta dapat mengurangi kemacetan di wilayah sekitar Kenjeran.

Terkait untuk mengurangi kemacetan, Pemkot juga pernah dikritik Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota dari Institute Teknologi 10 November (ITS) Surabaya, Ir Putu Rudy Setiawan, M.Sc. Menurut Putu Rudy, Jembatan Suroboyo tidak ada kaitannya dengan akses mengurangi kemacetan. Justru hanya sebagai pemanis dan objek wisata.

“Jika ada yang punya persepsi bahwa jembatan tersebut mempunyai fungsi penting sebagai penghubung transportasi hingga menyusuri timur, salah besar. Jembatan itu hanyalah bagian objek wisata saja. Hanya pemanis saja,” jelas Putu Rudy, saat dihubungi Juli 2016 lalu.

Bahkan, saat dibuka Juli 2016 lalu, hingga kini, juga masih membuat banyak kecewa warga Surabaya. “Dengan hanya diberikan janji, bahwa jembatan sudah menuju kualitas internasional, dengan punya air mancur yang nyala cuma kurang dari 2 jam dan sekali seminggu, itu sama saja membohongi publik. Bahkan saya lihat, jadi bahan tertawaan di media sosial. Jelas ini tidak sebanding dengan biaya pembangunannya,” beber Putu. tyn/pat/ana/cr3/rmc