Home / Opini : Kasih Karunia

Sahabat Muslim

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 19 Nov 2023 20:55 WIB

Sahabat Muslim

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ada teman beragama katolik yang bersahabat dengan teman beragama Islam. Bila sahabatnya Umroh, ia mengantar. Sebaliknya, bila teman saya ke Israel, sahabatnya diajak. Persahabatannya bikin orang kagum.

Usut punya usut, keduanya berbisnis bareng. Kini teman meninggal dunia, sahabat muslim jadi murung. Saya pun kagum. Keduanya bisa jadi contoh sikap bersahabat, tidak saling curiga. Keduanya menunjukan toleransi.

Baca Juga: Iblis

Teman pernah bilang beragama memang harus dijunjung tinggi sebagai pedoman hidup menuju keselamatan. Teman bilang persahabatnya bisa tidak menguntungkan semua manusia. Terutama hadapi fanatisme agama yang berlebihan.

Bagi teman, fanatisme agama berlebihan akan merugikan perkembangan pribadi, menjadikan buta nalar, berpikiran sempit, picik dan berwawasan dangkal. Cenderung menutup diri dan memperkuat sikap eksklusif.

Sebagai pemeluk Katolik saya punya teman sepeti dia cukup beruntung. Saya beryukur, dia bisa dijadikan kawan yang wawasannya berbineka.

Baca Juga: Kekuasaan

Saya jadi ingat, Gereja mengeluarkan dokumen-dokumen yang menjadi acuan ajaran-ajaran dasar Gereja. Diantaranya ada beberapa dokumen. Konstitusi dogmatik Lumen Gentium, Katekismus Gereja Katolik dan Deklarasi Nostra Aetate. Ini menjadi landasan sikap Gereja Katolik terhadap Islam.

Saya bersaksi, Gereja Katolik menyatakan sikap hormat terhadap agama dan penganut agama Islam.

Gereja Katolik juga dengan terbuka menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belas kasihan dan Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia.

Baca Juga: Imlek, Berbagi Kasih

Juga Katekismus Gereja Katolik (KGK) nomor 841 mengulang kembali penegasan LG ; di antara mereka terdapat terutama kaum Muslimin, yang menyatakan, bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat" (LG 16)

Selain, Deklarasi Nostra Aetate (NA) artikel 3 menegaskan : Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham – iman Islam dengan sukarela mengacu kepadanya – telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormati-Nya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan hari pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit. Maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dan memberi sedekah dan berpuasa. (Maria Sari)

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU