Rangkul Semua Difabel Jadi Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas

Sudarwanto. SP/ TRG

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Sudarwanto yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor, di Jalan Raya (Organda) Trenggalek sekaligus termasuk penyandang disabilitas (difabel) tunarungu merangkul para tunarungu di Trenggalek untuk menjadi sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas).

Keinginan tersebut bernula Pada titik persimpangan jalan di wilayah perkotaan Bumi Menak Sopal selalu ramai aktivitas dan sering terjadi kemacetan. Bahkan berujung kecelakaan, hal itulah yang membuat Sudarwanto untuk membentuk supeltas para tunarungu yang diberi pembekalan khusus oleh polisi lalu lintas (polantas) tentang cara mengatur kendaraan di jalan dan melakukan pertolongan jika terjadi kecelakaan di jalan raya.

Dengan wadah tersebut, keakraban mereka bisa meningkat. Sebab, setiap dua minggu sekali selalu berkumpul dan setiap satu bulan sekali melakukan anjangsana ke kediaman kelompok. "Kini ada tujuh titik yang dijaga anggota supeltas. Seperti simpang tiga Rejowinangun, polres lama, Jembatan Ngantru, Taman Basuki, Gedung Serba Guna, Stadion Menak Sopal menuju kantor kementerian agama (kankemenag), dan Ngetal," jelasnya.

Dari situ, Wanto berkonsultasi dengan Satlantas Polres Trenggalek tentang keinginannya untuk membentuk supeltas yang anggotanya para tunarungu. Bersamaan itu, dirinya juga mengirimkan surat ke Pemkab Trenggalek tentang memasukkan para tun rungu dalam wadah organda agar tidak liar. Ternyata keinginan tersebut disambut baik jajaran satlantas yang mau memberikan pelatihan tentang cara mengatur lalu lintas hingga memberikan pertolongan jika ada kecelakaan.

Sedangkan untuk jadwal, mereka yang menentukan sendiri. Sebab, beberapa anggota juga memiliki kesibukan lain. Untuk jadwal, mulai pagi hingga sore karena satlantas tidak menganjurkan penjagaan pada malam hari. Selain karena arus kendaraan yang tidak padat, juga memikirkan keselamatan anggota supeltas.

Bahkan, kini banyak permintaan yang dilayangkan masyarakat agar supeltas ditempatkan di beberapa persimpangan lain. Seperti area Kecamatan Gandusari karena telah ramai. Namun, belum terealisasi karena keterbatasan anggota.

Selain itu, keberadaan supeltas tersebut membuat pengguna jalan terbantu karena bisa mengurangi kecelakaan di tempat tersebut dan bisa mempermudah penyeberangan. Mereka pun tidak sungkan-sungkan memberikan imbalan atas jasa kepada para anggota Supeltas.

Ada daerah lain seperti Banyuwangi dan Tuban yang akan melakukan studi banding tentang cara memfasilitasi tunarungu untuk masuk dalam supeltas. "Dengan ini, mereka memiliki kebanggaan tersendiri karena berguna bagi masyarakat, selain juga memiliki mata pencaharian baru. Sebab, setiap harinya mereka bisa mendapatkan penghasilan antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu dan organisasi tidak meminta mereka untuk membayar iuran," jelas Wanto. Dsy7