Raup 50 Juta Perbulan dengan Bisnis Budidaya Tanaman Anggrek

Trihadi Mulyono. SP/ KDR

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Selain aktif bekerja sebagai pegawai di Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Kediri, Trihadi Mulyono menghabiskan waktu luangnya untuk mengelola bisnis budidaya tanaman anggrek. Sebanyak ribuan anggrek terdiri dari berbagai varietas, antara lain jenis anggrek dendrodium, anggrek bulan, anggrek macan, kateliya dan ragam varietas lainnya.

Mengembangbiakan tanaman ini sedikit sulit apabila tanaman epifit ini berada di musim penghujan. Tungau, cendawan atau jamur, trips, ulat, dan berbagai macam hama, banyak menyerang ketika udara lembab. Meski sudah terlindungi, upaya preventif tetap dilakukan dengan memberi ramuan fungisida atau pembasmi hama.

Oleh karena itu, Trihadi mendirikan green house menggunakan plastik Ultra Violet (UV) sebagai atap. Jaring paranet  atau penahan panas dibentangkan mengitar, berfungsi sebagai dinding. Plastik UV dan jaring berguna untuk menstabilkan tekanan udara dan angin, agar suhu tidak terlalu lembab maupun terlampau kering.

Di samping itu, green house tersebut juga berfungsi untuk membentengi anggrek dari berbagai hama tanaman. Bunga anggrek tersebut ditaruh pada media tanam seperti sabut kelapa, akar pakis, akar kadaka, dan arang.

Untuk menarik konsumen, dia memanfaatkan akun media sosial pribadi. Kebanyakan pembeli via online berasal dari hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia. Wilayah terjauh yang pernah dikirim, yaitu ke Kota Tual, Provinsi Maluku.

Salah seorang di antaranya, yaitu Hadi Purnomo. Warga yang tinggal di Perumahan Wilis Indah ini mengaku sudah lama menggemari anggrek. Dia mengetahui informasi tentang usaha yang digeluti Trihadi dari teman kerjanya.

Setiap jenis anggrek yang dijual, dikenakan harga bervariasi, tergantung model dan usia masa tumbuh. Untuk kategori remaja, dipatok harga dengan kisaran 38 hingga 70 ribu. Sementara dewasa atau yang siap berbunga, antara 50 hingga 120 ribu. Dalam sebulan, sekitar 500 pot anggrek laku terjual.

Jika dirata-rata, keuntungan yang diraup berkisar 35-50 juta rupiah per bulan. Angka tersebut belum dikurangi ongkos perawatan dan modal membeli bibit. Dari keuntungan berbisnis anggrek, Trihadi dapat merenovasi rumah, menyekolahkan anak, dan membeli 1 unit mobil.

Trihadi berharap kedepannya ia dapat mendirikan laboratorium yang memproduksi bibit anggrek secara mandiri. Modal terbesarnya, yaitu  teori sudah dikuasainya sewaktu duduk di bangku kuliah. Di samping itu, pengalaman yang didapat ketika bergelut di dunia pertanian selama belasan tahun, membuatnya semakin yakin dengan semangat yang menyala-nyala. Dsy7