Rintis Komunitas ISCO Dikalangan Anak-Anak Hingga Remaja

Salah satu anak didik Cahyadi Agung Kurniawan, yang sudah pandai memainkan inline skate. SP/ TRG

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Dimulai sejak kasus Covid-19 melandai di Kabupaten Trenggalek, sektor wisata termasuk RTH tak lagi dilarang untuk dikunjungi. Kebijakan itu membuat masyarakat mulai memberanikan diri untuk membuat kegiatan di Alun-alun Trenggalek. Komunitas-komunitas muncul kembali, salah satunya Cahyadi Agung Kurniawan, Owner ISCO Kabupaten Trenggalek.

Inline skate (sepatu roda jenis sejajar, Red) merupakan salah satu jenis olahraga yang menggunakan sepatu roda itu mulai menarik perhatian masyarakat. Apalagi pada kalangan anak-anak hingga remaja di Kabupaten Trenggalek.

Cahyadi Agung Kurniawan yang kerap disapa Agung ini mengaku merintis ISCO sejak 2017. Awalnya, anak didik Agung hanya empat anak. Namun seiring waktu, peserta didiknya bertambah hingga 40 anak. "Pernah juga diminta untuk melatih polwan untuk patroli sepatu roda," ujarnya, Minggu (2/5/2021).

Agung mempelajari olahraga itu secara otodidak. Namun, dirinya konsisten, hingga kini dia menjadi seorang pelatih. "Sejak awal sudah tertarik dengan sepatu roda dibanding skateboard," katanya. Owner ISCO Kabupaten Trenggalek itu.

Berkaca dari pengalamannya, Agung termotivasi mengembangkan komunitas inline skate di Bumi Menak Sopal. Dia pun menargetkan, inline skate dapat masuk ke cabang olahraga agar anak-anak didiknya bisa beradu kemampuan melalui event-event inline skate. "Meski kita sudah masuk Perserosi, kita kan belum diwadahi sama KONI. Diharapkan ketika kami punya atlet mulai pemula hingga profesional, bisa kami ajukan menjadi atlet," tegasnya. 

Sebenarnya, inline skate adalah jenis olahraga yang cukup berbahaya atau sebelas-duabelas dengan skateboard. Namun, kedua jenis olahraga itu memiliki teknik. Dengan menguasai tekniknya, dapat mengurangi risiko jatuh. Perbedaan itu terletak pada settingan roda yang lebih rapat untuk pemula dan settingan roda licin untuk yang mulai menguasai tekniknya.

Namun, membutuhkan teknis khusus untuk melatih keseimbangan di atas sepatu roda. Diantaranya, settingan rapat membuat roda tak bisa berputar dengan lancar. Sehingga inline skate pemula hanya belajar berjalan di atas sepatu roda. Sedangkan untuk settingan licin. Itu membuat roda berputar dengan maksimal.

Agung mengatakan, beberapa anak yang pernah dilatihnya dulu sudah tumbuh di usia remaja. Mereka lihai memainkan inline skate. Itu mereka tunjukkan ketika Agung menaruh puluhan gelas kosong secara sejajar dan memberikan beberapa gawang sebagai rintangan. Kemudian puluhan anak didiknya, dari usia dini hingga remaja melewati setiap rintangan tersebut. Dsy1