SAMTAKU Lamongan Kedatangan Konsulat Jenderal AS

Perwakilan Konsulat Jenderal AS Surabaya saat melihat langsung TPST SAMTAKU. SP/MUHAJIRIN KASRUN

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Sampahku Tanggung Jawabku (SAMTAKU) kedatangan Wakil Pejabat Politik dan Ekonomi Konsulat Jenderal AS Surabaya, Clint Shoemake bersama rombongan, kemarin.

Clint Shoemake mengungkapkan kedatangannya ke TPST Samtaku tak lain untuk mencari gambaran dan inovasi yang bisa diterapkan di kota Surabaya dalam menciptakan TPSP modern untuk mengurangi sampah.

“Kedatangan kami ke Lamongan untuk melihat sistem di Samtaku ini atau mungkin nanti ada ide-ide yang bisa kami bawa ke Surabaya, bagaimana sistem itu berfungsi, dan kemungkinan nanti tidak sebesar di Samtaku tapi mungkin lebih kecil.,” ucapnya.

Menjadi salah satu isu yang dibawa yakni mendaur ulang sampah menjadi bernilai guna, Clint Shoemake bersama rekannya, Ted Kulongoski (Ekonomic officer) dan James Cressman (Fasility Manager) mengaku antusias mendatangi TPSP Samtaku untuk belajar lebih tentang mengolah dan mengelola sampah menjadikan Indonesia jauh lebih indah.

“Today is very special day, because not only the political economic team came. But we also brought from Colleagues and friends from consulate who are passionate about the issue of waste, recycling and making Indonesia much prettier and lest dicty places with a lot of trash,” tambah Clint Shoemake.

Artinya: Hari ini adalah hari yang sangat spesial, karena bukan hanya tim ekonomi politik yang datang. Tapi kami juga mendatangkan dari rekan-rekan dari konsulat yang sangat antusias dengan isu sampah, daur ulang dan menjadikan Indonesia jauh lebih indah dan tidak kumuh dengan banyak sampah).

Menanggapi kedatangan Wakil Pejabat Konsulat Jenderal AS Surabaya, Bupati Yuhronur Efendi menjelaskan tak hanya memiliki kelebihan dalam supporting government, TPST Samtaku juga dilengkapi dengan easy technology dengan RDF (teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers). Nantinya dengan RDF ini sisa yang tidak bisa didaur ulang akan dipadatkan menjadi pelet dan digunakan sebagai bahan pembakaran pabrik mitra di Bali.

Melalui kecanggihan teknologi tersebut, sampah yang masuk pada Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Tambakrigadung yang awalnya 50 sampai 60 ton per hari, menjadi 6 hingga 10 ton per hari (hanya residu). Dengan itu dibarengi penanganan yang turut meningkat menjadi 77,5 persen dari yang sebelumnya hanya 45,5 persen. Sehingga diikuti dengan pengurangan sampah, dari semula 8,9 persen menjadi 22,5 persen.

Disebutkan olehnya, pemilahan sampah tidak hanya memberikan dampak finansial bagi masyarakat, namun juga membantu mempermudah sistem pengolahan limbah di Kabupaten Lamongan.  Dampak positif dari pengolahan sampah di TPST Samtaku ini sejalan dengan turut meningkatnya penanganan sampah di Kabupaten Lamongan.

"Bahkan TPST Samtaku Kabupaten Lamongan menjadi projek percontohan TPA yang ada di Indonesia,” pungkasnya. jir